Stories

Madrasah Pertama

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

a mother..

“Al-ummu madrosatul uula… Ibu adalah sekolah atau pendidik pertama bagi anaknya. Ibu bagaikan sebuah sekolah apabila engkau menyiapkannya.. Engkau telah menyiapkan bangsa yang berkepribadian.”

Setiap perempuan adalah guru dan pengajar. Paling tidak, guru dan pengajar bagi anaknya sendiri. Sehebat-hebatnya guru di luar sana, tak ada guru sehebat ibu yang selalu mengajar dan mendidik anaknya hampir 24 jam penuh. Karena pelajaran kehidupan itu bukan hanya membaca atau berhitung. Ada pelajaran yang jauh lebih penting dari itu..

View original post 1,056 more words

Advertisements
Uncategorized

​How to inspire manners in your child? (Part 1)

  1. When entering the house greet your children with salams and kisses. This should help develop their sense of love and mercy. 
  2. Be good to your neighbors and never backbite. Never speak ill of other drivers when on the road. Your children listen, absorb and emulate.
  3. When calling your parents, encourage your children to speak to them. When visiting your parents take your children with you. The more they see you take care of your parents the more they will learn to take care of you.
  4. When driving them say to school, don’t always play albums or cds (even if my cds!). Rather, tell them the stories yourself. This will have a greater impact – trust me!
  5. Read to them a short hadith a day – it doesn’t take much time, but very impactful in creating strong bonds and wonderful memories.  
  6. Comb your hair, clean your teeth and wear presentable cloths even if sitting at home and not going out for the day. They need to learn that being clean and tidy has nothing to do with going out!  
  7. Try not to blame or comment on every word or action they say or do. Learn to overlook and let go sometimes. This certainly builds their self-confidence.
  8. Ask your children’s permission before entering their rooms. Don’t just knock and enter, but then wait for a verbal permission. They will learn to do the same when wanting to enter your room.
  9. Apologize to your children if you made a mistake. Apologizing teaches them to be humble and polite.
  10. Don’t be sarcastic or make fun of their views or feelings, even if you “didn’t mean it” and was “only joking”. It really hurts.
  11. Show respect to your children’s privacy. Its important for their sense of value and self-esteem.
  12. Don’t expect that they will listen or understand the first time. Don’t take it personally. Muhammad ‏ﷺ never did. But be patient and consistent. 
    Dr. Hesham Al-Awadi, author of Muhammad‎ﷺ: How He Can Make You Extraordinary (in paperback and kindle).

    If you like it, please share it!
    Dr. Hesham Al Awadi

Stories

Rezeki dan syukur

Belakangan ini saya banyak merenungkan soal rezeki. Betapa banyak banget pintu-pintu rezeki yang Allah bukakan kepada saya, namun saya tidak menyadarinya. Hati saya tertutup oleh rasa ketidak-syukuran saya. Saya terlalu idealis dan ambisius terhadap mimpi-mimpi yang saya pupuk sejak saya masih SMP namun tidak satu pun terealisasi. Hal itu menjadikan saya lupa akan nikmat yang Allah berikan kepada saya. Saya sampai mengalami depresi ringan karena semua tidak berjalan sesuai dengan yang saya inginkan. Saya selalu merasa sendiri dan kesepian karena merasa tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang saya mau. Butuh waktu yang lama dan mengalami berbagai kejadian bagi saya untuk memahami maksud Allah atas scenario hidup saya. Dan saya renungkan lagi, Allah Maha Baiikkk banget. Kemana saja saya selama ini, sibuk dengan prasangka diri sendiri. Hati saya meleleh dengan  begitu banyaknya nikmat yang saya terima. Duh, saya suka merutuki diri sendiri, menyalahkan keluarga dan lingkungan. Betapa jahatnya saya saat itu. Alhamdulillah Allah beri hidayah kepada saya dan mengingatkan saya ketika saya khilaf melalui saudara-saudara sholehah yang saya kenal.

Mengenai rezeki, semua yang ada  dunia ini telah ditetapkan rezekinya. Allah janjikan itu dalam surat Hud ayat 6: “tidak satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allaah rezekinya’ (Hud:6).  Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan memang. Tapi memang sudah karakter manusia, memiliki rasa khawatir. Pengalaman saya,ketika saya selesai ujian sidang, saya memiliki daftar rencana setelah mendapat gelar. Melamar kerja ke perusahaan, melamar ke sekolah2, mengumpulkan uang nya untuk persiapan S2, dan mau lanjut ke ma’had tahfidz, dan menikah. Qadarullah, semua tidak berjalan sesuai keinginan tersebut. Papa yang saat itu sakit dan dirawat di rumah sakit, menjadikan saya membuat keputusan untuk tidak merantau lagi. Saya langsung pulang melihat kondisi beliau. Kemudian saya nebeng tinggal di rumah kakak nomor tiga dan ikut mengasuh putra kecilnya yang baru lahir selama setahun, sambil melamar pekerjaan. Namun tidak ada panggilan kerja yang datang. Kemudian saya pun sempat merawat andung yang kecelakaan tahun lalu yang mengakibatkan tangan kanannya patah selama sebulan penuh. Hal yang saya sesali adalah saat itu saya hanya bekerja setengah hati. Sempat menangis karena ini bukan jalan yang sesuai ekspetasi saya. Banyak tawaran menggiurkan terkait pekerjaan dan S2 yang saya lewati dan bahkan saya tolak. Saya menjadi penggerutu, gampang marah dan tidak bersyukur atas jalan hidup saya. Puncaknya ketika saya gagal ta’aruf dengan seseorang. Sempat terfikir bagaimana mungkin soal pernikahan pun tidak ada yang berjalan baik sesuai keinginan saya. Ketika teman-teman saya yang memilih jalur pacaran saja bisa menikah dengan pacarnya sejak kuliah atau SMA. Saya merasa tidak adil. Ah, betapa kufur nikmat nya saya saat itu. Percuma saja mengaji, puasa, tahajud dan dhuha tapi hati saya selalu diliputi gelisah dan khawatir.

Saya pun hijrah ke rumah almarhumah mama dan tinggal dengan kakak kedua saya. Awalnya sempat khawatir karena tinggal dikota kecil berarti saya melewatkan kemudahan-kemudahan yang ada di kota besar saat saya tinggal dengan kakak ketiga saya. 2 minggu pertama saya frustasi karena tidak memiliki aktivitas sampai saya akhirnya menjadi guru di TKIT. Dari sinilah saya mendapat banyak pelajaran akan arti syukur. Saya mendapat banyak teman sholehah yang selalu berlomba dalam kebaikan baik di sekolah dan di halaqah. Saya sempat meminta ke Allah agar diberi lingkungan agar saya makin baik amalan yauminya dan bisa membantu saya untuk menghafal alquran lagi seperti masa kuliah dulu. Dan Allah memberinya lewat tempat kerja yang memfasilitasinya. Saya banyak merenungi ketika saya khawatir masalah keuangan, ada saja cara Allah mencukupi kebutuhan saya. Ketika saya masih kuliah, saya benar-benar seperti gembel karena begitu menekan biaya pengeluaran. Tidak ada uang untuk belanja, beli baju baru dan have fun sampai saya berada ditingkat akhir. Karena saya baru dapat penghasilan ketika berada di tingkat akhir dari part time. Saat tinggal dengan kakak ketiga saya, walau masih jobless, ada saja rejeki yang Allah kasih. Saya masih bisa beli baju atau tas dan sepatu yang saya inginkan. Bahkan saya mampu beli mesin jahit untuk les jahit saya waktu itu. Ketika pindah ke kampung saya pun Allah mencukupi saya sesuai kebutuhan saya tinggal di kampung. Saya masih bisa have fun dan beli sesuatu yang fancy.intinya mengenai financial saya hampir tidak mengalami kendala. Hanya saja saya suka sekali merasa tidak syukur. Akhirnya hasil renungan saya atas pengalaman yang terjadi setahun ini benar-benar memberi arti. Ketika saya mengasuh anak kakak dan andung,disanalah saya bisa menjadi orang berguna dengan memberi  bantuan berupa tenaga saya kepada mereka. Saya pun tahu bagaimana mengasuh anak bayi, bagaimana mengahadapi anak2 dengan tingkah lakunya yang sangat membantu saat saya bekerja di TKIT. Belajar memasak dari andung dan berkemas serta bebersih serta kebiasaan baik seperti bangun pagi dan sarapan pagi yang sering saya lewatkan dulunya.  Banyak banget ilmu yang wajib didapetin buat wanita. Sejauh ini saya dapet ilmu masak, beberes, menjahit dan terutama ilmu sabar. Apalagi kalo lagi sama bocah2, harus banget sabar dang ga boleh ngebentak mereka walau saya suka kebablasan. L

Lalu bagaimana dengan planning saya yang lain? Alhamdulillah saya sekarang tidak gelisah dan khawatir lagi. Depresi ringan saya pun sudah tidak saya rasakan lagi. Mungkin karena tiap hari bareng anak-anak TK bikin mood saya hapyyyyy terus. Bahagia tiap harinya. Bersyukur atas takdir Allah. Mengenai pekerjaan bonafid, s2 dan menikah bukan menjadi masalah lagi bagi saya. Saya yakin Allah sudah menyiapkan cerita yang sangat indah buat saya. Sekarang tinggal saya bersyukur dan bertaqwa kepada Allah yaitu melalui amalan yang semakin baik tiap harinya, menjadi pribadi yang ceria dan menjadi contoh yang bisa diteladani akhlaknya. Aamiin.

Oiya, saya menulis mengenai syukur karena habis baca tulisan mas kurniawan gunadi “Tentang rezeki”. Saya suka tulisan terakhirnya dan bikin saya menulis mengenai sedikit hal yang terjadi pada saya setahun ini. Karena sangat berkaitan dengan keadaan yang terjadi pada saya.

“Tapi ada dua lagi janji Allaah untuk menambah nikmat hambanya, yakni dengan syukur dan taqwa. Banyak orang di luar sana mati-matian mencari uang dengan dalih supaya kaya. Tapi ternyata setelah kaya, mereka tetap tidak puas dan terus saja mencari kenikmatan dunia. Mereka rupanya kehilangan apa yang Allaah janjikan tadi. Mereka lupa untuk bersyukur, dan mungkin mereka luput untuk bertaqwa. Karena sungguh, Allaah berfirman, ’sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’ (Ibrahim:7). Dan di ayat yang lain, ‘Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’ (At-Tholaq:2-3)

Semoga kita termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan bertaqwa. Semoga, Allaah lapangkan dan berkahi rezek kita serta menjauhkan kita dari bala.”

 

Stories

It’s okay to make ‘wrong’ choice, as long as …

Kuncinya ikhlas dengan ketentuan Allah

Abdan Syakura

Hidup adalah pilihan. Setiap hembusan nafas adalah pilihan. Menulis tulisan ini adalah pilihan antara menulis atau melakukan kegiatan lain. Dalam hal yang lebih besar, mungkin bentuk pilihannya adalah apakah sebaiknya kuliah atau bekerja; jika kuliah apakah sebaiknya mengambil jurusan A atau B; jika ikut organisasi, apakah sebaiknya organisasi A atau B; serta pilihan-pilihan lainnya.

Tantangan dalam membuat pilihan tentu saja adalah kita tidak ingin membuat pilihan yang salah dan berujung penyesalan. Namun tentu, kita baru tahu akibat pilihan tersebut di kemudian hari.

Dalam membuat pilihan yang baik kita tentunya berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sehingga kita dapat membayangkan hasil/akibatnya. Namun sering kali setelah berusaha menggali informasi, masih tetap saja ada ketidakpastiaan. Karena pilihan harus segera dibuat, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bagi sebagian orang yang selalu berusaha melakukan sesuatu dengan baik dan terencana, mereka cenderung merasa khawatir/nerveous jika hal yang mereka lakukan berujung tidak baik dan berbuah penyesalan. Dalam…

View original post 778 more words

Stories

Pernah galau

“Iim pernah galau juga?! Masa sih? Kok bisa?”

Rentetan pertanyaan sahabat saya barusan di telepon. Sedikit kaget juga dengan pertanyaan dia. Seakan saya seorang manusia yang kaku yang terlalu tegas sehingga No galau dalam hidup. Tapi alhamdulillah juga, berarti saya sukses tidak menampakkan galau saya di khalayak ramai. Bahkan sahabat sendiri mengira saya emang udah cool dari sononya. Padahal cuman nguat-nguatin diri biar ga jadi cewe memble, menye nan lemah. haha.

Galau itu adalah pikiran kacau tidak karuan. Ini pengertian galau yang saya dapat dari kamus. Kalau di pikir-pikir saya galau itu saat diminta menjadi pemateri untuk kelas besar, saat presentasi skripsi, saat pertama kali mengajar di kelas beneran, saat interview kerja, saat memilih netap di bandung atau leave for good dan mungkin suatu saat bakal galau ketika someone yang dipilihkan Allah akan datang. Hmmm.. Kapan yaa? Nah lo, ini termasuk galau ga?

Sedikit blur sih pengertian galau. Ketika saya yang biasa jadi tempat mendengar curahan hati sahabat-sahabat saya, kemudian posisi berbalik menjadi saya yang ingin cerita panjang lebar sedikit kekhawatiran saya soal masa depan, lalu saya di cap galau. Duh, kok jawabannya ga ngasih jawaban banget. huhu.. Disitu saya pengen curhat ke Allah aja. Yang jelas-jelas ga bakal ngeledek saya galau. Tapi bakal ngasih jawaban-jawaban lewat berbagai jalan. paling ampuh sih lewat Quran.

Ketika kita di uji, hayo buka Q.S AL-Ankabuut:2

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘kami telah beriman, sedangmereka tidak di uji lagi”

Ketika kita diuji dengan hal-hal yang menurut kita baik, padahal belum tentu lho. Ayo buka surat Al-Baqarah ayat 216:

“…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Lalu bagaimana cara kita menghadapi ujian hidup ini? Lihat Q.S. Ali Imran: 200

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.

Pada akhirnya, cara terbaik untuk mengatasi pikiran kacau tidak karuan karena efek khawatir ini adalah bersabar. Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan hal di masa depan yang belum tentu terjadi. Selalu berprasangka baik terhadap takdir yang telah Allah berikan kepada kita. Apalagi wanita, yang sering khawatir soal jodoh. Duh, nikmat Allah itu luaaaasss banget. Kemudian kita jadi kufur nikmat cuman gara-gara jodoh. Sibuk galau eh taunya umur udah kadaluarsa. Udah di panggil malaikat maut. Ga enak kan, pas ditanya malaikat munkar nankir, “ngapain aja lo selama hidup di dunia?” masa jawabannya, ‘sibuk mikirin jodoh’. Hiks..sedih banget kan, kadar iman dan taqwa kita cuman seuprit dong.

Saya sering banget nasihatin temen-temen saya yang galau. “Fokus ke diri sendiri dulu aja deh. lakukan amalan baik untuk diri sendiri sebagai amal di akhirat nanti. Saat kita sibuk dengan amalan-amalan kita, nanti akan ada keajaiban-keajaiban indah dari Allah. Percaya deh. Karena Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. ya gak?

Ikrim Maizana

Pekanbaru 7.7.2017

motivasi

Cherished Words #5

​Don’t be afraid to fail. Failure as well as success are experiences you will end up having experienced. If you don’t dare to try and just take the easy path all the time, one day you will realize how much you have missed. So don’t be afraid of failure. Instead, view failure as a chance to learn and a chance to experience life in a way, so that it can form you into a stronger, fuller person in the future.

Yoon siyoon’s lecture in 2 days 1 night show

catatan harian

Papa #1

Dulu, waktu kecil saya ngaji d MDA jauh dari tempat tinggal saya. Ya, saya tinggal di kampung, SD juga di SD negeri deket rumah. Tinggal jalan kaki langsung nyampe. Lalu saya mulai ngaji di MDA yang waktu itu paling keren, paling terkenal dan paling hits di antara anak2 SD. Padahal di depan rumah saya ada TPA. TPA Nurul Bilad. TPA yang didirikan nenek dan mama saya. Tapi sejak mama dan nenek saya meninggal, TPA itu udah ga se aktif di masa mereka hidup. TPA ini udah mati suri. Hanya bangunannya yang gagah berdiri. Tapi tidak ada guru dan murid2nya. Sedih ya 😦

Kemudian makdang saya menyuruh untuk ngaji di MDA. Abis pulang sekolah jam 1, langsung makan, sholat dan ganti baju seragam MDA. Saya merasakan keasikan tersendiri belajar di MDA. Saya memiliki banyak banget teman. sekelas bisa sampe 40-50 siswa. Sedangkan di SD, saya hanya memiliki 8 teman. Kebayang lah ya gimana di perbedaannya. Dan wajar untuk di kampung, minat sekolah masyarakatnya emang rendah banget. Walaupun sekolah udah gratis, kalo ga ada kemauan, ya mereka ga bakal sekolah. Kalo pun sekolah juga sering bolosnya.

Sebenarnya bukan mau cerita yang di atas..hehe.. di MDA saya kalo udah lulus, kita ada perayaan wisuda gitu. Pake jubah hitam, toga dan di make up. Bagi anak2 SD hal ini tentunya menjadi hal yang ditunggu. Sampe belajar untuk jalan saat penerimaan ijazah aja kita latihan seminggu. Takut banget banyak salahnya. Saya juga belajar rebana dan tari pasambahan untuk mengisi acara wisuda sebelum sebelumnya. i was excited. Makanya saat-saat kelulusan adalah saat yang saya nanti-nanti.

AKhirnya datanglah hari kelulusan tersebut. Lebih di tunggu-tungguu di banding kelulusan di SD. Saya pake kebaya, saya di make up, mengikuti ceremony, menerima ijazah, bersalaman dengan pak abas, kepala sekolah MDA dan di foto, selesai. Setelah acara selesai kita pawai. Waktu itu pake sepatu heels. anak SD sok sokan pake heels. Padahal udah tinggi dari jaman SD. Makin tinggi deh keliatannya.

Acara pun selesai. Kami berfoto. Saya dan adik sepupu saya wisudanya bareng. DIa menjadi sahabat saya selama di MDA ini. Berfoto adalah hal yang tidak saya dapatkan ketika lulus SD. saya tidak memiliki kenangan dalam bentuk foto dengan teman-teman SD saya. Tapi saya memiliki foto untuk MDA. 

Tentang Papa

Papa saat itu datang melihat saya wisuda. Saya senang sekali papa datang. Karena kami tidak serumah dan intensitas pertemuan hanya ketika saya ada butuhnya ke papa. Kemudian setelah selesai wisuda saya mencari-cari papa. Tapi sayang, saya tidak menemukannya. Saya sedih dan marah sama papa saat itu. Saya masih ingin ketemu papa, menunjukkan kepadanya bahwa saya membanggakan beliau. Tapi papa tidak mau menunggu barang sebentar untuk memeluk saya atau berfoto sebentar. Karena bagi saya yang masih anak-anak saat itu, apa yang dilakukan papa sangat membuat hati saya sedih. Sampai saya hampir membenci beliau. Astaghfirullah.

6 tahun kemudian, saya lulus SMA. Ya, kami ada perayaan juga, namun saya tidak se-excited waktu SD. Saya pun melalui seremoni tersebut dengan biasa. 5 tahun kemudian saya wisuda kampus. Qadarullah, papa sakit jantung menjelang hari saya wisuda. Ini sakit terparah dan terjadi di hari menjelang saya wisuda. Pada akhirnya papa tidak bisa datang dan di ganti kakak kedua saya yang datang. menjadi wisuda yang sepi lagi tanpa kehadiran papa. Kemudian saya menyadari, bahwa proses wisuda ini bukanlah hal yang penting. Tidaklah penting papa saya tidak datang, saya tidak memiliki momen dengan papa, saya tidak memiliki foto dengan beliau, saya hanya wisuda di dampingi kakak saya saja. 

Tapi, saat saya masuk sekolah, saya selalu di dampingi papa. Sejak SD, MTs, SMA, sampai kuliah. Saya selalu di dampingi beliau. Bahkan ketika saya bersikeras ingin SMA di cendikia, papa rela mengantar saya kesana dengan motor walau sangat jauh. Saya yang egois pengen daftar kesana di sanggupi papa. Ah papa….betapa egois dan kenak-kanakannya saya ini. Walau pada akhirnya saya tidak melanjutkan tesnya karena terlalu jauh. Kemudian saya daftar ke SMA favorit di kota papa masih menemani. Sampai saya kuliah di bandung pun, papa mau bersusah-susah dan itu pun mengeluarkan banyak sekali uang dan tenaga. Rela ikutan mengantri dengan saya saat daftar ulang, mencari kos-kosan dan memastikan saya baik-baik saja saat dia akan pulang.
Allah..

Ah, ga sebanding apa yang saya lakukan untuk menebus kebaikan papa. Saya mungkin orang paling egois di dunia ini. Sibuk kepada diri sendiri tanpa melihat orang sekitar. Saya hanya berpusat pada diri sendiri sampai keluarga sendiri tidak saya pedulikan. Saya masih tidak bersyukur dengan banyaknya keinginan saya yang tidak bisa dipenuhi. Kemudian saya marah, ngambek ala anak abg. Memalukan banget sih kamu im

Papa, sehat selalu ya. Liat iim sukses dan membanggakan papa dengan prestasi versi kita. Semoga Alah menyayangi papa seperti iim menyayangi papa.
With love, you 6th daughter.

A Daily Note of My Journey

Hafidzah-soon-to-be Story #1

Teringat nasihat guru tahfidz ketika di bandung dulu. Waktu mau pamit hijrah dari bandung ke padang karna udah beres studi di bandung
“Ikrim, jangan lupa untuk terus memurojaah hafalannya dan semoga bisa menjadi hafidzah seperti yang ikrim inginkan. Terus berdakwah dimana pun ikrim berada ya. Semoga Allah memberikan keistiqomahan untuk ikrim”
Waktu itu saya pengen nangis dan pengen peluk guru tahfidz ini. Kata kata yang paling menyentuh dan tulus dari guru yang saya teladani. Terimakasih bunda. Semoga saya bisa segera menjadi pebghafal quran dan menjaganya dan mengamalkannya :“

catatan harian

A lesson about Marriage #2

Mendidik anak itu susah banget banget. Sampe nangis nangis karna udah ga bisa nahan sabar  udah ga bisa pasang muka senyum. Mendidik murid2 saya yang satu kelas ribut dan bawel minta ampun. Pas di rumah ngurusin ponakan yang susah minta ampun buat disuruh sholat. Hiks.. dan pada akhirnya setiap anak memang bawa banyak banget kebahagiaan. Suka banget kalo liat mereka ketawa lepas. Nanya ke saya berbagai hal yang pengen mereka tahu dengan muka polosnya yg minta di cubit.
Hikmahnya pun saya harus banyak bersabar dan ikhlas. Duh belajar ikhlas dan sabar lagi. Ya Allah beri saya kesabaran yang luaaaasss bangey dan keikhlasan yang tiada taraa