Bahagianya Mencintai Diri Sendiri

Tulisan ini saya tulis setelah membaca postingan blog dari salah satu blogger yang saya gemari, mbak Nazura Gulfira  tentang Setengah perjalanan di seperempat Abad. Setelah membaca postingan nya saya menyadari bahwa she’s a human being. sounds lebay yeah.. hehe.. Saya ga nyangka ternyata di mata saya, si mbak yang kece luar biasa ini dan menjadi salah satu orang panutan saya juga pernah mengalami masa-masa insecure.

di usia ini akhirnya saya bisa mensyukuri, menerima diri dan juga hidup saya seutuhnya. Akhirnya saya bisa menemukan kelebihan diri saya yang selama ini selalu ada di depan mata, tapi gagal untuk saya sadari karena saya yang terlalu fokus untuk menutupi kekurangan saya. Akhirnya saya bisa menemukan lebih banyak pembelajaran yang sempat saya sesalkan sebagai bagian dari masa lalu saya

-Catatan dari Mba Nazura

Pepatah yang berbunyi “Gajah di seberang lautan keliatan, tapi semut depan mata ngga keliatan” (eh, bener ga ya pepatahnya? 😀 ) mungkin bisa menggambarkan betapa kita ga sadar dengan diri sendiri, sampai-sampai kebaikan-kebaikan, kelebihan diri sendiri yang ada di depan mata pun ga keliatan. Tertutup oleh rasa minder dan ga percaya dengan diri sendiri yang bisa melakukan hal-hal yang impossible menurut kita. 

Dan kemudian saya menulis tulisan ini. Dibalik rasa minder dan insecure yang saya miliki dari dulu. Malu dengan diri ini. Well, saya pun pernah malu untuk pergi sendirian dan makan sendirian di cafe. Bahkan pernah kepergok sama adik tingkat dan ditanya kenapa sendiri. Dikira saya ga punya temen,padahal itu memang me-time nya saya.

Saya pernah malu menjadi satu-satunya jilbaber di kelas. Menjadi yang berbeda sendiri ketika teman-teman kuliah saya banyak yang tidak pake kerudung. Nah saya kerudungan, panjang lagi kayak pake mukena mau shalat.

Saya pernah malu untuk memberi tahu daerah asal saya yang merupakan kampung di sumatera barat.Saking malesnya, saya cuman nyebut asal saya dari Padang. Udah gitu aja, singkat padat dan orang ga balik nanya lagi.

saya pernah malu untuk memberi tahu jurusan saya kepada orang lain, karena jurusan saya yang gak se-keren jurusan teman-teman saya kebanyakan, bukan kedokteran,bukan teknik, bukan IPA, bukan akuntansi, bukan komunikasi dan bukan ilmu hukum. Saya mengambil jurusan pendidikan bahasa Jerman.Nah, jauh banget kan, saya yang dulu anak kelas IPA malah nyasar ke jurusan yang ga seorang pun anak kelas saya kepikiran masuk kesana. Jeleknya, dulu saya sempat menyesali keputusan mengambil jurusan ini. Paradigma saya yang tidak suka untuk menjadi guru, sampai mikir “kenapa harus bahasa Jerman? saya ga pernah ngerti dengan pelajaran bahasa ini dari dulu. Kenapa bukan bahasa inggris aja yang banyak dibutuhin? Kenapa saya bisa se-stupid ini dalam memilih untuk masa depan saya? dan banyak kenapa-kenapa lainnya”. Dan saya sering banget berpikir keras ketika orang-orang suka banget yah nanyain saya beginian “im, kok bisa masuk jurusan ini? Kenapa milih jurusan ini? Tergila-gila banget yah sama negara Jerman?” wait-wait.. Bahkan saya sendiri juga menanyakan ke diri sendiri yang sampai sekarang saya belum nemu jawaban yang tepat. Alhasil saya cuman jawab “Qadarullah”. Ya, saya yakini semuanya udah skenario Allah. Saya saja yang belum menyadari kebaikan-kebaikan dari pilihan ini. Lha wong sudah lulus gini juga. kalo ditanya soal negara jermannya? saya pengen ketawa. Hahaha.. Saya ga pernah tergila-gila sama itu negara. Untuk traveling ke mana-mana apalagi luar negeri semua orang juga pengen kan? termasuk saya. Dan seperti kebanyakan orang yang suka dengan negara yang maju, begitu pun saya. Saya juga ingin berkunjung ke negara maju. Hanya se simple itu.

Dan..saya pernah malu dengan tempat kuliah saya yang tidak seterkenal tempat kuliah teman-teman yang lain, saya sangat malu mengungkapkan cita-cita saya untuk menjadi diplomat, saya bahkan malu untuk kumpul reuni karena saya bukan bagian dari kelompok anak-anak keren, anak pintar atau anak cantik. Saya pernah malu dengan wajah saya yang ga cantik, muka jerawatan, banyak flek hitam, komedo, muka kering, dan gigi yang maju mundur. Saya pernah malu dengan ke-single-an saya, padahal dengan begitu saya bisa bebas untuk melakukan banyak hal. Saya bahkan sempat menghapus beberapa sosmed karena minder dengan status dan postingan foto orang yang keliatan nya jauh lebih wah di banding diri saya. Saya pernah trauma membaca recent updates BBM karena takut iri dengan status si A yang hepi dan sebentar2 terbang ke negara Z,X,Y lah.

Dari membaca postingan mba nazura, saya sadar, saya lupa untuk bahagia. Saya lupa untuk mencintai diri sendiri. Saya terlalu banyak berandai-andai, sampai-sampai tanpa saya sadari, saya mencintai kehidupan yang dimiliki orang lain. Padahal bisa jadi mereka sangan menginginkan kehidupan yang saya jalani, yang terlihat diluar.

Karena dengan mencintai diri sendiri, enggak ada lagi terbersit pikiran “seandainya saya jadi dia/mereka” dan “enak banget jadi mereka”; sehingga pada akhirnya enggak ada konflik yang disebabkan oleh alasan enggak penting seperti ‘karena merasa iri atau benci melihat kesuksesan orang lain’. Karena dengan kelebihan dan keunikan yang berbeda, justru bisa membuat kita lebih memahami bahwa setiap manusia memiliki “lahan untuk berkembangnya” masing – masing. Dan dengan begitu kita bisa lebih fokus untuk memaksimalkan potensi yang kita miliki dan mencari solusi atas kekurangan yang kita punya.

_Nazura G.

dan kebahagiaan itu :

Kebahagiaan tertinggi bagi saya adalah saat saya bisa merasa sepenuhnya mencintai segala kelebihan dan kekurangan diri saya. Bisa menerima sepenuhnya kehidupan saya saat ini, tanpa menyesali pilihan – pilihan yang sudah diambil di masa lalu. 

-Nazura Gulfira

Ini catatan banget bagi saya untuk selalu bersyukur dan menerima kelebihan juga kekurangan diri saya. Dan tidak ada kata menyesal atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Bismillah. Terimakasih Mbak Ozu atas sharing nya yang penuh makna dan sangat berarti bagi diri saya sendiri :”

Tulisan ini sendiri emang curhat saya untuk saya baca di kemudian hari. Di saat saya berada di titik hampir putus asa dan di titik saya sangat bahagia agar saya memahami hikmah dalam perjalanan hidup saya. Dan Allah memang selalu mepunyai cara indah untuk menasihati hambaNya

Love Yourself

Ikrim Maizana in Pekanbaru

Advertisements

4 thoughts on “Bahagianya Mencintai Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s