Ini Tentang Lelaki Gagah itu..

Tentang lelaki gagah yang namanya tertulis di al-qur’an dan kisahnya dikisahkan dalam satu surat. Istimewa. Karena berbeda dengan nama-nama surat lainnya yang berisi bermacam-macam kisah, fiqh, hukum, adab, dll. Tapi akan saya ceritakan sedikit tentang lelaki gagah lainnya. Kisah ini juga saya dapat dari teman saya. Teman saya ini namanya apud, dan berdasarkan kisah si apud yang emang selalu asik untuk di dengar. Entah karena ceritanya ditambah-tambahkan atau karena kelebayan dalam ceritanya yang membuat cerita tersebut semakin enak di dengar. Tapi ambil aja hikmahnya. hehe.

Alkisah, ada tiga sekawan yang berkawan akrab, sampai sampai orang-orang sekitarnya menyebut mereka “3 A”. Ya, karena nama panggilan mereka sama sama berawalan huruf “A”. Apud, Aang dan Abdullah. Saya mengenal Apud dan aang ini karena satu rekan kerja di DTI sebagai kakak fasil. Sudah saya anggap adik sendiri. Apud dengan banyolnya, rada slengek an, cerewet, happy virus, selalu bikin suasana hangat dengan penuh tawa. Tapi ada saatnya dia berbicara dengan ilmunya yang tinggi, dengan dalil-dalil, debat yang saya bilang cukup berargumen, dan kadang bikin orang ga nyangka. “Nih orang bisa juga ngomong bener ternyata” hehe. Peace Apud. Kalo Aang karena ga terlalu sering berinteraksi yang saya tahu sekilas bahwa dia termasuk yang rajin, dilihat dari kerjaannya yang ontime, trus disiplin, rada serius, kebapakan, kalo udah selesai satu urusan dia ngerjain urusan yang lain. Gatau saya yang lebay, tapi itu kesimpulan yang saya ambil. hehe. Nah satu lagi Abdullah, dapet cerita dari si apud, setelah kita ngobrolin tentang sepupu teman yang suka sesama. Sudah saya tulis di post sebelumnya disini

Based on apud story, sesuai judul ini, ceunah abdullah memiliki paras yang rupawan dan juga sholeh. hmm,,, disini saya cukup ngiri sama orang yang udah ganteng, sholeh trus kaya. Duh, hidupnya keren banget. Susah lho, buat bisa istiqomah di jalan Allah, karena orang seperti ini ujiannya lebih berat dibanding orang yang parasnya standar, iman gitu-gitu aja, kecerdasan rata-rata, sama uang jajan yang selalu bokek di akhir bulan seperti saya ini. hoho. FYI, saya perempuan ya, maksudnya saya cukup ngiri dengan mereka yang memiliki kelebihan yang sama seperti di atas. Si Abdullah ini sekarang kuliah di Malaysia, katanya sih selain soleh dan cakep, dia pinter. Aih, gue makin ngiri sama ini orang. Ternyata orang seperti ini nyata juga di jaman saya hidup. Kirain cuman di jaman para nabi, para sahabat dan para sultan. wkwk #lebay

Trus si apud ngelanjutin ceritanya. Pernah suatu hari si apud ini muji-muji si Abdullah, “Kamu hebat ya, udah ganteng sholeh lagi. Bangga punya temen kayak kamu” Celetuk si apud, kurang lebih kayak gitu bunyinya. Trus di bales sama si Abdullah, “Kelebihan yang saya punya sekarang ini adalah ujian bagi saya. Tolong jangan puji saya lagi, karena saya takut menjadi manusia yang sombong, sehingga lalai dari perintah Allah”. Kurang lebih gitu kata si Abdullah yang saya dapet cerita dari si apud. Saya pas dengernya woah, melongo. Ada ya, orang yang gamau di puji. Kalo saya mah di puji senengnya sampe mau melayang ke awan lah. Haha. Harusnya berkaca sama si Abdullah ini, yang waktu ngomong ini masih bocah SMA. Oh men, good for you boy. Seumur gitu saya masih suka baca komik, main-main ke pantai, nonton drama sama kartun, sama ngerjain peer yang bejibun. Gatau nih emak si Abdullah doa nya apa pas hamil. wkwk. Saya mikirnya jauh amat. Itu jawaban si Abdullah kayaknya cuman ada di roman-roman karangan kang abik deh. Bagus lah kalo ada tokoh nyatanya. haha. Saya mulai ngelantur. Tuhkan, susah kalo  jadi cowok ganteng nan sholeh. Pasti banyak yang mujilah. Yang wajahnya standar aja suka kita puji biar di jajanin cilok. Eh, itu sih saya :p

Nah, itu cerita pembuka, yang pengen saya share adalah the most handsome man in the world. yang udah saya kasih clue di kalimat awal cerita ini. Siapa lagi kalau bukan Nabi Yusuf. Bayangin, dengan gantengnya, santunnya, sholehnya, dia mengalami banyaaakk banget ujian dari jaman masih bocah. Dari persaingan antar saudara, percobaan pembunuhan, human trafficking, sexual abuse, sexual harrasment, kriminalisasi, dan pengkhianatan. Seperti tulisan ustadz Salim A. Fillah yang saya dapat dari blognya Bunda Indira Abidin mengenai Belajar dari si ganteng

MALU PADA SI GANTENG

dan berjuang menjadi gagah

@salimafillah

Saya tercenung-menung membayangkan lika-liku hidup lelaki ganteng itu. Dia mengalami begitu banyak hal di masa lalu yang mungkin, -bagi ukuran psikologi kita hari ini-, dapat menjadi pembenaran untuk kelak berperilaku menyimpang.

Pertama; saat masih menjadi bocah kecil, sibling rivalry (persaingan antar saudara) di dalam keluarganya telah amat parah. Dengki kakak-kakaknya pada dirinya begitu tinggi. Kebencian pada adik sendiri itu meruyak menjadi permufakatan yang amat jahat.

Kedua; dia mengalami percobaan pembunuhan yang amat sadis, dilempar ke dalam sumur menjelang senja. Bayangkan sosok mungil itu direnggut dari ayah dan bunda yang menyayanginya, terluka, sendirian, sempit, gelap, sunyi. Pengalaman semacam ini amat dapat memicu trauma. Claustrophobia (takut pada ruang sempit tertutup) dan Auchlophobia (takut pada gelap) dapat menjadi gejala yang membayangi hidupnya.

Ketiga; dia menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia). Kafilah niaga yang tak sengaja menemukannya ketika mengulurkan timba ke dalam sumur bersegera menjualnya sebagai budak dengan harga amat murah.

Keempat; dia mengalami sexual abuse (kekerasan seksual) dari orang yang amat dihormatinya. Nyonya rumah yang muda dan cantik itu mengurungnya di ruangan tertutup, menggodanya dan menarik bajunya hingga robek. Lalu ketika Sang Tuan pulang, wanita bertipudaya itu balik memfitnahnya.

Kelima; dia mengalami sexual harrasment (perundungan seksual); ketika dengan niat balas dendam atas pergunjingan para wanita bangsawan padanya, oknum istri pejabat yang menggodanya itu menghimpun sebuah perjamuan, memaksa sang bujang tampil dengan pesonanya di tengah mereka. Para wanita yang mengiris jari itu, memintanya melakukan ‘sesuatu’ yang dijawabnya, “Duhai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada melakukan apa yang mereka ajakkan padaku.”

Keenam; kriminalisasi. Dia harus hidup dalam penjara bukan karena kesalahannya. Dari sebuah kehidupan bangsawan yang megah dan mewah dia dijerembabkan ke dalam sel yang sempit dan jorok. Dia menjalaninya dengan tetap berdakwah pada kawan sejerujinya.

Ketujuh; pengkhianatan. Kawan yang dinubu’atkannya akan bebas dan menjadi penuang minuman raja, telah dipesan agar menyebut tentang dirinya di hadapan sang penguasa demi tegaknya keadilan. Tapi kawan itu lupa. Bertahun-tahun lamanya.

Jikapun sampai di sini saja; bukankah cukup alasan baginya untuk merasa bahwa hidupnya hancur, untuk menyimpan dendam, untuk merasa dunia ini kejam, untuk menyalahkan berbagai pihak dan hal, serta untuk melakukan sesuatu yang keji namun selalu ada pembenarannya?

Tapi si ganteng itu memang menakjubkan. Dia tampil untuk menjadi penyelamat negeri dari paceklik mematikan. Dia tampil menanggung amanah yang tak sanggup dipikul orang lain. Dia mampu mengampuni semua yang pernah berlaku buruk dan menjadi sebab segala jatuh bangun dan seak-seok hidupnya. Dia rangkul sebelas bintang, bulan, dan matahari yang hendak bersujud itu supaya bersatu dalam pelukan damai, silatil arham, dan kemaafan.
Si ganteng itu, Yusuf ‘Alaihis Salaam.

Maka di awal hikayat Allah menyebut kisahnya sebagai “sebaik-baik ceritera”. Maka di akhir penceritaan Allah menegaskan bahwa dalam sebaik-baik kisah itu terdapat ‘ibrah, pelajaran bagi orang-orang yang mendalam pemahamannya.

Dan kita amat ingin belajar menjadi si ganteng yang amat gagah menghadapi segala ketentuan Allah pada dirinya. Gagah justru karena bersandar kepada Allah. Sebab kuat lemahnya seseorang tergantung siapa sandarannya.

Sepahit apapun hidup kita, segetir apapun pengalaman diri, separah apapun lika-liku yang kita lalui; Yusuf adalah hujjah Allah agar kita tetap gagah menghadapi hidup ini. Semua insan hidup dalam berbagai bentuk ujian. Barangkali bentuknya tak serupa. Pun pula kadarnya berbeda. Tapi hakikatnya tetap sama.

Kepada kawan-kawan yang diuji dengan SSA (Same Sex Attraction) misalnya, menarik mundur garis waktu mungkin memang membuat Anda menemukan pembenaran diri dan sesuatu yang dapat disalahkan. Tapi jalan yang gagah adalah untuk tetap kembali pada Allah, mendengarkan nurani, dan menyimak apa firmanNya tentang tetap nista dan buruknya jalan untuk jatuh ke dalam aktivitas LGBT.

Semua insan diuji baik ketika berhadapan dengan syubhat bagi fikirannya maupun syahwat bagi hawa nafsunya. Rekan-rekan yang normalpun diuji Allah dengan betapa maraknya perzinaan, dan betapa dahsyatnya ‘aurat diumbar. Semua diuji, ketika di gadget kita, berpindah dari keshalihan pada kemunkaran hanyalah satu kali klik atau satu sentuh tap.

Maka dibanding mereka, ujian anda hanya ditambah satu hal lagi; bahwa goda-goda syaithani bukan hanya lewat lawan jenis, melainkan melalui yang jauh lebih dekat, lebih akrab, lebih samar, lebih liar, lebih menantang.

Maka jadilah gagah karena selalu terhubung kepada Allah. Jadilah gagah dalam fikir karena syubhat tentang keadaan kita telah disibak oleh Quran. Jadilah gagah dalam rasa karena syahwat yang hendak menarik kita dalam dosa telah selalu kita adukan dengan taubat nashuha dalam hening bersamaNya.

Dia yang memperjalankan Yusuf dalam sebaik-baik kisah, juga menjaminkan sebaik-baik akhir bagi yang berani bertarung untuk menaklukkan syahwat dan hawa nafsunya.

“Dan adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya; maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS An Naazi’aat [79]: 40-41)

Selamat berhijrah. Selamat berjihad. Selamat menjadi gagah dengan bersandar kepada Allah. Dan bagi yang berkenan, selamat menonton “Ketika Mas Gagah Pergi”, #kmgpthemovie, yang di dalamnya ada pesan Mas Fisabilillah untuk “Move on! Moving on where? To what Allah say yes! Yes untuk sesuatu yang lebih baik!”

Kiriman Ares, YKM FEUI.

Ah, saya membacanya jadi ngebayangin kalau itu adalah adik saya, anak saya, orang terdekat saya atau saya sendiri. Saya dengan iman yang begini-begini bakal susah menahan godaan dan paksaan. But hei, ini sekelas Nabi Yusuf yang tentunya level imannya jauuuuuhhhh banget dari saya. Dan tentunya selalu ada campur tangan Allah. Allahu Akbar :’)

Saya jadi tetiba kepikiran dengan teman-teman saya yang memiliki nama yang sama dengan nabi yusuf, mungkin orang tuanya ngarepin mereka ganteng, tapi sayang nya failed (gue jahat banget, hehe. Istighfar) gagah secara pribadi, santun dan sholeh. Hmm,, beberapa ada yang santun dan beberapa ada yang hanif yang saya lihat dari kacamata saya. Gatau ya aslinya. Da saya sendiri juga aib nya dimana-mana 😦

Dan memang selalu iri dengan mereka yang bisa istiqomah. Semoga iri ini menjadi penyemangat untuk menjadi manusia yang diridhoi oleh Allah. Aamiin. Mari menjadi orang gagah tersebut, bukan gagah tampangnya. Apalagi kalo udah dari lahir biasa aja kayak saya. Makanya kita gagahin hati dan iman serta taqwa kita kepada Allah. Karena memang iman dan taqwa yang menjadi amunisi kita untuk bisa ketemu Allah di Surga-Nya. Aamiin.

Ikrim – BDG – 11 Feb 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s