Eine Frau mit ihrem Traum

“huft, akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga” mae berkata pada dirinya sendiri. Sambil mengelap keringat di dahinya,, dia pun duduk sejenak di atas kasur kamar kosannya. kamar yang berukuran 3×4 m ini memang kamar yang sangat nyaman baginya. Tempat melepas lelah. dengan cat warna krem yang menyejukkan pikiran serta 2 jendela yang besar. Besar untuk ukuran kamar kosan sekitar Bandung ini. Biasanya malah tidak ada jendela sama sekali. Sehingga membuat pikiran semakin suntuk setelah berlelah-lelah di luar sana. “Betapa beruntungnya aku” bisik Mae. “Beruntung mendapatkan kamar yang menyenangkan ini, bersama teman2 kosan yang hangat dan menyenangkan”
Mae memiliki teman2 kosan yang sama-sama urang rantau. Ya, Mae merantau jauh dari keluarganya di Pariaman sana. Sebuah kota kecil yang hangat di Pantai provinsi Sumatera Barat . Dan hari ini Mae kebagian jadwal memasak di kosannya. Bukan masalah baginya, karena sejak kecil sudah dibiasakan memasak di rumah, membantu Uwatnya di dapur. Uwat sering bilang “anak gadih ko harus pandai mamasak, bisuak ka balaki gai mah” Mae pun senyum mengingat masa-masa itu. Masa kecil yang menyenangkan tanpa perlu susah-susah memikirkan betapa banyak hal yang sedih dan menyenangkan datang silih berganti.
Bahkan pulang sekolah sering main-main dulu bersama teman-teman sampai maghrib menjelang. Betapa sering dimarahi orang rumah jika pulang sesore itu. dasar emang anak bandel malahan nyengir saja waktu itu.
“Sekarang aku memang sendiri disini. karena tidak ada keluarga. Benar-benar jauh dari keluarga.  Tapi aku punya Allah yang selalu menemani kapanpun dimanapun 24 jam. Aku beruntung memiliki teman-teman yang baik di kosan, di kampus, di organisasi dan juga teman-teman SMA yang juga sama-sama marantau di Kota Kembang ini.”

“Aku ingin membahagiakan orang tua ku, kakak-kakak dan keluargaku.” bisik Mae kepada dirinya. “Aku tidak hanya ingin segera lulus dengan nilai memuaskan, tapi juga juga dengan ilmu-ilmu yang begitu banyak yang telah didapatkan disini. Ada banyak kesempatan disini. Tapi aku tidak ingin berada disini seterusnya. Aku ingin sekali pulang dan mambangun nagari.”
Lalu bagaimana dengan Jerman?” Suara hatinya berbicara.

“Entahlah, aku ingin bahkan sangat ingin menginjakkan kaki kesana. Ke negeri Hitler itu. Selalu ada daya tarik untuk kesana. Terbang kesana. Aku sudah pernah mendaftar konferensi di Jerman. Sayangnya belum beruntung. Saat itu aku benar-benar down. Bertanya kepada kakak tingkat yang telah mengikuti program Au Pair. Aku tertarik. Tapi sayangnya masih belum beruntung untuk mendapatkan GF. Untuh PH Heidelberg aku pun sudah tidak memiliki kesempatan. IPK ku tidak sampai ke batas persyaratan. Schade. DAAD atau sommerkurs. itu yang ingin aku raih. Aku sekarang sangat pesimis. Bahkan untuk melanjutkan studi di jurusan ini. Dua orang teman ku sudah pindah jurusan. Sepertinya mereka akan bahagia dan benar-benar telah menemukan apa yang mereka inginkan. Tapi aku?” Mae menghela nafasnya panjang.
“Aku memang secara sadar ingin  kesini. Tapi sekarang aku benar-benar bingung ke diri sendiri.  Aku hanya yakin untuk niat, doa dan usaha yang harus sangat keras. Hingga setelah lelah itu semoga Allah menghadiahi sesuatu yang terbaik bagiku”

Lama Mae berbicara dengan pikirannya sendiri. Sambil melihat langit biru yang cerah melalui jendela kamarnya, Mae pun berkata dalam hati “Ya, Aku bisa. Harus bisa untuk mencapai mimpi-mimpiku. Hanya tekad sekuat baja, niat tulus Lillah serta doa kepada Nya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.” Yakin Mae dalam hati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s