rasa cinta kepada Rasulullah

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.
Assalamualaikum
teman ada sebuah kisah untukmu..

smoga bermanfaat..

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia lalu mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, nenek tersebut datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat : pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah yang diceriterakan oleh seorang Kiai Madura, D. Zawawi Imran, ini bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan ALLAH SWT. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat ALLAH. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw

I LOVE U MUHAMMAD

Advertisements

belajar dari gadis rusia penjual jagung rebus

Ada oleh-oleh dari Rusia yang saya bawa untuk anda sidang pembaca sekalian, di hari kedua (karena Indonesia sebagian besar lebarannya tanggal 10 September 2010 ) atau ketiga (untuk Rusia, karena di Rusia sudah lebaran sehari sebelumnya atau tanggal 9 September 2010 ) lebaran tepatnya tgl 11 September 2010 yang di Amerika Serikat sedang memperingati “musibah” WTCnya. Nnah di Rusia pada hari yang sama membuat panggung gembira di pusat pameran, WDNH, Moskow. Sekaligus membuat acara menggambar di jalananan dengan kapur warna, yang bisa mereka lakukan untuk akrab dengan lingkungan.

Nah pada saat bersmaaan itulah, saya ajak untuk mengamati salah satu obyek yang menarik untuk diambil pelajaran atau hikmahnya, ya mari kita mulai hari-hari baru selepas Idul Fitri ke optimisnya gaya Rusia dan semangat berkarya dan berusaha gaya Rusia. Mengapa Rusia ? Ya karena selama ini yang kita dengar dan kita baca tentang Rusia adalah yang buruk-buruk saja atau yang terbaca adalah yang buruk-buruknya, apa lagi di jaman perang dingin dulu di era tahun 1990 ke bawahnya. Atau setelah perang dunia ke II selesai di mana dua negara Super power yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet sedang membawa”misi” dunia politiknya, dengan paham Libralisme dan Komunisme.

Oke, mari kita kembali ke Rusia, setelah lebaran dengan sanak keluarga, sahabat dan kerabat, saja ajak anda di semangat Rusia. Rusia yang pada saat ini sedang menjelang musim gugur membawa berkah sendiri bagi warganya, karena di musim gugur matahari masih akan terlihat dan panasnya masih terasa. Walau kadang diselingi hujan dan suhu mulai rendah berkisar antara 10 – 20 derajat C dan ini terasa nyaman, karena bagai orang Rusia suhu seperti ini tidak terlalu panas dan tidak juga dingin.

Dan dengan suasana nyaman ini saya ajak anda “mengunjungi” gadis Rusia yang sedang berjualan jagung rebus di WDNH, pusat pameran industri dan perdagangan dengan berbagai acara yang menarik di musim panas. Mengapa gadis Rusia penjual jagung yang ditulis ? Itu agar seimbang, karena dalam ruang ini saya pernah juga menulis lelaki Rusia, yang saya beri judul:” Abang Haji Penjual Shaurma.” Ya, ada lelakinya, ada perempuannya.

Lalu kenapa gadis yang dipilih? Ya sambil belajar bawah hidup itu tak perlu gengsi-gengsian, kalau memang pekerjaan itu halal, kenapa tidak kita kerjakan dan pekerjaan halal itu mulai. Loh daripada menjadi koroptur yang berdasi dan bersedan mewah, tapi hasil menjarah uang rakyat, buat apa ? Itu hina dan menjijikan.

Lebih baik sih memang berdasi dan bersedan mewah tapi hasil uang halal, dan dengan kekayaan yang dimilikinya disedekahkan, diinfakan dan dizakatkan laludiberikan pada yang berhak, kan asyik tuh. Orang kaya yang dermawan dan sholeh akan terhormat dan mulia! Kalau Koruptor kaya, tapi nazis, kotor dan memalukan, kecuali koruptor itu tobat dan mengembalikan hasil korupsinya, hasil jarahanya dan berani menjalankan konsekuensi hukumnya.

Loh kok jadi ngelantur ke koruptor? Habis gemes sih, negara kita tak bisa maju-maju, karena dana pembangunannya dikorupsi melulu! Oke, deh kita kembali ke bahasan semula, tantang gadis Rusia yang tak meras malu untuk berdagang, walau yang dijual adalah jagung rebus! Saya jarang atau bisa dikatakan tak pernah melihat seorang gadis cantik di Indonesia jualan jagung rebus di tengah-tengah kota! Ini yang saya mau katakan, kenapa malu ? Mengapa gengsi? Loh daripada anggur misalnya atau mencari pekerjaan yang juga sussh didapat, kenapa tidak mencoba menjual jagung rebus atau jagung bakar atau jualan yang membuat hidup lebih berarti.

Ketika gadis Rusia penjual jagung rebus sedang menanti pembeli dengan sabar dan menanti pembelipun butuh kesabaran. Ya merekapun sabar menanti pembeli. Adakah yang rendah dan hina dari penjual jagung rebus ini? Anda bisa meihat gerobaknya, gerobak seperti ini kan mudah di buat di Indonesia, nah di Rusia saja kembali kepada yang tradisionil kok, ya dengan gerobak dorong seperti ini sang gadis Rusia berjualan jagung rebus. Di tempat keramain atau tempat yang strategis inilah gadis penjual jagung rebus ini berjualan, ini adalah kincir raksasa berlatar belakang menara Ostankino yang terkenal itu, salah satu menara tertinggi di dunia, tingginya kurang lebih 550 m!

Gadis Rusia penjual jagung rebus ini tak malu-malu mendorong gerobaknya saat akan berjualan di pangkalan yang dia pilih, dengan gerobak dorong yang seperti rumah mini itu gadis Rusia ini berjualan jagung rebus. Jagung ini sudah dibersihkan dari kulit dan rambut yang diujungnya, jadi sudah bersih dan siap direbus. Wadah rebusannya ada dalam gerobak dorong itu, dengan tambahan garam, plastik dan tisu, maka sang gadis Rusia ini siap menanti penjualnya, harga perpotongnya 70 rubel atau sekitar rp 25.000. Oya, lihat gerobaknya, gerobak seperti gerobak dorong tukang bakso atau gerobak siomai yang mudah di buat di Indonesia, nah di Rusia saja kembali kepada yang tradisionil kok, ya dengan gerobak dorong seperti ini sang gadis Rusia berjualan jagung rebus.

Malu? Loh kenapa harus malu? Gadis cantik kok jualan jagung rebus? Loh memangnya kenapa? Apa tak boleh seorang gadis cantik jualan jagung rebus? Apa tak boleh seorang gadis cantik, yang kalau di Indonesia bisa jadi bintang sinetron ini berjualan jagung rebus? Adakah larangannya? Tak ada kan, lalu mengapa harus malu? Jualan, ya jualan, siapapun orangnya. Inilah yang saya sebut optimisnya Rusia, bila tak dapat pekerjaan diperkantoran apa mesti menganggur, karena gengsi dan malu ?

Ini mungkin yang sering menimbulkan penyebab banyaknya pengangguran di Indonesia, bukan tidak ada pekerjaan, tapi malu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Jadi yang namanya bekerja, dipersempit sedemikian rupa, hanya di kantor atau di perusahaan. Loh kalau begitu jangan salahkan pemerintah, yang memang tak dapat menampung semua angkatan kerja, apa lagi untuk menjadi pegawai negeri, jumlah yang dibutuhkan akan lebih sedikit lagi. Di perusahaan BUMN atau BUMS juga tak banyak menampung, bahkan dalam situasi terkahir ini, banyak yang terkena PHK. Nah kenapa tak mencari alternatif lain?

Nah, kalau di negara semaju Rusia saja, orang tak malu-malu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, kenapa di negara yang masih berkembang seperti Indonesia, harus merasa malu dan gengsi? Buang jauh-jauh itu persaan malu dan gengsi, kalau malu melakukan dosa itu bagus, kalau gengsi tak dapat berbuat baik itu hebat, nah kalau malu dan gengsi jualan, apa namanya? Jualan kok malu dan gengsi? Apa jualan jagung rebus seperti yang di lakukan gadis Rusia itu hina? Apa jualan jagung rebus itu rendah? Apa jualan jagus rebus membuat harkat dan martabat menjadi turun? katakan: ” tidak!”

Jualan yang halal tidak membuat orang terhina, rendah, apa lagi sampai menurunkan harkat dan martabatnya sebagai manusia, tidak! Nah gadis Rusia ini telah membuktikannya, dia enjoy saja jualan, tak merasa risi dan terhina, tak merasa malu dan gengsi. Lalu mengapa banyak angkatan kerja kita harus malu dan gengsi, bahkan konyolnya, lebih baik menganggur daripada berjualan jagung rebus, misalnya. Padahal: ” seorang dengan modal tambang dan kampak yang dengannya dia mencari kayu untuk di jual di pasar, itu lebih mulia, dibanding para pengemis atau pengangguran!”

Dan orang yang tangannya kapalan karena bekerja keras untuk menafkahi keluarganya, itulah adalah tangan mulia, itulah tangan yang akan mnyelamatkannya dari api neraka! Nah, jadi tak ada lagi alasan untuk berpangku tangan menunggu nasib, ayo segera bangun dan berdiri, segera ayunkan langkah kaki untuk berbuat sesuatu, jangan barpangku tangan sambil menopang dagu menunggu sang nasib! Mari berbuat, walau hanya menjadi penjual jagung rebus! Tak ada kata hina, rendah untuk suatu pekerjaan yang halal, namun sebaliknya, tak ada yang tinggi dan mulia, bagi pekerjaan apapun yang haram!

Apa yang kita pelajari dari gadis Rusia penjual jagung rebus ini?

Pertama, jangan malu dan gengsi untuk bekerja apapun asal halal, termasuk julan jagung rebus sekalipun.

Kedua, tak ada kata malu dan gengsi untuk bekarya dan berusaha, karena nasib ada ditangan masing-masing, dan perubahan hidupa terjadi, bila kita sendiri yang mau merubahnya, setelah itu Tuhan akan memberikan hidayahNya.

Ketiga, jangan menyerah pada situasi apapun, karena Allah menguji manusia sesuai dengan kemampuannya.

Keempat, tak ada pekerjaan yang hina, bila itu halal. Pekerjaan yang halal apapun jenisnya adalah mulia. Namun sebaliknya, apapun pekerjaan yang haram adalah hina.
Kelima, takdir Allah itu dijemput atau dicari! Jangan bertopang dagu mengharapkan hujan dari langit. Rezeki Allah akan datang bila diusahakan dengan ikhtiar sungguh-sungguh.

Syaripudin Zuhri

pecundang saat seten sudah dibelenggu

Ketika mengeluarkan catatan tentang perzinahan, judi, dan berbagai perilaku yang mencerminkan akhlak tercela, ada tertulis komentar yang rigid. ”Gak usah dibahas lagi. Itu sudah jelas dan terang”. Yah, memang benar adanya. Tetapi mengingatkan hal baik untuk kita amalkan juga tetap bernilai baik, sama baiknya mengingatkan hakikat kebatilan supaya tidak terperosok dalam keburukannya.

Kali ini, saya masih ”terprovokasi” untuk mencatat bahwa sesungguhnya, sekian banyak orang semakin berani ”menentang ” Tuhan, tidak ragu-ragu ”menentang” Rasulullah, tidak sungkan ”menentang” syari’at dan begitu senang ”berkawan karib” dengan setan. Paling tidak ini sudut pandang saya.

Lingkungan kita memang sedang mengalami pengikisan akhlak secara masif dan terus menerus melalui berbagai media. Soal baik dan benar menjadi kabur dan tidak lagi kelihatan jelas bedanya. Halal haram menjadi sangat samar. Maka lahirlah prasangka, disangka baik nyatanya bathil, disangka halal nyatanya haram, disangkanya tuntunan nyatanya tontonan belaka. Tak jelas lagi bedanya, ini ceramah agama apa lawakan dan lucu-lucuan. Maka banyak orang kemudian mengalami kehilangan orientasi. Banyak orang muslim tidak mengambil teladan dari Rasulullah dan para sahabatnya, dari Siti Mashitoh atau dari Maryam sang perawan suci. Tetapi mengambilnya dari Abu Jahal dan Abu Lahab. Dari Qarun dan Fir’aun. Dari Madonna, Marilyn Monroe dan figur-figur yang dianggap modern.

Sekarang, dunia hiburan menjadi ujung tombak yang menumpulkan akhlakul kariimah dan menajamkan akhlaakul madzmumah. Sudah bukan lagi sebagai sesuatu yang dikhawatirkan, sebab nyatanya efek dari hiburan model begitu, sudah menjadi karakter yang hidup di tengah masyarakat ini. Sekarang cobalah sahabat cermati hasil wawancara seorang model di bawah ini :

=====

“Saat foto di sampul majalah pria dewasa itu keluar, keluarga sempat kaget sih. Mereka bertanya, ‘kenapa saya mau menerima pekerjaan itu?’ Dibilang menyesal sih nggak. Tapi sudahlah. Ambil positifnya saja. Nggak ada salahnya kan sesekali ‘menghibur’ orang dengan foto seksi. he…he…. Jangan dibuat pusing deh,” ungkap DC (sengaja saya inisialkan), saat dihubungi Minggu (29/08).

….

“Hasil pemotretannya sih bagus dan tidak mengecewakan. Di satu sisi, aku merasa puas, tapi di sisi yang lain, aku justru takut dan khawatir. Kalau saja ada orang atau pihak tertentu yang ingin memanfaatkan foto-foto seksiku itu dan meng-uploadnya ke internet,” terangnya.

….

“Daripada iseng-iseng mengubah dan merekayasa foto-foto seksiku dengan edit kanan-kiri, mendingan telepon aku aja deh. Nanti juga aku beri foto-foto koleksi pribadiku. Lebih mudah kan? he….he…Sesuatu yang indah kenapa harus ditutupin,” ungkapnya.

….

“Sejujurnya, aku paling suka jika disuruh pose dengan pakaian seksi dan agak terbuka dengan menonjolkan bagian-bagian tubuh yang menurutku seksi. Tapi foto-foto itu selama ini hanya jadi koleksi pribadi saja dan memang bukan untuk disebarkan ke publik. Apalagi di bulan puasa seperti ini,” pungkasnya. (kpl/hen/dar)

Hasil lengkap wawancara ini bisa dilihat saat kita membuka halaman web yahoo.

========

Beginilah sesungguhnya karakter yang dibentuk oleh materialisme hedonistik yang menonjolkan vulgarisme, hubbussyahwat, tabarrujal jaahiliyyah, melepaskan rasa malu dan membanting kehormatan. Bayangkanlah jika kemudian hasil wawancara itu diaminkan, diikuti dan dianggap sebagai tuntunan, bukan mustahil akan menjadi karakter dan kepribadian yang melakat bagi setiap anak bangsa ini. Sementara ajaran menundukkan pandangan, hijab penutup aurat, iffah dan sopan santun seolah dianggap dongeng dan masa lalu yang tidak lagi relevan dengan zaman ini. Masya Allah, akhlakul kariimah seolah diposisikan sebagai fosil yang sebaiknya dimusiumkan saja.

Bagi muslim yang sadar, pengakuan terus terang seperti berita di atas bukanlah cermin untuk berkaca, tetapi pengakuan orang sakit yang harus ditolong dan diobati. Jika pengakuan semacam ini keluar dari lidah orang “kafir” tidaklah terlalu mengherankan. Tetapi apabila diucapkan secara sadar oleh seorang muslimah, ini artinya bencana. Dengan tidak bermaksud memojokkan wanita, Nabi pernah berujar :

“Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Tiap menjelang pagi hari dua malaikat berseru: “Celaka laki-laki dari godaan wanita dan celaka wanita dari godaan laki-laki.” (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim)

Kita patut mengasihaninya di bulan suci ini. Mengapa? Wanita ini layaknya orang yang kalah padahal musuhnya sudah tidak berdaya.

Bagaimana pendapat Anda, apabila seorang berkelahi dengan lawan yang badan, tangan dan kakinya dalam kondisi diikat. Musuh dalam kondisi terikat semacam itu, jangankan melawan, untuk menghindar dari serangan saja sulit. Secara logika, siapapun akan dapat memenangkan pertarungan itu. Tapi nyatanya lawan dengan kondisi terikat itu malah keluar sebagai pemenang. Lalu kita sebuat apa orang yang kalah itu?

Bulan Ramadhan ibarat fasilitas yang memberi peluang kepada setiap kita untuk menjadi pemenang. Setan; musuh utama yang kerap kali berhasil mengelabui manusia, saat ini sedang dibelenggu. Tapi nyatanya, meskipun sudah dibelenggu, setan masih berhasil menumbangkan banyak orang. Luar biasanya setan itu, dan betapa ”dungu”nya manusia kalah itu.

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika tiba Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta syetan-syetan dibelenggu.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim)

Lepas dari berbagai penafsiran atas hadits ini, secara tekstual seorang muslim berpeluang besar untuk meraih surga yang pintunya telah dibuka lebar-lebar. Selamat dari api neraka karena pintunya telah ditutup rapat-rapat. Lalu ia bisa selamat dari gangguan syetan yang dibelenggu. Begitu kira-kira pesan Rasulullah.

Namun melangkah ke surga memang seperti jalan mendaki dan terjal, susah payah berlapar-lapar dan dahaga saat puasa. Berletih-letih saat qiyam di malam hari dan kantuk. Menguras energi dan uang saat berhaji, infak, zakat dan sedekah.

Lain halnya neraka yang pintunya ditutup saat Ramadhan itu. Untuk menjadi penghuninya, orang tidak perlu menahan lapar dan dahaga saat Ramadhan. Orang tidak perlu melawan lelah dan kantuk saat qiyamullail. Orang tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk berhaji. Orang tidak perlu menaruh simpati dan perhatian kepada fuqara dan masakin dengan infaq, zakat dan sedekah. Pendek kata, dengan leha-leha, dengan senang-senang, dengan berbagai hiburan, dengan syahwat, dengan mempertontonkan aurat secara bangga dan dengan segala kesenangan duniawi, orang sudah punya tiket menemani Iblis di jahannam. Mau?

“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai dan neraka dikelilingi oleh syahwat”. (HR. Bukhari)

Allahu A’lam.

Ya Rabb, biarkan pintu surga terbuka untuk kami para mukminiin. Biarkan pintu neraka tertutup untuk kami para mukminiin. Biarkan para setan dibelenggu untuk kami para mukminiin. Bangunkan kami dan para mukminiin yang tertidur hingga tidak tahu bahwa surga menantinya. Halangi kami dan para mukminiin yang hendak melangkah ke neraka dengan sombong atau karena jahilnya. Jangan biarkan kami dan para mukminin menjadi pecundang di saat setan telah dibelenggu.

Dengarlah wahai Rabb semesta alam. Aamiin.

Depok, Ramadhan hari ke-20, Agustus 2010

abdul_mutaqin@yahoo.com

matematika gaji dan logika sedekah

Dari Catatan Abdul Mutaqin

===

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib “guru” yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis.”

“Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?”

“Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”

“Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

“Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?”

“Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.

“Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

“Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Depok,

Ciputat, Ramadhan hari ke-18, Agustus 2010
abdul_mutaqin@yahoo.com

F.A.M.I.L.Y.

Suatu ketika,
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, ketika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”

“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku.

“Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. “

“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.”

Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.”

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.

FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

beramal tapi celaka, capee deh,,,,,

Seorang karyawan, karena satu dan lain hal harus dipotong gajinya pasti tersungut, sebel dan pastinya juga kecewa karena jerih payah dan keringatnya separuh tidak dihargai. Bagaimana jika tidak dibayar gajinya sama sekali? Tentulah ia lebih tersungut, lebih sebel dan kecewa lahir batin. Peristiwa semacam itu sering kita jumpai di sini; di dunia. Orang yang mengalami hal seperti itu merasa bahwa rencananya menjadi berantakan, gara-gara harapannya dikandaskan. Pahit.

Kita begitu peka pada ketimpangan fisis yang kasat mata seperti kondisi di atas dalam pola hubungan sosial; kepada sesama. Tetapi menjadi begitu tumpul sensitifitasnya pada ketimpangan yang metafisis pada pola hubungan transendental; kepada Tuhan. Soal gaji yang tidak dibayarkan, itu soal fisis. Hampir tidak ada di antara kita yang tidak cerdas soal itu. Tapi soal amal soleh yang tidak berisi, banyak di antara manusia begitu bebal memahami kenyataan ini. Memang semua orang bisa membaca realitas di depan mata, tetapi tidak semua orang menyadari kemampuan dirinya memahami realitas di balik mata.

Di sinilah mata dan hati sering tertipu, dikiranya sudah benar dalam beramal seraya mengira akan mendapatkan ganjaran pahala yang akan dinikmati kelak di yaumil akhir. Tetapi betapa kecewanya kemudian, nyatanya menurut Allah, shalat, puasa, zakat, haji, tilawah bahkan jihad yang telah dikerjakan susah-payah itu nihil, tidak pantas untuk diberikan ganjaran kebajikan. Mengapa bisa terjadi?

Kalaulah soal setelah bekerja kepayahan gaji tidak dibayarkan, orang bisa pindah ke lain hati, ke lain profesi, ke lain peluang, ke lain tuan untuk mendapat imbalan baru dari kerja yang dilakukannya. Tapi, ke mana kita akan mencari tuhan selain Allah yang bersedia memberikan pahala atas semua amal kita?

Jangan Buat Allah ”Cemburu”

Tidak ada yang paling ”dicemburui” oleh Allah selain perilaku syirik. Syirik yang membuat semua amal kosong melompong tanpa isi. Allah tidak menaruh minat sedikitpun walaupun sekedar melirik apalagi memperhitungkan amal yang dilakukan seseorang yang berbuar syirik. Bagaimana mungkin Dia yang memberi makan dan minum, memberinya hidup dan kehidupan tetapi seorang hamba mengkhianati-Nya dengan bersekutu kepada selain-Nya?

Jikalaulah Anda telah mencurahkan segala cinta dan kasih sayang, perhatian dan kehangatan, janji dan pembuktian hanya kepada seorang yang Anda cintai, tetapi kemudian orang yang Anda cintai itu mengambil orang lain sebagai pendampingnya, bagaimanakah suasana hati hendak dirasa?

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri karugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.” (terjemah QS. At Taubah [9] : 24)

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)

Syirik adalah biang keladi dari segala penyebab susah payah ibadah tidak berharga sedikitpun di mata Allah. Namun, begitu banyak mata hati yang benar-benar tidak sanggup mengungkap hakikatnya sehingga tidak menyadari bahwa dirinya tengah berkubang dalam comberan syirik yang menjijikkan. Bagaimana mungkin orang yang rajin shalat, tetapi masih manut-manut dengan ocehan dukun atu tukang ramal? Bagaimana mungkin orang yang sudah berkepala ”putih” tetapi masih menyimpan keris atau azimat penglaris? Juga bagaimana mungkin orang yang begitu rajinnya hadir di majlis ilmu tapi masih meyakini zodiak bintang? Bagaimana juga orang yang disebut ustadz tetapi masih melingkarkan cincin atau gelang dengan keyakinan menambah wibawa? Bagaimana Allah tidak cemburu?

“Bahwasannya Rasulullah pernah melihat seseorang memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya: ’Apakah ini?’, ‘Penolak lemah’, jawab orang itu. Maka Nabi berkata: ‘Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah penyakit dan kalau kamu mati dengan gelang itu masih melekat di tubuhmu, niscaya kamu tidak akan bahagia selama-lamanya (masuk neraka).” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya mantra, azimat dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik.” (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah akan berpaling dan tidak sudi memberi syafaat kepada ummatnya. Ummat Muhammad yang paling apes adalah mereka yang di akhirat tidak diberikan syafa’at. Siapa mereka? Pelaku syirik alias musyrik.

”Sesungguhnya syafa’atku diperuntukkan bagi umatku yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah”. (HR. Ahmad)

Begitulah syirik. Sifatnya yang menghanguskan semua pahala amal selama di dunia. Ruku, sujud, thawaf, zakat, lapar, tahajjud, semuanya tiada arti. Hanya bikin cape. Mau?

Hati-hati Berdekatan Dengan ”Riya”

Ini bukan Ria Irawan yang artis itu. Juga bukan Ria Resti Fauzi penyanyi itu. Ini adalah riya turunan dari syirik; riya si syirik kecil. “Riya menyia-nyiakan amal sebagaimana syirik menyia-nyiakannya” begitu sebuah riwayat dari Ar-Rabii’. “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti terjadi pada kalian adalah al-Syirku al-Asghar (syirik kecil). Sahabat bertanya, apa syirik kecil itu, ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, Riya’, demikian pula Imam Ahmad menegaskan.

Riya punya sahabat kembar, namanya sum’ah. Jika riya sifatnya ingin dilihat dan dipuji orang dalam meklakukan kebajikan, sedangkan sum’ah ingin didengar orang lain segala kebajikan yang dilakukannya. Allah begitu kecewa dengan orang yang berbuat kebaikan tetapi membawa serta riya dan saudara kembarnya itu. Begitu kecewanya Allah seolah Allah berteriyak keras pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan manusia,”Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah! Adakah pahala yang disediakannya”, sebuah pernyataan Allah berlepas diri dari segala amal orang itu. Demikian yang utarakan Imam Ad Zdahabi dalam kitabnya al-Kabaair. Ngeri.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Barangsiapa berlaku riya, Allah akan memperlihatkan keburukannya. Dan barang siapa berlaku sum’ah Allah akan memperdengarkan keburukannya”.

Riya dan sum’ah begitu halusnya, sehingga ia tidak sadar tengah memperolok-olok pencipta-Nya. Imam Qatadah pernah menyatakan,” Jika seorang hamba berbuat riya, maka Allah akan berkata,’ Lihatlah kepada hambaku, bagaimana ia memperolokolokkan Aku”.

Imam Ali pernah mengabarkan kepada kita tentang ciri orang yang memiliki sifat riya. Katanya, jika ia sendirian ia malas beramal, tapi jika di keramaian ia rajin, jika ia dipuji ia meningkatkan amalnya, tetapi jika ia dicela, ia mengurangi amalnya. Adakah ciri itu pada diri kita?

Pada hari kiamat di mana pengadilan Allah ditegakkan, orang yang riya nanti akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk dengan empat nama; wahai mura’i (si pelaku riya), hai ghaadir (penipu), hai faajir (pendosa) dan, hai khaasir (orang yang merugi) ambillah pahala yang disediakan oleh orang yang karenanya kamu beramal! Kamu sudah tidak memiliki paha lagi di sisi kami.

Imam Muslim meriwayatkan hadits yang cukup panjang tentang nasib dramatik orang yang riya. Dalam suatu hadits diceritakan:

“Sesungguhnya manusia yang pertama dihukumi pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid, lalu ia dibawa, dikenalkan nikmatnya maka ia mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang kamu lakukan padanya?”. Ia menjawab: “Saya berperang karena Engkau sehingga saya mati syahid”. Dia berfirman: “Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan pemberani, dan itu telah dikatakan”. Kemudian ia diperintahkan. Lalu mukanya ditelungkupkan sampai ia dilemparkan dalam neraka. Dan seseorang yang belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an didatangkan. Lalu nikmat-nikmatnya dikenalkan dan ia mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang kamu lakukan kepadanya?”. Ia menjawab: “Saya belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena Engkau”. Dia berfirman: “Kamu berdusta, tetapi kamu belajar agar dikatakan ‘Alim (pandai) dan kamu membaca Al Qur’an agar dikatakan Qari’ (pembaca Al Qur’an), itu telah dikatakan”. Kemudian diperintahkan terhadapnya, maka mukanya ditelungkupkan sehingga ia dilemparkan kedalam neraka. Dan seseorang yang dilapangkan dan diberi bermacam-macam harta didatangkan, lalu dikenalkan dan ia mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang kamu amalkan kepadanya? Ia menjawab: “Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau sukai agar jalan itu dinafkahi melainkan saya nafkahi dengan harta itu karena Engkau”. Dia berfirman: “Kamu berdusta, tetapi kamu mengerjakan agar dikatakan Dermawan, dan itu telah dikatakan”. Kemudian ia diperintahkan, lalu mukanya ditelungkupkan kemudia ia dilemparkan ke dalam neraka”. (HR. Muslim). Na’udzu billah.

Awas, hati-hati puasa kita. Riya selalu mengintip-intip untuk merusak pahalanya hingga habis tak tersisa.

”Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan betapa banyak orang yang bangun salat malam tidak mendapatkan apa-apa selain berjaga”. (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaemah, Ibu Majah, Ibnu Hibban dari Abu Hurayrah dan Ibnu Umar).

Allahu a’lam.

Ya Rabb, ceraikan puasaku dan qiyam Ramadhanku dari si “Riya”. Aamiin.

Ciputat, Ramadhan hari ke-15, Agustus 2010
Abdul Mutaqin
abdul_mutaqin@yahoo.com .

maaf

Assalamualaikum

Ya Rasulullah,
Aku rindu akan Seorang Pemimpin,
Rindu akan rasa keadilan Di Dunia ini
andai Aku memiliki kesempatan Hidup Di Zamanmu,,
Aku akan melindungiMu dari musuh2mu, Msuh ALLah, bhkan nyawaKpun akan Ku Pertaruhkan untukmu Ya Rasul..
Hatimu sungguh begitu mulia..

Seperti yang tergambar dalam cerita ini.

Pada saat Nabi Muhammad masih di Makkah, disaat2 kamu Quraisy yang masih Kafir (tidak bersyukur adalah terjemahan asli dari Kufr, lawan kata Syukur atau Syukr), beliau memberikan nasehat2, dakwah, peringatan2, dan ajakan kepada semua orang yang beliau kenal untuk mengimani Tuhan dengen sepenuhnya.

Ada salah seorang kaum Quraisy saat itu yang sangat membenci Muhammad, ibarat sudah mendarah daging kebencian yang ada di hatinya kepada Nabi yang suci ini.
Kebetulan rumahnya berada ditepi jalan yang biasa ditempuh oleh Rasulullah kalau mau bersilaturahmi kepada sahabat2nya.
Yang terjadi adalah, setiap Rasulullah lewat rumahnya, pasti akan langsung kedengaran suaranya yang meludah ketanah, keras dan berulang, diiringi dengan umpatan2 yang terkadang didengar atau terkadang tidak didengar oleh rasulullah. Dan ini berlangsung sudah lama dan setiap hari.

Sampai suatu hari, saat rasulullah lewat jalan itu, tidak terdengar suara ‘langganan’ yang sering beliau dengar dari rumah tersebut. Rasulullah tersenyum, mungkin pikirnya orang tersebut sedang ada keperluan. Tapi sudah beberapa hari, gak juga muncul suara tersebut, Rasulullah heran. Beliau merasakan ada yang tidak beres dengan orang tersebut. Akhirnya rasulullah bertanya2 kepada orang2 disekitar daerah itu, kemanakah gerangan orang tersebut?

Kebanyakan orang2 lebih heran lagi, kenapa Muhammad bertanya tentang orang yang sudah jelas2 sangat membencinya, dan kebenciannya itu sering ditunjukkan secara nyata. Tapi mereka toh akhirnya memberi-tahukan juga kepada Rasulullah letak rumah orang tersebut.

Akhirnya Rasulullah mendatangi kerumahnya. Didapati oleh beliau, bahwa orang yang sering meludahi dan memaki2nya tersebut sedang berbaring sendirian, dalam keadaan sakit. Rasulullah akhirnya masuk kerumah orang tersebut, sembari tersenyum tulus dan memegang tangannya dengan penuh kasih, sambil didoakan agar segera sembuh.

Orang itu tiba2 menangis, dan berkata: “Wahai Muhammad… Saat aku sakit, orang2 yang aku hormati, yang aku hargai, yang aku puji2, tidak ada satupun yang menjengukku. Tapi engkau Muhammad, orang yang selalu kubenci dengan segenap darah dan hatiku, yang setiap saat melihatmu tidak pernah aku tidak memakimu, meludahimu, tapi cuma engkau yang datang menjengukku. Sungguh Mulia hatimu Muhammad. Sungguh mulia apa yang engkau ajarkan. Dan saksikan wahai saudaraku, mulai sekarang, aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Engkau adalah utusanNya..”

I love U Muhammad .