just cerpen

“brakk!!”
Aku menutup pintu kamar sekuatnya. Sebagai ungkapan marah kepada bapak. Ibu dari luar mengetuk-ngetuk pintu membujukku untuk keluar.
“lisa, keluar nak.. Bapakmu tidak bermaksud seperti itu..” katanya sambil mengetuk-ngetuk pintu kayu kamarku ini.
Aku tak menyahut. Aku tahu ibu akan menyerah dan membiarkan ku di kamar sampai aku dapat berpikir jernih lagi. Tapi aku sungguh kalut. Mengapa Bapak tega sekali melakukan ini keapadaku? Tanyaku dalam hati sambil mengelus pipi kiriku yang merah dan perih. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana bapak tadi sangat marah saat aku menunjukkan rapor semester 5 ku ini. Ya, bapak sangat mendambakan seorang anak yang pintar. Sang juara yang selalu menjadi pusat perhatian. Bapakku seorang dosen di salah satu unversitas negeri favorit di kotaku. Sangat kolot. Segala keinginannya harus dipatuhi kalau tidak ya seperti aku ini. Mendapat buah tangan selepas di pulang dari kampusnya. Tangan besi itu menamparku dan dia menghardikku .
“Dasar anak bodoh!! Percuma saja kau bapak biayai les ini itu! Tapi apa hasilnya, hah?! Lihat ini! Kau mendapat rangking buncitt!! Dasar tak berguna! Kau seharusnya bisa menjadi juara! Apa yang kau lakukan di luar sana?! Kau cabut dari sekolah hah?!” katanya sambil melirik ibu.
Ibu tahu segalanya. Dia yang mengambil raporku tadi siang. Dia hanya menunduk. Ibu berbeda dari bapak. Dia begitu menyayangiku. Mungkin karena aku anak tunggal. Perempuan lagi. Ibu sangat memanjaiku. Apa yang kuminta pasti segera di kabulkannya.
“hei! Jawab kata-kataku anak bodoh!!”
Tapi belum sempat aku berkata bapak menmparku. “plakk!!” tangan besinya mengenai pipi kiriku. Sakit. Tdak hanya di pipi, tapi di hati ini juga. Sakit hati ini di bilang bodoh. Apalgi oleh orangtua sendiri. Tanpa berkata apa-apa lagi aku langsiung berlari menuju kamarku. Aku benci bapak!! Jeritku di dalam hati.
Aku tahu aku salah. Aku tidak pernah mengikuti les. Uang les yang bapak beri aku belanjakan bersama teman untuk sekedar hang out, atau main sama teman2ku. Aku melakukannya hanya sekadr untuk mendapat perhatian bapak. Pekerjaanya yang tidak hanya sebagai dosen, tapi juga mempunya beberapa usaha meubel dan sering di undang sbagi pembicara, membuatnya jarang di rumah.
Sebenarnya aku tidaklah terlalu bodoh. Aku bisa mengerjakan soal-soal hitungan dengn mudah. Aku cukup mewarisi kepintaran bapak, sebagai dosen matemtika.

*to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s