Menentukan universitas idaman berdasarkan cita-cita hidup

Jika dibuat sebuah sistematika Perjalanan hidup Pasca lahir kedunia maka akan terbentuk sistematika umum sebagai berikut :

1. belajar

2. bekerja

3. mati/meninggalkan dunia

sistematika diatas adalah sebuah konsep dasar untuk merumuskan bagaimana dan kemana kita akan membawa hidup, idealnya konsep ini adalah konsep yang harus dikuasai adik-adik pelajar yang sedang menempuh fase pertama dari sebuah sistematika hidup yaitu belajar, berbicara tentang belajar maka tidak terlepas dari belajar formal dan belajar non formal, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa belajar formal dimulai dari bangku sekolah hingga bangku kuliah sedangkan belajar non formal dimulai dari buaian ibu hingga menjelang ajal menjemput.

Pada artikel yang penulis ikutsertakan dalam Kompetisi blog universitas islam indonesia ini penulis akan memfokuskan pada pokok bahasan belajar formal, karena hal ini menyangkut keputusan-keputusan penting yang akan menentukan masa depan adik-adik pelajar yang notabene adalah generasi penerus bangsa, kwalitas diri seorang pelajar dalam fase kehidupan bernama belajar ini memilik pengaruh yang sangat besar terhadap pekerjaan mereka kelak, dan pekerjaan tentu akan menjadi identitas sosial mereka, artinya siapa dan menjadi apa seseorang yang telah melewati fase belajar akan ditentukan oleh apa dan bagaimana pekerjaannya.

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pekerjaan, Saya ingin mengajak adik-adik pembaca yang saat ini masih duduk di bangku sekolah untuk mencari jawaban atas sebuah pertanyaan yang sangat umum, pertanyaannya begini “apa cita-citamu?” meskipun pertanyaan ini sangat sederhana namun saya yakin tidak semua orang mampu menjawab dengan cepat bahkan mungkin tidak sedikit yang masih bingung menentukan cita-citanya tapi saya sangat berharap adik-adik pelajar sudah memiliki jawaban yang 100% bulat dan yakin terhadap pilihan cita-citanya, misalnya menjadi dokter atau menjadi politikus atau mungkin menjadi jaksa, hakim pengacara dan lain sebagainya dan lain sebagainya…

Ihwal Cita-cita ini sebenarnya sudah sering di tanyakan oleh orang tua kita sejak kita masih mulai belajar berjalan namun sayangnya kita belum menyadari betapa pentingnya menentukan sebuah cita-cita karena menurut saya secara pribadi cita-cita tidak ubahnya sebuah tujuan hidup, dengan memiliki cita-cita yang bulat kita tentu akan lebih mudah mencari jalan untuk mewujudkan cita-cita tersebut dan dengan terwujudnya cita-cita maka boleh dikatakan seseorang telah sukses melewati fase belajar dan tanpa disadari telah memasuki fase kedua dalam hidup yaitu bekerja.

Adalah sebuah masalah besar dalam menentukan masa depan jika setiap pelajar tidak memiliki cita-cita, sekarang mari kita anggap saja para pelajar sudah memiliki cita-cita selanjutnya adalah menentukan jalan mewujudkan cita-cita tersebut, satu hal yang perlu diketahui oleh para pejuang cita-cita ini adalah bahwa standar pendidikan formal yang diperlukan didunia kerja saat ini minimal adalah strata-1 atau dengan bahasa sederhananya sarjana, jadi jika tujuan hidup selanjutnya setelah belajar adalah bekerja baik di perusahaan swasta maupun instansi pemerintahan maka tidak dapat dipungkiri kuliah merupakan sebuah keharusan, yang menjadi pertanyaan selanjutnya “fakultas apa dan universitas mana yang cocok sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita dimasa depan ?” jika sebagian orang tua siswa bahkan siswanya itu sendiri menentukan universitas idaman berdasarkan tingkat popularitas sebuah universitas maka dengan tegas saya akan menyatakan itu adalah persepsi yang salah, terlebih lagi jika ada asumsi bahwa universitas Idaman adalah universitas yang banyak peminatnya maka saya akan sangat prihatin mendengar statemen tersebut, karena Idaman atau tidak idaman sebuah universitas pada dasarnya dilihat dari aspek berminat atau tidak berminatnya adik-adik memasuki universitas tersebut dan berbicara masalah minat ini tentu harus kembali pada cita-cita, jika cita-cita adik-adik adalah menjadi seorang dokter maka seberapa baguskah kreadibilitas fakultas kedokteran di universitas tersebut begitu juga jika cita-cita adik-adik adalah menjadi seorang jaksa, hakim atau mungkin seniman maka hal pertama yang harus di pertanyakan adalah seberapa banyakkah alumni dari universitas tersebut yang telah sukses dengan profesi atau pekerjaannya ? Artinya semua pilihan sepenuhnya berada ditangan calon mahasiswa yang didasarkan atas cita-citanya, lalu bagaimana jika cita-cita seorang pelajar adalah menjadi pengusaha?, Secara formal sejauh ini memeng belum ada universitas yang mengajarkan cara menjadi pengusaha dan memberikan gelar Sarjana Pengusaha bagi alumninya namun hal ini bukan berarti kuliah formal tidak penting bagi calon pengusaha karena bagaimanapun hakikat kuliah yang sebenarnya bukanlah untuk mencari kerja melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita (sebagaimana yang telah saya Katakan di awal).

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa memilih universitas idaman harus didasarkan pada cita-cita, dan universitas idaman belum tentu universitas yang tepat untuk calon mahasiswa karena memilih universitas idaman harus disesuaikan dengan aspek kebutuhan kerja yang ingin dijalaninya kelak, dengan demikian dapat di devinisikan universitas idaman adalah universitas yang sesuai dengan cita-cita masing-masing calon mahasiswa.

source: http://mistertrasmianto.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s