Ibn al-Qayyim Says

Ibn al-Qayyim Says:

Three Things sickens the body:
1) talking too much.
2) sleeping too much.
3) eating too much.

Four things destroys the body:
1) stress.
2) grief.
3) hunger.
4) staying up late at night.

Four things dries the face and takes away its joy and respect:
1) lying.
2) insolence.
3) asking too many questions without knowledge.
4) indecency.

Four things brings to the face joy and respect:
1) piety.
2) truthfulness.
3) generosity.
4) self respect.

Four things brings Rizk (provision):
1) Night full prayers.
2) frequent remembrance of Allah before dawn.
3) continues charity.
4) the remembrance of Allah at the beginning and at the end of the day.

Four things prevents Rizq (provision):
1) Sleeping early in the morning (after Fajr).
2) lack of prayers.
3) laziness.
4) treason and betrayal.

Bab-al-Tib( Zaad Al Ma’ad ) 378/4

Source : Asefiq Tumblr

 

Advertisements

Quran Fighter

Dahulu kami meninggalkan Al-Qur’an,” ujar seorang bapak dari keluarga Syamallekh di Masjid Syaikh ‘Ajleyn sebakda Subuh ketika kami ber-halaqah Qur’an.”Maka Allah pun mencampakkan kami dalam kehinaan di kaki penjajah zionis. Kami terjajah, tertindas, dan hancur; lalu mencoba mencari pegangan dalam gelap, harta, kedudukan, senjata. Tapi itu semua hanya membuat kami kian terpuruk. Kini kami kembali pada Kitabullah; alhamdulillah, kami bisa berdiri tegak, berwajah cerah, dan bersemangat dalam perlawanan seperti kalian saksikan”

(Salim A Fillah pada Lapis-Lapis Keberkahan hlm. 341)

Continue reading “Quran Fighter”

A Letter to 1 Jan 2017 Myself

Teruntuk dirimu ikrim di satu tahun mendatang. Satu tahun belakangan ini selama tahun 2015 telah terjadi banyak hal. Belajar hal-hal baru melalui PPL sebagai guru bahasa Jerman selama kurang lebih 5 bulan. Menjadi bagian dari pejuang ilmy di MITI KM dan belajar banyak hal mengenai profesionalitas dan kerja cepat walau jarak yang berjauhan. Menghadiri banyak acara wisuda dan pernikahan sahabat terdekat dan turut berbahagia akan hal tersebut. melalui berbagai masalah dan kesenangan, tekanan, kontrol emosi, jatuh bangun mengejar impian dan iman yang terlalu sering naik turun. Melakukan perjalanan yang menyenangkan bersama teman-teman, perjalanan singkat dan jauh untuk pulang dan pergi ke pariaman-bandung. Continue reading “A Letter to 1 Jan 2017 Myself”

Letters from Students

Baru pindahan kosan dan nemu kertas-kertas yang berisi pesan kesan murid-murid yang saya ajar tahun lalu. Awal tahun kemarin adalah awal tahun yang buat saya nervous dan memberi banyak pelajaran sebagai mahasiswa tahun akhir, dimana saya harus menjalankan Praktek Profesi Lapangan di sekolah sebagai seorang guru. Pastinya ada banyak rasa, baik senengnya dan sedih serta keselnya. Hehe. Di akhir pembelajaran saya minta pesan dan kesan dari murid-murid kelas X MIA 1 terhadap cara pembelajaran saya. Jujur, kebanyakan isinya menohok. Kritik itu memanga menyakitkan bro. tapi kritik mereka membuat saya tahu dimana letak kekurangan saya yang harus diperbaiki. Karena ini juga pengalaman pertama bagi saya berhadapan dengan murid-murid di depan kelas. Danke Schülern!! Here they are :: Continue reading “Letters from Students”

Hidup di Jalan Allah

“Kita sering mendengar tentang “mati di jalan Allah”. Namun bagaimana dengan “hidup di jalan Allah”? Hidup di jalan Allah adalah jihad yang paling sulit, ujian yang paling berat dan beban yang sangat panjang. Terlebih di zaman fitnah,seperti saat ini. Barangsiapa hidup di jalan Allah maka akan mati di jalan Allah.”

— Habib Ali al-Jufri

 

a note from Hasanah Tumblr

Surat Terbuka untuk Pak @Jokowi : Izinkanlah ECCT selamatkan nyawa kami

Minimal… perjuangan kita bisa menyelamatkan nyawa 100 pasien tumor otak…. Minimal…

Dan nyawa mereka belum tentu bisa menunggu.

Bantulah menandatangani dan menyebar petisi ini untuk bisa sampai ke Bapak Presiden.

Terima kasih.

Indira Abidin's Blog


Bapak Presiden yang sangat kami hormati, semoga Bapak selalu sehat wal afiat, sehat lahir batin, bebas dari penyakit apapun.

Kesehatan adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia. Dengan sehat kami bisa berkreasi, membangun keluarga, membangun masyarakat dan bangsa. Sayangnya, sehat ini susah didapatkan di Indonesia, terutama bagi kami penerima anugerah kanker.

Ada 4,3 penerima anugerah kanker per 1.000 penduduk Indonesia. Namun hanya ada 0,6 tempat tidur dan 0,2 dokter per 1.000 penduduk untuk melayani berbagai macam penyakit, tidak hanya penyakit kami. Belum lagi kanker adalah penyakit yang cepat sekali mengambil nyawa kami.

Banyak di antara kami yang merasa depresi, bahkan hampir bunuh diri, mendengar diagnosa kanker. Pengobatan susah didapat, apalagi di daerah. Bahkan bagi kami yang kebetulan tinggal di kota, punya uang, dan mampu berobat, tak ada dokter yang dapat menjamin kesembuhan kami. Bahkan di Amerika yang sangat siap melayani pun, tingkat survival 5 tahun untuk kanker payudara hanya 11% (SEER).

View original post 409 more words