Jalanan adalah Sekolah Kehidupan

Sabtu pagi itu pukul 9 WIB saya sudah duduk manis menunggu si teteh di masjid alfurqon UPI. Beberapa menit kemudian datang Novi, ternyata dia juga ikutan kegiatan yang mau saya ikuti bersama si teteh yang sedang ditunggu-tunggu. Sekitar 15 menit kemudian, akhirnya si teteh datang juga. Alhamdulillah..

“yuk kita berangkat” ajak si teteh langsung. Beberapa menit kemudian kami sudah berada di dalam angkot Margahayu-Ledeng. Kami akan ke Kiara condong. Tempat kegiatan yang menjaid tujuan kami. Perjalanan selama di angkot dari Ledeng menuju Kircon memakan waktu sekitar 90 menit, ditambah macetnya jalanan kota Bandung. hmm… resiko kota besar dengan penanganan yang kurang optimal sepertinya.

Sembilan puluh menit kemudian, kami bertiga telah sampai di kawasan kiara condong,  kemudan beristirahat sebentar di warung untuk membeli sebotol air mineral melepas dahaga setelah lebih sejam berada di dalam angkot dengan cuaca yang panas.

setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju rel kereta api stasiun Kiara condong. Disinilah kami bertemu anak-anak yang akan “bermain” bersama kami. ya, kami bertiga, bersama teteh dari UIN dan akang2 dari unpad, tergabung dari kegiatan belajar untuk anak jalanan dari FSLDKN sendiri.

Hari itu adalah hari pertama saya mengikuti kegiatan ini. rasa penasaran saya akan kehidupan anak jalanan, membuat saya untuk ikut kegiatan ini. Baru sampai di lokasinya saja, sudah membuat saya merasa kurang nyaman atas kondisi disana. jalanan disana penuh dengan kendaraan. motor, mobil, angkot, truk, gerobak semuanya bercampur melalui jalanan dua arah yang kecil. Antar kendaraan tersebut berlomba-lomba saling mendahului untuk sampai ke tujuan masing2. asap dari knalpot motor mengepul2 hitam. sepertinya sudah setaun tidak diservis. begitupun angkot2 yang sudah tidak layak pakai menurut prosedurnya, tapi masih tetap jalan walau sering ngadat di tengah jalan dan memperpanjang kemacetan kota.

Setiap 30 menit , kereta api lewat melalui rel, dan membelah jalan raya, sehingga para pengemudi kendaraan harus bersasbar menunggu samai kereta api selesai melewati jalannya.

Sampah berceceran di sekitar jalan raya, rel kereta api dan memang di sepanjang jalan ada, dengan bau yang menusuk. kami tiba di kantor pengawas kereta ap. begitu saya menyebutnya. saya bingung menyebut para pahlawan ini. Ya, merekalah yang bertugas untuk membuka pagar kereta api menuju stasiun, memberi sinyal atau sirene adanya kereta yang akan melewati jalan raya dan menutup plang kereta api yang berwarna belang merah putih ini.

Mereka mengingatkan saya akan video klip Wali yang berkisah tentang kehidupan anak penjaga rel kerata api ini. Mereka pahlawan, melakukan pekerjaan yang dianggap orang tidaklan penting. Bagi saya mereka memiliki peranan yang penting dalam ketertiban pengguna jalan raya ini. Melakukan hal yang membosankan, membunyikan sirene, membuka pagar, menutup plang, dan lainnya tiap 30 menit. Betapa melelahkan apalagi di panas terik matahari yang membakar.

Selain itu ada juga anak-anak jalanan yang akan kami bina. Saya karena masih pertama kali, perasaan saya campur aduk. tidak nyaman melihat kondisi disini, bersyukur kehidupan saya ternyata lebih baik dari mereka, pusing dengan kebisingan bunyi klakson serta asap nya yang hitam serta panas terik matahari.

Ada santi, seorang remaja sepertinya, tapi keliatan lebih tua daripada umur sebenarnya. ada sony yang pintar, tapi pemalas, begiru kata si teteh. Saya sedikit merasa takut dan bersalah dengan perasaan yang tidak mengenakkan ini. kenapa saya harus bersikap menjauh dan menghindar kepada mereka. Mereka tidak salah, hanya nasib yang telah ditetapkan pada mereka seperti itu.

Mereka, anak jalanan ini yang mencari makan sendiri sedari kecil. Ada yang berumur 3 tahun sampai belasan tahun. Alhamdulillah, mereka punya niat baca. saat si teteh ngasih komik detective conan, mereka malah berebut untuk membacanya. Ada tawa ketika mereka serius membaca. Hal yang berkesanbai saya yang petama kali melihat pemandangan seperti ini.

Mereka memiliki minat untuk maju. Tapi selalu terhenti karena faktor ekonomi. Ya, inilah wajah asli negara kita yang saya temukan di kota ini. Dan memang betul, jalanan adalah Sekolah Kehidupan. (saya mencomot kalimat ini dari pembicaraan teman sebelah)

Kita belajar untuk melihat dunia di luar kehidupan biasa kita. “Keluar dari zona nyamanmu” maka kamu akan lihat realita disekitarmu. Dan semakin bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah Ia berikan kepada kita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s