beramal tapi celaka, capee deh,,,,,

Seorang karyawan, karena satu dan lain hal harus dipotong gajinya pasti tersungut, sebel dan pastinya juga kecewa karena jerih payah dan keringatnya separuh tidak dihargai. Bagaimana jika tidak dibayar gajinya sama sekali? Tentulah ia lebih tersungut, lebih sebel dan kecewa lahir batin. Peristiwa semacam itu sering kita jumpai di sini; di dunia. Orang yang mengalami hal seperti itu merasa bahwa rencananya menjadi berantakan, gara-gara harapannya dikandaskan. Pahit.

Kita begitu peka pada ketimpangan fisis yang kasat mata seperti kondisi di atas dalam pola hubungan sosial; kepada sesama. Tetapi menjadi begitu tumpul sensitifitasnya pada ketimpangan yang metafisis pada pola hubungan transendental; kepada Tuhan. Soal gaji yang tidak dibayarkan, itu soal fisis. Hampir tidak ada di antara kita yang tidak cerdas soal itu. Tapi soal amal soleh yang tidak berisi, banyak di antara manusia begitu bebal memahami kenyataan ini. Memang semua orang bisa membaca realitas di depan mata, tetapi tidak semua orang menyadari kemampuan dirinya memahami realitas di balik mata.

Di sinilah mata dan hati sering tertipu, dikiranya sudah benar dalam beramal seraya mengira akan mendapatkan ganjaran pahala yang akan dinikmati kelak di yaumil akhir. Tetapi betapa kecewanya kemudian, nyatanya menurut Allah, shalat, puasa, zakat, haji, tilawah bahkan jihad yang telah dikerjakan susah-payah itu nihil, tidak pantas untuk diberikan ganjaran kebajikan. Mengapa bisa terjadi?

Kalaulah soal setelah bekerja kepayahan gaji tidak dibayarkan, orang bisa pindah ke lain hati, ke lain profesi, ke lain peluang, ke lain tuan untuk mendapat imbalan baru dari kerja yang dilakukannya. Tapi, ke mana kita akan mencari tuhan selain Allah yang bersedia memberikan pahala atas semua amal kita?

Jangan Buat Allah ”Cemburu”

Tidak ada yang paling ”dicemburui” oleh Allah selain perilaku syirik. Syirik yang membuat semua amal kosong melompong tanpa isi. Allah tidak menaruh minat sedikitpun walaupun sekedar melirik apalagi memperhitungkan amal yang dilakukan seseorang yang berbuar syirik. Bagaimana mungkin Dia yang memberi makan dan minum, memberinya hidup dan kehidupan tetapi seorang hamba mengkhianati-Nya dengan bersekutu kepada selain-Nya?

Jikalaulah Anda telah mencurahkan segala cinta dan kasih sayang, perhatian dan kehangatan, janji dan pembuktian hanya kepada seorang yang Anda cintai, tetapi kemudian orang yang Anda cintai itu mengambil orang lain sebagai pendampingnya, bagaimanakah suasana hati hendak dirasa?

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri karugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.” (terjemah QS. At Taubah [9] : 24)

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama dengan diri-Ku maka akan Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)

Syirik adalah biang keladi dari segala penyebab susah payah ibadah tidak berharga sedikitpun di mata Allah. Namun, begitu banyak mata hati yang benar-benar tidak sanggup mengungkap hakikatnya sehingga tidak menyadari bahwa dirinya tengah berkubang dalam comberan syirik yang menjijikkan. Bagaimana mungkin orang yang rajin shalat, tetapi masih manut-manut dengan ocehan dukun atu tukang ramal? Bagaimana mungkin orang yang sudah berkepala ”putih” tetapi masih menyimpan keris atau azimat penglaris? Juga bagaimana mungkin orang yang begitu rajinnya hadir di majlis ilmu tapi masih meyakini zodiak bintang? Bagaimana juga orang yang disebut ustadz tetapi masih melingkarkan cincin atau gelang dengan keyakinan menambah wibawa? Bagaimana Allah tidak cemburu?

“Bahwasannya Rasulullah pernah melihat seseorang memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya: ’Apakah ini?’, ‘Penolak lemah’, jawab orang itu. Maka Nabi berkata: ‘Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah penyakit dan kalau kamu mati dengan gelang itu masih melekat di tubuhmu, niscaya kamu tidak akan bahagia selama-lamanya (masuk neraka).” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya mantra, azimat dan guna-guna itu adalah perbuatan syirik.” (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah akan berpaling dan tidak sudi memberi syafaat kepada ummatnya. Ummat Muhammad yang paling apes adalah mereka yang di akhirat tidak diberikan syafa’at. Siapa mereka? Pelaku syirik alias musyrik.

”Sesungguhnya syafa’atku diperuntukkan bagi umatku yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah”. (HR. Ahmad)

Begitulah syirik. Sifatnya yang menghanguskan semua pahala amal selama di dunia. Ruku, sujud, thawaf, zakat, lapar, tahajjud, semuanya tiada arti. Hanya bikin cape. Mau?

Hati-hati Berdekatan Dengan ”Riya”

Ini bukan Ria Irawan yang artis itu. Juga bukan Ria Resti Fauzi penyanyi itu. Ini adalah riya turunan dari syirik; riya si syirik kecil. “Riya menyia-nyiakan amal sebagaimana syirik menyia-nyiakannya” begitu sebuah riwayat dari Ar-Rabii’. “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti terjadi pada kalian adalah al-Syirku al-Asghar (syirik kecil). Sahabat bertanya, apa syirik kecil itu, ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, Riya’, demikian pula Imam Ahmad menegaskan.

Riya punya sahabat kembar, namanya sum’ah. Jika riya sifatnya ingin dilihat dan dipuji orang dalam meklakukan kebajikan, sedangkan sum’ah ingin didengar orang lain segala kebajikan yang dilakukannya. Allah begitu kecewa dengan orang yang berbuat kebaikan tetapi membawa serta riya dan saudara kembarnya itu. Begitu kecewanya Allah seolah Allah berteriyak keras pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan manusia,”Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah! Adakah pahala yang disediakannya”, sebuah pernyataan Allah berlepas diri dari segala amal orang itu. Demikian yang utarakan Imam Ad Zdahabi dalam kitabnya al-Kabaair. Ngeri.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Barangsiapa berlaku riya, Allah akan memperlihatkan keburukannya. Dan barang siapa berlaku sum’ah Allah akan memperdengarkan keburukannya”.

Riya dan sum’ah begitu halusnya, sehingga ia tidak sadar tengah memperolok-olok pencipta-Nya. Imam Qatadah pernah menyatakan,” Jika seorang hamba berbuat riya, maka Allah akan berkata,’ Lihatlah kepada hambaku, bagaimana ia memperolokolokkan Aku”.

Imam Ali pernah mengabarkan kepada kita tentang ciri orang yang memiliki sifat riya. Katanya, jika ia sendirian ia malas beramal, tapi jika di keramaian ia rajin, jika ia dipuji ia meningkatkan amalnya, tetapi jika ia dicela, ia mengurangi amalnya. Adakah ciri itu pada diri kita?

Pada hari kiamat di mana pengadilan Allah ditegakkan, orang yang riya nanti akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk dengan empat nama; wahai mura’i (si pelaku riya), hai ghaadir (penipu), hai faajir (pendosa) dan, hai khaasir (orang yang merugi) ambillah pahala yang disediakan oleh orang yang karenanya kamu beramal! Kamu sudah tidak memiliki paha lagi di sisi kami.

Imam Muslim meriwayatkan hadits yang cukup panjang tentang nasib dramatik orang yang riya. Dalam suatu hadits diceritakan:

“Sesungguhnya manusia yang pertama dihukumi pada hari Kiamat adalah seorang yang mati syahid, lalu ia dibawa, dikenalkan nikmatnya maka ia mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang kamu lakukan padanya?”. Ia menjawab: “Saya berperang karena Engkau sehingga saya mati syahid”. Dia berfirman: “Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan pemberani, dan itu telah dikatakan”. Kemudian ia diperintahkan. Lalu mukanya ditelungkupkan sampai ia dilemparkan dalam neraka. Dan seseorang yang belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an didatangkan. Lalu nikmat-nikmatnya dikenalkan dan ia mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang kamu lakukan kepadanya?”. Ia menjawab: “Saya belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena Engkau”. Dia berfirman: “Kamu berdusta, tetapi kamu belajar agar dikatakan ‘Alim (pandai) dan kamu membaca Al Qur’an agar dikatakan Qari’ (pembaca Al Qur’an), itu telah dikatakan”. Kemudian diperintahkan terhadapnya, maka mukanya ditelungkupkan sehingga ia dilemparkan kedalam neraka. Dan seseorang yang dilapangkan dan diberi bermacam-macam harta didatangkan, lalu dikenalkan dan ia mengakuinya. Allah berfirman: “Apakah yang kamu amalkan kepadanya? Ia menjawab: “Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau sukai agar jalan itu dinafkahi melainkan saya nafkahi dengan harta itu karena Engkau”. Dia berfirman: “Kamu berdusta, tetapi kamu mengerjakan agar dikatakan Dermawan, dan itu telah dikatakan”. Kemudian ia diperintahkan, lalu mukanya ditelungkupkan kemudia ia dilemparkan ke dalam neraka”. (HR. Muslim). Na’udzu billah.

Awas, hati-hati puasa kita. Riya selalu mengintip-intip untuk merusak pahalanya hingga habis tak tersisa.

”Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga, dan betapa banyak orang yang bangun salat malam tidak mendapatkan apa-apa selain berjaga”. (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaemah, Ibu Majah, Ibnu Hibban dari Abu Hurayrah dan Ibnu Umar).

Allahu a’lam.

Ya Rabb, ceraikan puasaku dan qiyam Ramadhanku dari si “Riya”. Aamiin.

Ciputat, Ramadhan hari ke-15, Agustus 2010
Abdul Mutaqin
abdul_mutaqin@yahoo.com .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s