Barakallahu Lakum (Mungkin, sebuah kado Pernikahan)

Story 1

Kita menjadi sepasang sahabat sejak masih kanak-kanak. Di umurku 5 tahun dan di umurmu 4 tahun. Aku mungkin lupa bagaimana kita pertama kali bertemu dan berkenalan. Apakah malu-malu seperti anak perempuan yang baru menemukan teman diluar bagian keluarganya atau langsung akrab bermain bersama dan berkejar-kejaran di di halaman tempat tinggalkita yang luas dan sejuk. Ya, aku lupa. Atau kita pertama kali bertemu di Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa?

Dari Taman kanak-kanak ini kita menjadi sahabat yang selalu berbagi kebahagiaan. Karena masa ini memang masa yang penuh kebahagiaan. Nothing that was worrying us. Setiap pulang TK yang biasanya diawal-awal sekolah selalu diantar jemput, tetapi setelah kita berkenalan bersama tiga teman lagi, kita berlima menjadi genk yang selalu bermain-main sepulang sekolah. Hal lucu yang paling aku ingat ketika pulang TK kita main-main dulu ke sungai dan ingatkah kau, ketika kotak makanan salah seorang sahabat kita hanyut di sungai. Lalu kita berkejar-kejaran menangkap kotak makanan itu, agar dia tidak kehilangan otak makanan itu dan tidak dimarahi sama emaknya. hihi. Betapa kita baru menyadari kita sudah bermain terlalu lama ketika baju sekolah yang masih akan dipakai untuk esok hari itu basah. Dan  dasar anak kecil, kita hanya nyengir sambil jalan kaki menuju rumah kita yang searah. Syukurnya, baju itu pun kering ketika kita sampai rumah. Rezeki anak kecil mah gitu 🙂

Lalu kita berlima masuk ke SD yang sama lagi. Bergabung dengan teman-teman yang baru. Kau yang memang orangnya supel, mudah sekali mendapat teman baru. Sedangkan aku yang tipe introvert, begitu malu untuk memulai berkenalan. Dan salah satu teman genk kita dari TK, pindah ke kota lain saat menginjak kelas 2 SD. Aku ingat waktu itu kau begitu sedih. Aku pun sedih, tapi biasa saja. Tapi sedih mu berbeda. Dan aku baru tahu saat kita berbincang di masa SMA kita. Ketika kita makan jagung bakar di Bypass pariaman. Kau bilang, dia cinta pertama mu. Akupun terbatuk. Terungkap sudah alasan kau begitu sedih waktu itu. Kau tidak banyak bicara mengenai kehidupan pribadimu. Karena aku akan merasa bersalah untuk itu. Ketika kita berpisah di SMP dan SMA. Tapi kita masih suka main. Ya, rumah kita begitu dekat. Akupun menyayangi dan sangat menyayangi ibumu dan nenekmu seperti aku anggap ibu dan nenek ku sendiri. Kau tahu dear, mataku sudah berkaca-kaca hanya dengan menulis tulisan ini. Kau boleh menyebutku berlebihan atau lebay.

Lalu kita pun lulus SMA. Aku lanjut kuliah di bandung. Aku ingin kau bisa kuliah. Tapi seperti jalan cerita kita masing-masing berbeda. Sebut saja aku manja, diberikan garis hidup yang berbeda darimu. Iya, aku beruntung, sangat beruntung. Maafkan aku yang belum bisa membantumu apapun. Apapun.

Tahukah kau? Kaulah mutiara berharga. Perempuan yang cerdas, perempuan yang kuat, perempuan yang paling sabar, perempuan yang selalu ceria, perempuan yang selalu berbaik hati membantu orang lain, padahal kau pun memiliki banyak urusan di keluargamu untuk kau urus. Menjadi anak sulung mengajarkanmu menjadi sosok seperti itu. Menjadi sosok yang  bijak.

Aku ingat ketika kau meneleponku, kau memiliki banyak hal untuk diceritakan. Ibumu, adik-adikmu, teman-temanmu. Tapi aku yang saat itu sedang bad mood hanya karena tugas kuliah yang menumpuk tidak terlalu antusias dalam menanggapimu. Padahal aku tahu, beban hidupmu jauh jauuuhh lebih berat dari hidupku yang masih menerima semua dari orang tua. Betapa bodohnya aku saat itu. Betapa egoisnya. Iya, egoisnya seorang anak yang manja hanya karena jauh dari keluarga.

Ah, atau saat itu kau merantau jauh ke jakarta. Mencari hidup yang lebih baik katamu. Lalu kau bilang, tidak tahan jauh dari ibu dan adik-adik. Kau begitu khawatir dengan keadaan mereka. Oh dear, aku malah makin senang jauh dari keluarga karena tidak ada hal yang aku khawatirkan untuk mereka. Betapa naifnya.

Lalu awal tahun ini aku mendapat kabar dari kakakku. Kau akan menikah. Ya, benar-benar menikah. Aku terkejut. Masih tidak percaya teman main ku dari jaman TK akan memulai kehidupan barunya. Suatu hari akupun meneleponmu. Mengklarifikasi berita itu. kau pun menjawab berita itu benar dengan tertawa kecil yang malu-malu. AH, sudah kuduga kau akan malu menceritakannya. Tapi bukan aku namanya kalau tidak bisa mendapatkan cerita utuhnya.

“Dijodohkan”. Itu alasan yang kau bilang. “Doakan yang terbaik ya im” pinta kau untuk calon tersebut. Bagaimanapun kau baru mengenalnya. Mungkin jarak kalian dari awal perkenalan sampai akad itu sekitar 6 bulan. Masya Allah. “Iim harus tibo ka nikahan peni yo” pinta kau lagi. Dan aku pun dengan yakin mengiyakan, karena tanggalnya setelah hari ied. Alhamdulillah, aku bisa hadir pada hari akadmu. Dan qadarullah, tidak bisa menghadiri hari walimah mu yang berbeda 3 hari. Aku harus balik ke bandung. Masih ada hal yang harus aku selesaikan. Kau tahu? dalam hati aku benar-benar sedih. Sahabat macam apa ini, yang tidak bisa hadir ke walimah sahabatnya? Ah, maafkan aku sahabat. Untuk di hari walimah mu, aku selalu mendoakan  yang terbaik. Menjadi istri Sholehah, menikah untuk menggapai ridho-Nya. Aamiin. Semuanya sudah di rangkum di surat dalam paket kado pernikahan dariku. Semoga kau suka Kado yang ala kadar itu. hee. Selamat menggapai cinta-Nya dear Feni Kamelia. Aku mencintaimu karena Allah.

29 Juli 2015

Story 2

Ini aneh. Kita baru bertemu 2 kali dalam kehidupan kita. Iya, dua kali! Pertama kali saat SMA, waktu itu Nita yang memperkenalkan aku padamu. Aku ingat sekali, kita bertemu di sekitar Kampus UNP Padang. Kau pun memberikan bungkusan makanan sebagai wujud pertemanan saat itu. Bukan untukku, untuk Nita tapinya. Kesan ku waktu itu biasa saja. Sudah kebiasaanku untuk tidak bisa cepat akrab dengan orang yang baru dikenal. Tapi aku menerima pertemanan denganmu. Aku lihat kau orang yang menyenangkan saat itu. Walau kau lebih banyak berbicara dengan Nita. Bagaimana dengan ku? Aku hanya mengangguk saja, atau ikut tertawa dan tersenyum dengan pembicaraan kalian.

Waktu pun berlalu. Aku tahu kau melanjutkan kuliah di jogja. Aku tahu dari Nita. Hanya sebatas itu. Kita berteman di Facebook. Kadang menyapa. Saya hello, how are you? Aku pun suka membaca statusmu yang penuh hikmah. Lalu ketika memasuki jaman WA dan line, kita pun berbincang disana. Hanya sekali-kali.Atau sekali saja? Aku tidak terlalu ingat. Tapi tidak berkali-kali seperti teman lama yang merindukan sahabatnya. hihi.

Kita pun bertemu kembali. Kita sudah lama tidak saling komunikasi. Namun saat itu kau ingin ke Bandung. Mengikuti Program Santri di Daarut Tauhiid. Aku yang saat itu masih sibuk dengan urusan kampus dan organisasi tidak bisa menemanimu. Bahkan kau harus menungguku berjam-jam di masjid DT untuk bisa beristirahat sebentar di Kosanku. Betapa terkejutnya aku saat bertemu dirimu di masjid DT. Kau pucat, kelelahan, seperti mau pingsan, yang aku tahu alasannya di kemudian hari. Aku tidak berani menanyakan hal apapun padamu selain mengantarkanmu untuk istirahat, melepas penat. Esoknya kau pun sudah masuk asrama santri. Aku dengan jahatnya tidak bisa mengantarkanmu,, dan ternyata itu pertemuan kita terakhir sampai hari ini.

Sebenarnya aku memiliki banyak pertanyaan untuk dirimu. Apa yang terjadi padamu? apakah kau baik-baik saja? Maukah kau bercerita sedikit padaku? Tapi aku tahan. Aku tahu, kau belum pada tahap “bisa bercerita secara dalam” denganku. Walau aku sudah penasaran setengah mati. hee.

Dan aku ingat waktu itu di awal agustus kau chat denganku. Saat itu aku pikir ini aneh. Kau pasti ingin mengabariku hal yang sangat penting. Dan ternyata benar saja dugaanku tepat 100%. Kau mengabari hari pernikahanmu. Aku tidak terlalu terkejut, karena sudah memperkirakan hal ini. Aku pun meneleponmu. 60 menit tidak cukup untuk kita bercerita dan bernostalgia. Apalagi diriku yang penasaran mengenai cerita pernikahanmu yang unik. Kau mengirimiku foto undangan dan foto dirimu. You know, aku merindukan dirimu. Wajahmu yang bersahaja, tersiratnya keteguhan dirimu. Kau makin kurus saja pikirku waktu itu. Aku pun lagi-lagi tidak bisa menghadiri pernikahan mu di Padang dan di Jogja. Masih terjebak dengan rutinitas di Bandung. Sedih. Tidak bisa memberi kado pernikahan selain doa. Doa untukmu, agar menjadi istri sholehah. Aamiin. Dan aku banyak belajar darimu. Walau kita baru bertemu dua kali, tapi aku merasa benar-benar mengenal dirimu.

Mungkin ini yang namanya ukhuwah karena Allah. Uhibbuki Fillah Ukhty Dini F. Nida 🙂

15 Agustus 2015

Story 3

Aku mengenalnya pertama kali di Bandung. Tinggal satu rumah di rumah kontrakan di daerah cilimus. 2 Tahun kita bersama-sama dengan 5 penghuni lainnya. Kita menyebut penghuni rumah ini “cilimus 10’s family”. Iya, namanya emang gak keren, Jauh dari kata kece dan gaul. Tapi lebih enak di dengar dari pada nama “Gadih minang” atau “anak parantauan”. Nama yang pertama terdengar lebih normal saat itu. Karena kita yang sudah berdebat berkali-kali tidak bisa menyatukan ide hanya untuk sebuah nama. Oke, untuk kasus ini saya setuju dengan ucapan William Shakespeare ” Apalah arti sebuah nama “. hehe.

Aku paling muda saat itu. Benar-benar mendapat curahan perhatian dan kasih sayang dari kakak-kakak penghuni kontrakan yang semua sedang melanjutkan kuliah S2 di UPI. Benar-benar nikmat yang tidak bisa didustakan. Makasih ya Allah. Sebenarnya dirmu termasuk orang yang cerewet bagiku. Menasihatiku dengan berbagai hal yang sudah kuketahui, tapi jarang aku amalkan. Layaknya seorang ibu, kau sering menceramahiku seperti seorang ibu beneran. Dan aku suka ketika kau bercerita panjang lebar ketika aku pulang malam, ketika aku telat bangun, ketika aku tik bisa ikut sholat subuh berjamaah, ketika aku lebih asik menonton daripada belajar, ketika aku masih berisik di tengah malam yang hening, ketika aku mengeluh dengan rutinitas dan tidak bisa memasak seenak dirimu memasak. Hal yang aku sukai dari dirimu satu lagi adalah masakanmu. Aku suka eksperimen mu ketika memasak, karena kau tidak pernah salah dalam meracik bumbu. Atau memang seleraku sudah jatuh cinta pada setiap makanan yang kau buat?

Teruntuk Kak Eka Yusmaita yang sudah domisili di Padang, Barakallah. Maafkan adikmu ini belum bisa menghadiri Pesta pernikahanmu. Alasannya sama dengan di atas. hehe. Kadonya sudah udunan sama genk cilimus yang lain. Doaku tetap sama: Semoga jadi Istri Sholehah. aamiin. Terimakasih nasihatmu yang begitu berarti bagiku. 🙂 Uhibbukifillah

15 Agustus 2015

Story 4

Ini tentang Murobbiyah pertamaku. Pertama kali aku hijrah. Pertama kali aku mengenal dunia ini. Beliau seorang  yang penuh kelemah-lembutan. Dan aku suka kelemahlembutannya itu. Cara beliau menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan yang ada dikepalaku dan hal-hal yang aku belum pahami. Itu saat aku kelas 2 SMA. Sebenarnya diajak seorang teman yang juga baru aku kenal.  Dan aku menemukan inilah dunia yang aku cari dan aku menikmatinya.

Aku mengenal islam lebih dalam di lingkaran ini. Biasanya setiap hari jumat. Ba’da Keputrian kita lanjutkan lagi dalam lingkaran yang lebih kecil. “Agar materinya lebih tersampaikan” katamu menjawab protes ku saat itu yang udah ingin segera pulang. Dan aku pun menurut. Akupun bingung kenapa begitu menurut dengan pintamu saat itu. Satu semester pun telah berlalu, kau pun pindah domisili. Saat itu kelompok kami pun ganti Murobbiyah. Aku sedih karena sudah terlanjur menyukai caramu menghidupi kelompok kami. Tapi Murobbiyah selanjutnya juga menyenangkan. Dan sejak saat itu kita tidak pernah bertemu lagi. Sampai kabar terbaru bahwa kau mengundang kami ke Payakumbuh, untuk menghadiri walimah mu. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa. Begitu ingin menghadiri hari-mu. Tetapi aku hanya diwakilkan dengan teman kelompok dulu. Alhamdulillah masih bisa mengetahui kabarmu dari foto yang mereka kirimkan. Untukmu kak, terimakasih sudah mengenalkan Islam dengan baik dan ciamik padaku. Untuk menjadi pribadi yang baik, selalu mengamalkan hal-hal baik, menjadi orang yang berguna dan mengajarkan arti pentingnya sebuah mimpi. Syukron Jazakillah Kak “R”. Semoga menjadi istri Sholehah ya. Uhibbukifillah.

Tulisan ini teruntuk beberapa sahabat yang telah memulai hidup baru mereka. Terimakasih telah menginspirasi seorang “saya” yang penuh hina ini.

Salam Penuh cinta

Ikrim

Bandung dan Dingin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s