Karena diary

Awalnya karena diary.

Diary yang merupakan tugas wajib dari bu yunita, guru bahasa indonesia saya di kelas X.6  d sma 1 pariaman. Karena beliau saya suka menulis.

Ketika itu semester 1 di SMA. masih unyu unyu dan polos banget lah. Bu yunita sejak awal pertemuan memberikan tugas semesteran yaitu bikin diary,  menulis diary setiap hari. Tak peduli kegiatan kita seharian cuman sekolah,  pulang,  nonton tivi,  ngerjain peer dan tidur,  pokoknya TULIS!! 

Walaupun bagi kita tidak berkesan sama sekali, tapi nanti,  5 atau 10 tahun mendatang,  ketika kalian membaca ulang diary tersebut,  maka akan banyak hikmah yang akan kalian temukan.

Ya, saya pun menulis diary. Awalnya menjengkelkan juga tugas ini. Ngapain sih nulisin kegiatan tiap hari?  Mana ga ada yang penting lagi. Kegiatan cuman itu itu aja yang berulang tiap hari. Rutinitas.

Awalnya saya pun susah menulis tiap hari. Kadang saya menulis per minggu. Saya preview kegiatan saya selama seminggu. Lalu saya tulis diary harian dalam sekali seminggu. Tapi itu cukup melelahkan. Saya harus mengingat ingat apa saja yang saya lakukan hari senin,  selasa,  dan rabu.
Biasanya saya menulis diary jika besoknya mata pelajaran bahasa Indonesia.

Ternyata benar kata pepatah. “Bisa karena biasa ”

Menulis diary sekarang menjadi habit saya. Menjadi suatu kebiasaan yang menyenangkan dan melegakan. Saya yang seorang introvert dan melankolis tidak perlu bercerita pada orang lain. Saya tinggal menulis uneg uneg saya di lembaran lembaran kertas kosong itu.

Ketika saya membaca ulang diary saya ketika SMA,  saya hanya tersenyum. Beginilah tulisan saya dulu,  sifat saya yang kekanak kanakan ternyata begini. Dan banyak hal lucu dan hikmah yang saya dapatkan.

Sekarang saya memiliki beberapa buku diary. Kadang ketika saya suntuk saya baca lagi. Dan saya temukan cerita dimana saya berada posisi yang sama kembali. Dimana hati manusia memang fluktuatif. Dan ada banyak emosi yang harus dikendalikan.

Terimakasih bu yunita telah mengajarkan saya menulis

Cara mudah untuk menulis :
1. Menulis dari sekarang
2. Menulis apa yang kamu rasakan
3. Mulailah menulis diaru

A journey to malang

2 minggu yang lalu saya berkesempatan jalan jalan ke malang. Alhamdulillah,  Allah Maha Baik. Ketika saya berucap dalam hati saya bahwa saya ingin melepas penat dan beban saya selama di kampus,  saya berkesempatan untuk “jalan -jalan ” ke malang.

Dan itu semua gratis.
Saya selaku sekretaris umum di UKM penalaran dan penelitian,  yaitu LEPPIM UPI diminta untuk menjadi wakil dari 2 orang untuk ke malang. Awalnya saya menolak. Karena saya sudah beberapa kali absen kuliah. Karena acara kampus, ketika nikahan kakak saya dan meliburkan diri d awal kuliah.
Saya bukan tipe orang yang mudah menggampangkan segala persoalan. Dan hal ini awalnya mengganggu saya.
Tapi pada akhirnya saya pun berangkat.

Persiapan untuk mengajukan proposal ke rektorat UPI hanya memakan waktu 2 minggu. Saya sempat pesimis juga awalnya apakah dana akan cair atau tidak.

Alhamdulillah setelah ikhtiar dan dukungan dari direktur LEPPIM agar pantang menyerah,  akhirnya H-1 dananya cair.

Besoknya saya bersama rekan saya pun langsung berangkat ke Malang menggunakan kereta api ekonomi. Perjalanan memakan waktu sekitar 16 jam. Pergi pukul 15.30. Sampe di malang besoknya pukul 8 pagi.

Perjalanan yang cukup melelahkan. Tapi menyenangkan saat sampai d malang. Malang bukan kota yang cukup dingin. Dibandingkan dengan Bandung. Tapi saya begitu excited saat sampai d malang. Ketika telah sampai di stasiun kereta api malang kota baru,  hal yang saya ingat adalah film 5cm. Dimana salah satu adegannya ada di stasiun malang kota baru.
Hhmmm….

image

Foto saya d depan stasiun. Jadi kangen malang

#cerita bersambung ke part selanjutnya.
Saya mau rapat dulu 🙂