Best Friend Dunya Akhirah

“Which blessing of your Lord will you Deny?”

Petikan ayat dari surat Ar-Rahman ini sudah berkali-kali mengingatkan saya mengenai nikmat Allah yang tak terhitung. Pagi ini dua sahabat saya sudah memenuhi chat Whatsapp dengan obrolan mereka yang penuh  tawa, canda dan  nasihat. Di awali dengan pertanyaan “Alah makan randang chen?” dan berhasil bikin saya misuh-misuh ga jelas karena saking pengennya mencicipi rendang. Apalagi rendang buatan rumah, masakan kakak-kakak saya dan masakan ibu yang selalu menggoda. huhu.

Ditambah foto makanan yang dikirim ukhti satu ini menambah saya ngiler pagi-pagi karena perut yang belum terisi. But i feel so blessed. Bentuk perhatian nya membuat saya sedikit senang. Setidaknya kami tidak membicarakan topik yang sudah berbulan-bulan ini menjadi hot topic dari setiap obrolan kami yang terkadang geje tapi penuh hikmah.

Walau pada akhirnya obrolan tersebut berakhir juga pada “hot topic” ini. hehe. Kayaknya emang pembicaraan yang akan terus dibicarakan di umur “twenty-something” ini deh yak :p

Kelamaan intermezzo nya nih. Saya mau menulis tentang Best friend dunya akhirah. aamiin. Tentang dua sahabat saya ini yang bagi saya sendiri mereka adalah nikmat yang diberi Allah kepada saya. Mereka adalah pengingat, motivator, guru, teman berantem, teman “kamantiak an”, teman galau, teman belajar, dan teman curhat pastinya. Kami sudah berteman lama, tapi baru “lengketnya” ketika satu bimbel. Bimbel Nurul Fikri Padang  tempat yang menjadi bersejarah bagi kisah perjalanan persahabatan kami. Dan di wisma Az-zahra menjadi tempat tinggal yang penuh dengan cerita suka duka. Seperti yang saya tulis disini.

Sebut saja N dan F. karena saya belum dapat ijin untuk menuliskan nama mereka di blog ini. heheu. N dan F  (Nurul dan Fikri, #eh) adalah dua orang yang berisik. sangat berisik malahan. Kami sering telponan, lebih tepatnya F yang sering menelpon karena dia selalu memiliki gratisan pulsa dan gratisan nelpon ke sesama nomor telkomsel dan memiliki kepekaan tingkat tinggi alias kepo (peace :p). Ngomong2 soal kepo dan peka, saya adalah satu-satunya orang yang ga peka. Sampai2 si N kehilangan kesabaran waktu ngasih tahu soal si “anu”. afwan dear :).  Berbeda dengan N yang saya rasa jarang menelpon (atau memang tidak pernah (?) ) karena dia memiliki kebiasaan suka menghilang dan timbul lagi ke permukaan tanpa diketahui sebabnya. Maklum, dia memiliki jam terbang yang tinggi, karena harus mengejar target yang akan diselesaikan akhir tahun ini sampai awal tahun depan. (coba tebak? :p) Kalau saya sendiri suka menelpon kalo  lagi ada butuhnya. Butuh curhat, butuh klarifikasi info yang sedang hangat, butuh motivasi, butuh nasihat dan butuh duit (:p).

Saya juga bingung kenapa bisa betah berteman dengan dua orang berisik ini. You know, kalo kita telponan, persentase saya ngomong cuman 1%. Sisanya 99% mereka yang ngobrol-ngobrol. Pernah suatu hari saya ketiduran pas kami lagi telponan. Mungkin di samping faktor ngantuk juga faktor sugesti bahwa ketika mereka ngobrol saya menganggapnya seperti lagu nina bobo. haha. Sampai sekarang kalau lagi telponan saya selalu di ingetin buat ga ketiduran. Padahal mereka tahu, hobi saya di samping makan adalah tidur :p

Satu hal yang saya sadari dari ukhuwah ini adalah ukhuwah berlandaskan iman. Bahasa kerennya ukhuwah islamiyah. Pertemanan yang awalnya faktor pengen berubah jadi wanita sholehah. #eaakk. aamiin. Lalu mengikuti forum Annisa di Rohis SMAN 1 Pariaman yang masya Allah makin keren, belajar ilmu agama bersama kak rahmi, kak nila, kak lia, kak eki, dan kakak2 lainnya yang saya lupa namanya, hiks. Setiap Jumatan kita belajar mengupgrade diri sama kakak-kakak pembimbing tersebut. Belajar fiqh wanita, bagaimana hubungan dengan lawan jenis, ga bolehnya pacaran, belajar ilmu tahsin, belajar kerajinan dari kain flanel, belajar bikin bros sendiri, masak-masak dan resep-resep menjadi pribadi yang disenangi Allah lainnya. (Pokoknya Forum Annisa’ SMAN 1 Pariaman the best dah)

Seorang teman yang baik itu seperti yang terkisah dalam surat Thaha [20 : 24-36] yang saya kutip dalam artikel Virtual Mosque mengenai Hadiah seorang teman. Ketika Nabi Musa a.s. meminta seorang teman, beliau Musa a.s. telah memberikan kualifikasi2 nya, yaitu yang saling menguatkan, saling berbagi urusan dan selalu mengingat pada Allah.

Let’s take a look at the qualities that Musa (as) has recommended for a close companion:

“Increase, through him, my strength”

“And let him share my task”

“That we may exalt You much and remember you much. Indeed, You are of us ever Seeing.”

Q.S [20: 31-33]

Dear N dan F, semoga kalian tidak pernah bosan melanjutkan tali ukhuwah ini sampai akhirat kelak, menjadi penguat dan saling menguatkan, saling berbagi segala suka duka, saling nasihat menasihati ketika salah satu dari kita perlu diingatkan, dan selalu saling mengingat pada Allah SWT. aamiin. Uhibbukafillah.

Ketika [mungkin, Naudzubillah] diri ini tidak kalian jumpai di surga, semoga kalian bisa menjadi penolong iim untuk bisa memasuki surga Allah. Aamiin. :’)

Ikrim Maizana

Bandung 25.09.15

Yang sedang rindu tapi bukan galau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s