Stories

Bahagia di atas kebahagiaan orang lain

 

Beberapa hari yang lalu saya nemu feed nya ummu balqis tentang bahagia. Jadi bagaimana kita bisa bahagia dalam hidup kita, maka bahagia lah atas kebahagiaan orang lain.

Bagi saya ini adalah hal yang sudah lama saya ketahui. Namun prakteknya saya sering banget iri hasad dan dengki atas kebahagiaan orang lain. Saya pernah malah nulis di blog ini betapa saya iri dengan kebahagiaan teman saya yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang saya impikan.

Dulu cita cita saya receh banget. Pengen ke luar negeri gimana pun caranya. Nah saya dikelilingi oleh teman2 yang aktif organisasi, ikutan konferensi ilmiah, ikut MUN, dll yang mana pelaksanaannya diluar negeri. Pas tau mereka akan berangkat, saya irinya keterlaluan. Hasadnya keterlaluan. Dengkinya juga keterlaluan. Astaghfirullah.. Semoga Allah memaafkan dosa saya yang dahulu.
Padahal saya tahu bagaimana banting tulangnya mereka ikhtiar atas pencapaian tersebut. Kurangnya waktu tidur untuk persiapan tersebut dan berapa biaya yang harus mereka keluarkan sendiri untuk berangkat keluar negeri. Ya walaupun ada sponsor teteup aja mereka harus keluar uang untuk hal2 mendasar seperti passport, visa dan alat2 harian mereka. Saya tau itu tidak mudah bagi mereka. Namun iri hati tsb mudah sekali menyusup ke dalam dada. Dan rasanya benar2 sakit. Sangat tidak menyenangkan perasaan tersebut pemirsa..
Saya jadi banyak2 istighfar mengingat kejadian tersebut.
Nah, dikala jaman instagram sedang merajalela, penyakit tersebut semakin menjadi2. *istighfar
Ya semua orang memosting saat2 bahagianya dong. Karna saya pun bertingkah laku seperti itu. Tidak mungkin saya melapor suasana hati yang buruk, kegagalan mendapat beasiswa, gagal tes cpns, jodoh yang ga dateng2, sedang berantem sama adik atau rekan kerja dan lainnya..
No no no, big NO!

Di umur menjelang seperempat abad saya ikutan galau juga tuh. Teman2 banyak posting undangan pernikahan dan indahnya dunia pernikahan. Ketebak dong ya kalo saya ikutan dengki juga. Naudzubillahi min dzalik iim 😦

Entah kenapa setelah baca postingan tersebut saya jadi sadar. Padahal kalimat tersebut sering saya dengar dan saya jadikan tameng agar iri hati dapat disembuhkan walau tetep aja disituasi lain suka menyusup tuh si hasad tanpa saya sadari.
Qadarullah, saya yakin ini atas kehendak Allah dan hidayah Allah. Saya sering berdoa agar diberi hati yang bersih (qalbun salim) , akidah yang baik, akhlak yang sopan dan santun, lisan yang baik dan dijauhi dari penyakit hati seperti hasad, riya, ujub, sombong, dll..
Seriing banget saya doa kaya gini dibanding doa minta jodoh. Bahkan saya sempat berpikir tuh. “Kok susah banget ya saya melaksanakan tugas jadi manusia. Dikit2 saya salah ngomong, kadang suka nunjukin muka masam, jarang senyum, suka marah2, suudzon sama orang lain, ghibah namimah, kalo ngomong suka nambahin data yang dikarang2, bercanda kelewatan bahkan suka bohong. Ya Allah, susah amat jadi manusia. Mendekati kepribadian Nabi Muhammad aja ngga. Gimana bisa lolos jadi ummat Nabi Muhammad iim tuh ya Allah.. 😦 ” Suka pesimis akutu orangnya. Yang dipikirin ada2 aja.

Tapi saya berubah jadi pribadi yang optimis sedikit demi sedikit. Emang dimulai dari ikut bahagia dan mendoakan kebahagiaan orang lain. Baca kabar bahagia teman2, saya coba ikutan bahagia. ” Masya Allah Alhamdulillah si X dapat beasiswa LPDP ke luar negeri. Hebat banget. Akhirnya doanya dikabulkan juga. Dia memang pantas mendapatkannya. Semoga S2 nya lancar dan dimudahkan ya Allah”
Trus ada lagi kabar kelahiran anak pertama teman “Tabarakallah.. semoga Allah memberkahi keluarga mereka dengan kehadiran anak pertamanya. Mereka orang2 baik, insya Allah disayang sama Allah. Semoga Allah menambah kebahagiaan keluarga mereka. Aamiin”

Dan tiba2… semua iri hati hilang. Hasad hilang. Dengki hilang. Allahu Rabbi.. semudah itu Allah membolak balikkan hati. Semudah itu Allah membersihkan hati. Ya Allah..iim meleleh atas nikmat iman dan nikmat qalbun salim yang telah Engkau berikan. Masya Allah.. Tabarakallah iim… Alhamdulillah..

Ternyata dengan ikutan bahagia di atas kebahagiaan orang lain menambah kebahagiaan kita sendiri berkali2 lipat. Ini sama saja kayak mendakwahi orang lain. Atau menjadi guru. Pahala yang didapat berkali2 lipat. Alhamdulillah..
Dari dulu pengen bahagia caranya bersikap cuek karena ngurus hati aja susahnya minta ampun. Ternyata jawabannya itu. Mudah banget ternyata.
Alhamdulillah Alhamdulillah.
Ikrim, pariaman

With Love

Advertisements
Stories

Dewasa

Hari ini saya menemui dosen2 saya pas kuliah S1 dulu. Mau meminta surat rekomendasi untuk LPDP awalnya. Bermaksud ingin mendapat rekomendasi dari dosen pemimbing dulu tapi qadarullah beliau2 berhalangan hadir. Atas qadarullah juga saya akhirnya bertemu dengan Herr Ending yang dengan kemurahan hatinya bersedia untuk memberi rekomendasi kepada saya. Alhamdulillah senangnya.
Pa ending yang terkenal dengan wibawa dan kharismatiknya beliau membuat saya merasa terhormat diberi rekomendasi. Sesenangnya itu saya..
Diakhir pertemuan saya meminta nasihat kepada si bapak. Dan beliau langsung memberi nasihat kepada saya tentang “dewasa”.
“Sekarang kamu sudah dewasa. Sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk diri sendiri. Apabila sudah memilih satu hal, maka konsistenlah pada apa yang menjadi pilihan. Jangan gampang menyerah. Jangan menyalahkan keadaan. Seorang dewasa itu dia pandai bersikap dan mengambil resiko. Jika nantinya kamu berhasil untuk lanjut kuliah, maka bersungguh-sungguhlah dengan takdir tsb. Dengan pilihan tersebut. Jangan malas malasan. Berilah hasil terbaik. Ingat juga doa orang tua itu perlu. Ridho orang tua itu harus. Karna percuma kamu mengusahakan sesuatu hal tapi ridho dan restu orang tua tidak dapat. Jalinlah komunikasi yang baik dengan mereka. Patuhilah mereka. Jika belum mendapat ridho atas sesuatu hal, maka bicarakanlah baik2. Sebagai manusia dewasa, bicarakanlah sesuatu dengan baik. Tidak menggunakan ego seperti disaat kita masih kanak2. Semoga sukses rencana2mu ikrim”

Tidak lupa pula saya meminta nasihat dari pa dani. Beliau pun bilang: “konsisten ikrim. Jangan menyerah. Semoga berhasil!”

Kalimat yang mirip dengan pa ending.. masya Allah Alhamdulillah Tabarakallah. Ini baru awal dari keinginan untuk lanjut S2 lagi. Semoga Allah mudahlan niat baik ini. Terimakasih bapak2 dosen. Hatur nuhun pisan. Danke schön. Saya dapat banyak pelajaran hari ini. Dan tidak ada yang kebetulan semuanya atas kehendak Allah…

Oiya, terakhir saya minta foto bareng sama pa ending. Untuk penyemangat bahwa saya sudah sejauh itu terbang dari padang ke bandung untuk bertemu mereka. Hihi.. jadi ga boleh menyerah nih 🙂
Bagaimana dengan teman2, sedang memperjuangkan apa saja saat ini?

With love, ikrim.
Bandung
1 November 2018

Stories

Memeluk diri sendiri

Ada saatnya saya ingin memeluk diri sendiri dengan erat dan berkata:
“Kamu hebat”
“Kamu tidak melakukan kesalahan yang fatal”
“Kamu baik baik saja..tidak ada yang perlu disesali lagi. Jangan selalu melihat masa lalu. Biar masa lalu menjadi pelajaran”
“Berhentilah menyesal, bersedih dan mengeluh”
“Kamu sudah sampai di titik ini dengan iman yang kuat dan mental yang sehat itu sudah cukup”
“Jangan sedih, kamu tidak sendiri. Ada aku, dirimu sendiri yang akan selalu mendukung apapun langkah baik yang akan kamu ambil”
“Sekarang tersenyumlah, dengan senyum penuh bahagia”
“Sekarang lepaskanlah segala gundah gulana dan keresahan yang menghimpit di dada”
“Sekarang maafkanlah dirimu yang dahulu. Maafkanlah segala khilaf dirimu yang lalu dan bertobatlah”
“Tidak ada yang membencimu, tidak ada yang memarahimu, tidak ada yang menghina dan mencercamu”
“Aku akan berikan kamu pelukan yang hangat dan akan kuberi energi kebaikan kepadamu”
“Teruslah maju dan tersenyumlah di sisa waktumu di dunia. Semoga senyummu terus mengembang sampai di akhirat dan di surga kelak”
Aamiin

Dari ikrim teruntuk ikrim.
Bandung
31 10 2018

A Daily Note of My Journey

Dear You,

Hari ini, jika air matamu tiba-tiba turun karena tak sengaja mengingat pengalaman pahit bersama seseorang yang pernah menyakiti hatimu dengan sangat parah…

jika tubuhmu tiba-tiba bergetar hebat karena memori menyedihkan itu berusaha memukulmu mundur saat kau berusaha berdiri tegak maju ke depan menuju masa depan yang cerah…

Maka ingatlah do’a yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Ummu Salamah r.a. ketika Ummu Salamah baru saja kehilangan suami tercintanya gugur di medan perang:

“Allahumma ‘ajurni fi musibati wa khluf li khairon minha”

“Ya Allah, berikan aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku yang lebih baik daripadanya”

Do’a ini terus menerus diulang-ulang oleh Ummu Salamah dengan keyakinan penuh bahwa Allah pasti mengabulkan do’anya. Allah Maha Mendengar, Allah Maha Penyayang, do’a Ummu Salamah terjawab sudah ketika Allah memberikan Rasulullah SAW sebagai pendamping hidupnya yang baru.

Teruntuk dirimu yang sedang sedih hatinya, ucapkanlah do’a itu selalu, ya. Semoga Allah menghapus memori sedih itu dengan datangnya seseorang yang berkali-kali lipat lebih baik dalam kehidupanmua yang baru.

Oleh : Nadhira Arini

Ditulis kembali sebagai pengingat diri yang lemah ini.

Stories

Ending Scene

Ketika mendengar kabar tersebut, saya tidak bereaksi apa-apa. Anehnya, saya tetap tenang dan sudah memprediksikan hal tersebut akan terjadi. Ya, firasat buruk memang selalu benar. Tanda-tandanya sudah terbaca sejak 3 bulan sebelumnya, namun saya menepis perasaan tersebut. Meyakinkan diri sendiri bahwa pilihan ini adalah yang tepat. Semesta pun mengaminkannya dengan memudahkan jalan-jalan yang saya inginkan. Disetiap sujud saya berdoa, memperbanyak istikharah dan sholat malam agar tidak ada banyak perbedaan pendapat di antara kami.

Ajaib, semua berlangsung dengan mulus. Orang bilang, “ini jalanmu insya Allah. Semua serba cepat dan semua begitu dimudahkan”. Saya pun mengaminkannya dengan penuh harap namun tetap was-was. Pertemuan pertama berlangsung dengan mudah, walau masih ada pertanyaan mengganjal. Pertemuan kedua ternyata saya diberi kejutan, namun saya biasa saja. Orang bilang nanti saya akan merasakan kupu-kupu seperti mau keluar dari perutmu, namun nihil. Dan saya melanjutkan ke tahap selanjutnya. Dan saya masih merasakan perasaan tidak enak, bahwa ini bukan pilihan terbaikmu. Karna semua hal yang terjadi begitu mudah dan lancar, pastinya patut dipertanyakan. Continue reading “Ending Scene”

Stories

WHEN THE QURAN FEELS TOO HEAVY TO ACCESS

by Misk Academy

When it feels like a ton of bricks…
There are times when Quran feels breezy and flowy – and those are the happiest moments.

But at times it feels too heavy, like your heart just can’t access it. It’s like an uphill battle trying to read or memorize a page.

Those are the times that lofty goal feels like…. it just isn’t for me. Because I’ve tried for years and years, and the results aren’t that much better. It just isn’t clicking.

That feeling of being inadequate – it’s painful.

Because you begin to think the Quran chooses people – special people – and you’re just not one of them.

I know, because I feel it sometimes too.

I was surprised to see more people felt this way too…
Whenever I send the “I Wanna Be a Hafidha Too” ebook – the response has commonly been…

“thank you, I so needed this right now. I’ve been feeling lost.”

It surprised me how many people feel this way.

Look, this is how Shaytan works.

Isolate you into thinking you’re alone in feeling this way
Makes you believe you’re inadequate
Thrives in your feelings of shame and guilt
Deprives you from accessing Quran
Every negative belief you have about your relationship with Quran – it’s a lie.

Anything that stops you from opening this blessed Book is a lie. And it’s been fed to us from more than one angle – perhaps a bad teacher or a bad experience or an internal belief. It’s on loop.

That voice is depriving you from the relationship you are meant to have
Look, the Quran is yours. It’s been waiting for you to believe you can have a relationship with it. That voice has stopped you from stepping up and stepping into a new realm of possibilities.

Because she who walks with Quran walks like she owns the world.

Doors are unlocked. Wealth flows. Happiness is found.

And you aren’t the only one who benefits. Your family does too. Even your community transforms…. by virtue of your Quran.

How it can transform your family to beacons of light
You may have heard of Fahad Al-Kandari, the “Traveller with Quran” video series guy (if you don’t, now’s the time to look that up on YouTube – Arabic with English subtitles).

He’s an Imam, Qari and pretty awesome guy.

But here’s the kicker…

His family wasn’t religious. He didn’t grow up in a house filled with Quran. He didn’t start at an early age.

His father wanted him to be a soccer player – that was his ambition for his son. His mother didn’t wear hijab. All they wanted for him was to focus on his education and his career.

It was his high school teacher – he fell in love with his voice. So he told him, look you gotta come to my office on your spare time and I will teach you Surat Al-Shura. That’s it.

He didn’t say, come let’s make you a Hafidh or a Qari. He just wanted him to memorize Surat Al-Shura – that’s 6 pages.

Fahad’s response was, “you’re dreaming“.

But his teacher planted a belief in his heart – and it all started with just 6 pages.

His parents weren’t on board at first, but with a little persistence, a dash of determination, and a whole lot of Dua…his father finally agreed to let him continue his memorization.

Within a year, Fahad completed the Quran and by virtue of this Quran…

… his father began praying all his prayers in the masjid
… his mother started wearing hijab
… his brothers followed his path in Hifdh

… and at 16, Fahad became Imam of the Grand Mosque (Kuwait) where he still leads.

Begin with just one belief and one step forward
All it took was for someone to tell Fahad he had it in him.

My dear sister… you have it in you too.

Break through the noise and open the Quran. Begin with one line. The rest will come flowing by the will of Allah.

Take a single step forward and Quran will open up to you.

Use this Dua taught to me by my teacher and I’ve never dropped it since…

يا فتاح افتح القران علي

Ya Fattaḥ, iftaḥ al-Qurana ‘alay.

O Opener of All Things, open the Quran upon me

source: Misk Academy

Stories

Belajar dari Luqman

Bismillah…
Rabu, 12 Dzulqa’dah 1439 H

*Ditulis oleh Ustadz Budi Ashari, pada web http://www.parentingnabawiyah.com

Agar Nasehat Untuk Anak Bekerja Dahsyat

Bagian 1

(Belajar dari Luqman)

Mengajari seorang anak dengan target tertentu bisa menggunakan banyak cara. Bisa dengan menasehati, menceramahi, menegur dengan lisan atau perbuatan, menghukum, dan sebagainya.

Luqman adalah potret penting dalam Al Quran yang digambarkan sebagai sosok penuh ilmu dan hikmah. Nasehatnya sebagai ayah kepada anaknya adalah satu-satunya yang diabadikan dalam Al Quran. Dari sekian banyak nasehat yang bertebaran untuk mendidik anak, ternyata hanya nasehat manusia biasa ini yang diabadikan, maka tentu ia mempunyai nilai istimewa.

Tentu, salah satu tolok ukur keistimewaannya adalah ketika rangkaian kalimat Luqman ini berhasil mengubah anaknya.

Bukankah hari ini banyak orangtua yang mengeluh tentang kalimat-kalimatnya yang nyaris tidak bekerja pada anaknya? Mereka merasa telah banyak menasehati tetapi mengapa tidak ada yang sekadar singgah di hati anaknya. Apatah lagi mengubah mereka untuk lebih baik.

Di sinilah seharusnya kita semua belajar kepada Luqman dalam rangkaian kalimatnya. Karena sekali lagi, nasehat Luqman adalah nasehat yang mampu mengubah.

Jumhurahli tafsir berkata: Sesungguhnya anak Luqman dulunya musyrik. Luqman terus menasehatinya hingga ia beriman hanya kepada Allah saja.

Bisa jadi anak Luqman dahulunya beragama dengan agama masyarakatnya di Sudan. Ketika Allah memberikan kepada Luqman Al Hikmah dan Tauhid, anaknya tidak mau mengikutinya. Maka Luqman terus menasehatinya, hingga ia mau mengikuti tauhid. (Ibnu Asyur dalam At Tahrir Wat Tanwir)

Di mana rahasianya?

Mari kita perhatikan kalimat-kalimat ayat sebelum isi nasehat disampaikan, karena di situ kuncinya,

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (12)

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13)

(12) Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

(13) Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Qs. Luqman)

Inilahdua ayat yang mengawali nasehat-nasehat Luqman. Ada dua pelajaran penting yang harus dilakukan orangtua, jika ingin nasehatnya memiliki dampak dahsyat pada anaknya.

Orangtua memiliki hikmah dan pandai bersyukur
Menasehati dengan nasehat yang sesungguhnya
Tulisan ini membahas poin yang pertama. Poin pertama ini ada dua hal:

Pertama, Hikmah

Kedua, Syukur

Kedua hal ini harus dimiliki orangtua sebelum menasehati anaknya. Ingat, sebelum menasehati anaknya!

Tapi apa itu hikmah?

Ibnu Katsir –rahimahullah- menjelaskan,

“Pemahaman, Ilmu dan kalimat bertutur.”

Siapapun yang menalaah kalimat-kalimat Luqman kepada anaknya, bisa mengetahui bahwa Luqman mempunyai ketiganya dengan sangat baik dan mendalam. Karenanya Luqman mempunyai modal besar untuk nasehatnya bekerja dengan dahsyat pada anaknya, hingga sang anak berubah menjadi manusia betauhid.

Pemahaman. Inilah pentingnya orangtua menjadi orang yang terus belajar dan mengasah otaknya agar memiliki pemahaman yang baik terhadap segala permasalahan. Sayangnya, kecerdasan orangtua hari ini hanya dibayangkan untuk pekerjaannya. Tidak untuk anak-anaknya. Karenanya, banyak para wanita yang merasa gagal ketika sekolah sampai jenjang tinggi tetapi ‘hanya’ mengasuh anak di rumah. Hingga muncul kalimat di masyarakat: buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya di rumah.

Kini, dengan pembahasan ini kita paham di mana letak kegagalan rumah tangga. Mereka tidak memperlakukan keluarganya seperti memperlakukan pekerjaannya. Maksimal di pekerjaan, tetapi sekadarnya di rumah. Tampil paling cerdas dengan pemahaman istimewa di pekerjaannya, tetapi hilang logika dan kecerdasannya untuk mengasuh anak-anak.

Ilmu. Dengan pemahamanlah ilmu bisa terus berputar dan menghasilkan. Pemahaman dan ilmu saling menopang. Ilmu perlu pemahaman yang baik dan pemahaman bisa terus terasah jika berilmu terus menerus dengan baik. Semua ilmu yang baik, pasti dan harus bermanfaat untuk mendidik anak.

Jangan merasa rugi berilmu tinggi dalam rangka mendidik anak. Jangan bakhil belajar ilmu untuk mendidik anak.

Karena tanpa ilmu, kita merasa telah menasehati, padahal tengah membongkar aib anak. Tanpa ilmu kita merasa telah menyayangi, padahal tengah menuruti syahwat anak. Tanpa ilmu kita merasa telah mendidik dengan baik dan benar, padahal tengah lari dari tanggung jawab sebagai orang tua. Tanpa ilmu kita merasa telah menjadi orang tua yang sesungguhnya, padahal kita belum bergeser dari tempat kita duduk sebagai orang tanpa ilmu yang tak pantas menjadi ayah dan ibu untuk anak-anak peradaban.

Kalimat bertutur. Ini berhubungan dengan bahasa dan cara mengungkapkan. Lihatlah sekali lagi. Alangkah pentingnya kecerdasan berbahasa bagi orang tua. Sayang sekali, ketika kemampuan berbahasa yang baik, benar dan santun hanya untuk klien pekerjaan saja. Tetapi semua kaidah bahasa itu tiba-tiba menjadi berantakan ketika bertemu anak-anak.

Orang tua harus menguasai benar cara mengungkapkan dan menyampaikan sesuatu. Dengan bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi di rumahnya. Jika harus dengan Bahasa Indonesia, maka berbahasa Indonesia lah yang benar dan baik. Jika dengan bahasa daerah, maka berbahasa daerahlah yang baik dan benar. Jika dengan bahasa lain, pun demikian. Cara bertutur, dalam bahasa kita tak hanya masalah kaidah, tetapi juga masalah intonasi. Kita harus paham, tema apa yang akan disampaikan dengan pilihan kata dan dengan intonasi seperti apa. Begitu seterusnya, kemampuan bahasa harus dimiliki oleh para orangtua agar nasehat bisa bekerja baik dalam kehidupan anak-anak.

Contoh aplikatif. Jika orangtua ingin menanamkan tentang kejujuran. Maka orangtua harus menguasai benar tentang tema kejujuran ini. Memahaminya dengan baik dari berbagai sisinya dengan ilmu. Bukan hanya definisi jujur. Tetapi berikut segala hal yang mungkin terjadi setelah orangtua menyampaikan dengan tutur bahasa yang baik dan benar. Contoh, ketika suatu hari anak menyampaikan dengan kejujurannya tentang keinginannya untuk melakukan sebuah dosa. Atau terbukti bahwa ia tidak jujur tetapi karena tekanan yang dialaminya. Semua ini memerlukan pemahaman, ilmu dan cara bertutur yang baik dan benar. Sehingga tidak salah dalam bersikap.

Itulah yang dikuasai Luqman sebelum memulai nasehatnya. Hal ini bisa dipahami dari kata (وإذ قال لقمان)huruf waw di awal ayat ini mengaitkan dengan kalimat di ayat sebelumnya. Sehingga maknanya adalah: Dan Kami telah memberikan kepada Luqman Al Hikmah, ketika itulah ia berkata kepada anaknya.

Hal ini menunjukkan bahwa Luqman mulai berkata kepada anaknya dalam rangka menasehati, setelah ia diberi Allah Al Hikmah. (Lihat tafsir At Tahrir Wat Tanwir)

Jika orang tua memiliki Al Hikmah dalam mendidik anak, maka sungguh ia telah mendapatkan anugerah sangat amat besar dalam hidupnya. Karenanya, kata setelahnya bagi Luqman adalah perintah kepadanya untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata,

“Kami perintahkan untuk bersyukur kepada Allah azza wajalla atas pemberian dan anugerah Allah berupa keutamaan yang khusus diberikan kepadanya dan tidak diberikan kepada anak-anak negerinya dan masyarakat di zamannya.”

Luqman adalah contoh ideal untuk sebuah hikmah. Bagi yang bisa mencapai apa yang dicapai Luqman tentu sebuah kenikmatan yang sangat agung dari Allah. Tetapi setidaknya orang tua terus mencoba hingga memiliki pemahaman, ilmu dan cara bertutur sebelum menasehatkan sesuatu bagi anaknya.

“Ini adalah puncak hikmah, karena mencakup analisa terhadap hakekat dirinya sendiri sebelum menganalisa sesuatu yang lain dan sebelum memberi petunjuk bagi orang lain.” (Ibnu Asyur dalam tafsirnya)

Syukur. Sifat mulia yang menjadi kata yang menggabungkan semua makna hikmah yang telah diberikan Allah kepada Luqman. Menjadi orang tua, harus kaya dengan rasa syukur. Pahamilah tema syukur dan hiaskan itu pada diri kita.

Untuk memahami lebih jelas, maka ketahuilah lawan katanya. Kufur: ingkar nikmat. Mengingkari nikmat, sekaligus akan mengingkari Pemberinya. Nikmat yang sesungguhnya besar, tidak terasa nikmat. Sesuatu yang berkurang sedikit, padahal masih dalam batas kenikmatan besar jika dibandingkan dengan orang di bawahnya, tidak terasa nikmat. Apalagi musibah, padahal masih banyak kenikmatan lain dalam hidupnya. Hidup ini serba kurang, gelisah dan keluh kesah. Padahal jika melihat ke bawah, kita masih jauh lebih baik dari kebanyakan orang yang lain. Karenanya Nabi memerintahkan untuk melihat orang yang dibawah kita secara nikmat agar tidak mudah meremehkan nikmat Allah, sekecil apapun.

Bersyukur kepada Allah, kebaikannya tidak dikirimkan kepada Allah yang disyukuri. Tetapi kembali kepada hamba yang bersyukur itu sendiri. {وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ}

“Sesungguhnya manfaat dan pahalanya kembali bagi mereka yang bersyukur.” (Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

Kata (فَإِنَّمَا) semakin menguatkan bahwa kebaikannya syukur itu benar-benar hanya kembali kepada hamba yang bersyukur.

Maka, teruslah memupuk rasa syukur agar ilalang keluh kesah itu perlahan layu dan mati. Untuk menumbuhkan berbagai pohon kebaikan yang lebih manfaat.

Hikmah dan Syukur.

Menjadi orang tua yang memiliki hikmah

Dan

Menjadi orang tua yang pandai bersyukur

Semua kebaikannya akan kembali kepada mereka yang memiliki hikmah dan pandai bersyukur. Di antara kebaikan itu adalah anak-anak yang terus bergerak menuju sebuah perubahan yang baik dari hari ke hari. Dengan panduan nasehat-nasehat.

Bukankah itu harapan kita semua?

Uncategorized

Pelukan bayi

Kemarin pas lagi beli ayam goreng di datengin anak nya ibuk penjual. Lucu banget anaknya. Masih bayi umur setahun gitu..kayak seumuran sama syauki. Tiba2 dia meluk saya dan karena gemes banget karna jarang2 ada anak kecil mudah nemplok sama saya, jadi saya gendong. Senengnya seneng banget gendong si dedek bayi karna anaknya anteng wae. Trus tiba2 aja saya jadi melow dan pengen nangis. Gak tau kenapa tiba2 aja kayak ada perasaan rindu gitu. Hiks. Saya emang suka aneh, sampe saya sendiri gak paham sama kepribadian saya.

Ah, mungkin karna dosa saya banyaaakk banget. Sedangkan anak bayi itu masih suci. Allahu rabbi T.T

Stories

Madrasah Pertama

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

a mother..

“Al-ummu madrosatul uula… Ibu adalah sekolah atau pendidik pertama bagi anaknya. Ibu bagaikan sebuah sekolah apabila engkau menyiapkannya.. Engkau telah menyiapkan bangsa yang berkepribadian.”

Setiap perempuan adalah guru dan pengajar. Paling tidak, guru dan pengajar bagi anaknya sendiri. Sehebat-hebatnya guru di luar sana, tak ada guru sehebat ibu yang selalu mengajar dan mendidik anaknya hampir 24 jam penuh. Karena pelajaran kehidupan itu bukan hanya membaca atau berhitung. Ada pelajaran yang jauh lebih penting dari itu..

View original post 1,056 more words

Uncategorized

​How to inspire manners in your child? (Part 1)

  1. When entering the house greet your children with salams and kisses. This should help develop their sense of love and mercy. 
  2. Be good to your neighbors and never backbite. Never speak ill of other drivers when on the road. Your children listen, absorb and emulate.
  3. When calling your parents, encourage your children to speak to them. When visiting your parents take your children with you. The more they see you take care of your parents the more they will learn to take care of you.
  4. When driving them say to school, don’t always play albums or cds (even if my cds!). Rather, tell them the stories yourself. This will have a greater impact – trust me!
  5. Read to them a short hadith a day – it doesn’t take much time, but very impactful in creating strong bonds and wonderful memories.  
  6. Comb your hair, clean your teeth and wear presentable cloths even if sitting at home and not going out for the day. They need to learn that being clean and tidy has nothing to do with going out!  
  7. Try not to blame or comment on every word or action they say or do. Learn to overlook and let go sometimes. This certainly builds their self-confidence.
  8. Ask your children’s permission before entering their rooms. Don’t just knock and enter, but then wait for a verbal permission. They will learn to do the same when wanting to enter your room.
  9. Apologize to your children if you made a mistake. Apologizing teaches them to be humble and polite.
  10. Don’t be sarcastic or make fun of their views or feelings, even if you “didn’t mean it” and was “only joking”. It really hurts.
  11. Show respect to your children’s privacy. Its important for their sense of value and self-esteem.
  12. Don’t expect that they will listen or understand the first time. Don’t take it personally. Muhammad ‏ﷺ never did. But be patient and consistent. 
    Dr. Hesham Al-Awadi, author of Muhammad‎ﷺ: How He Can Make You Extraordinary (in paperback and kindle).

    If you like it, please share it!
    Dr. Hesham Al Awadi