​Seperti Apakah Rupa Kita Kelak….

Mu’adz bin Jabal ra bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu tentang ayat ini :
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.
(Surah an-Naba’, Ayat 18)
“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar”, jawab Rasulullah. Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.
“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti di Padang Mashyar dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amal perbuatannya di dunia).
1. Ada yang berwujud kera, yaitu orang-orang yang suka mengadu domba antara sesama manusia.
2. Ada yang berwujud babi, yaitu orang-orang yang ketika di dunia suka memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti suap-menyuap.
3. Ada yang berjalan dengan kaki di atas dan wajahnya terseret dibawah. Mereka adalah orang-orang yang gemar memakan riba.
4. Ada yang buta dan kebingungan, yaitu orang yang semasa di dunia suka berbuat dzholim dalam memutuskan hukum atau peraturan.
5. Ada yang tuli dan bisu serta tidak berakal, yaitu orang yang berbangga diri atas amal perbuatannya.
6. Ada yang mengunyah lidahnya sendiri yang terjulur hingga dada dan dari mulutnya mengalir nanah sehingga kaum muslim jijik melihatnya. Mereka adalah para ulama dan tukang cerita yang ucapannya bertolak belakang dengan amal perbuatannya.
7. Ada yang tangan dan kakinya terpotong, yaitu orang-orang yang suka menyakiti tetangganya.
8. Ada yang tersalib di atas lempengan besi membara, yaitu orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan yang bathil.
9. Ada yang tubuhnya lebih busuk daripada bangkai, yaitu orang-orang yang semasa hidup di dunia tenggelam dalam kenikmatan syahwat hingga melupakan hak-hak Allah pada harta dan diri mereka.
10. Ada yang berselimutkan kain dari aspal yang mendidih, yaitu orang-orang yang suka berlaku sombong dan angkuh.
(HR. Al Qurthubi)
Disalin dari Kitab Nasha ‘ih al-‘Ibad fi Bayani Alfazhi al-Munabbihat ‘ala Isti’dad lil Yaum al-Ma’ad, Syekh Nawawi Al-Bantani

Advertisements

Usia 1/4 Abad

​*Usia 1/4 abad
Jika usia kita sudah 25 tahun, hampir 25 tahun, atau sudah lewat 25 tahun, mungkin hal2 berikut menarik diperhatikan. Ini hanya catatan ringan, jadi tidak perlu terlalu serius.
1. Berhentilah berpikir kalau kita masih remaja

Dalam definisi apapun, usia 25 tahun bukan lagi usia remaja. Jadi, tidak pantas bersikap seperti remaja yang masih kekanak2an. Bicaralah yang biasa2 saja, menulislah yang biasa2 saja, tidak pantas lagi kalau masih mau manja2, genit2, apalagi merasa imut menggemaskan. Apalagi kamu, Bambang, Joko, Agus, ayo, dek, nggak pantas lagi merasa diri kita paling imut menggemaskan.
2. Mulailah mengambil tanggung-jawab

Usia 1/4 abad itu sudah matang sekali. Yang kuliah, harusnya sudah lulus, dan mulai bekerja. Yang tidak kuliah, semestinya juga sudah bekerja. Kalaupun ambil S2 atau S3, cara berpikirnya sudah berbeda. Mulailah mengambil tanggung-jawab. Masa’ kita masih harus minta uang buat beli pulsa? Minta uang buat beli bensin motor? Sudah masih minta uangnya ke orang tua, eh, cuma dipakai buat telpon2an pacaran, keluyuran pacaran. Jaman dulu, anak2 usia 18 tahun bahkan sudah bisa mandiri. Entahlah, apa yang jadi sumber masalah hari ini, usia 1/4 abad tapi masih merepotkan orang tua.
3. Mulailah memikirkan cita-cita hidup dengan serius

Hidup ini tidak cuma makan, tidur, makan tidur, dstnya. Mulailah memikirkan apa yang akan kita lakukan. Apa yang hendak kita capai. Lihat ke belakang, apa hal yang telah kita capai? Dan apalagi yang hendak kita capai? Kejar impiannya, dek. Jangan bangun kesiangan, malas ngapa2in, entah besok lusa jadi apa, bodo amat. Tabiat malas itu amat berbahaya.
4. Berhenti penuh drama

Nonton drama Korea sih boleh. Tapi berhentilah hidup penuh drama. Dikit2 lebay, dikit2 heboh, dikit2 rusuh. Kita sudah 1/4 abad, bukan remaja lagi. Kita sudah dewasa, dan sebagaimana mahkluk dewasa, tahu keputusan apa yang harus diambil. Kita juga bisa memfilter mana omongan orang lain yang bermanfaat, mana yg harus ditinggalkan. Kita juga bisa memilih, mana hal penting yg harus diikuti, mana yg sudah tidak berguna lagi. Jomblo misalnya, tidak ada masalah serius dengan menjadi jomblo, malah bisa fokus sekolah dan meniti karir. Daripada menghabiskan waktu penuh drama. Berhenti penuh drama.
5. Jaga kesehatan

Kesehatan itu adalah investasi. Semakin muda kita memulai proses menjaganya, maka akan kita petik di masa depan manfaatnya. Tidak merokok, tidak begadang, apalagi minuman alkohol, dsbgnya sejak muda, itu akan dirasakan manfaatnya di masa tua. Apalagi jika ditambahkan dengan sering olahraga, menjaga makanan, itu investasi yang baik.
6. Asupan gizi untuk jiwa

Ini kadang sering betul kita abaikan. Di dalam tubuh kita itu ada yang disebut “jiwa”. Nah, jika kita sibuk memoles fisik luar, kapan kita akan mulai memoles bagian dalam kita? Kapan kita akan mulai memberikan asupan gizi bagi “jiwa” kita. Kalian tahu kenapa orang dewasa itu banyak masalahnya? Kesibukan tidak ada habis2nya? Waktu yang tidak berkah? Rasa syukur yang dangkal? Bahkan saat hidupnya sudah cukup pun, dia rela mencuri, korup, dan aniaya? Karena jiwanya tidak diberikan asupan gizi. Jika usia kita sudah 1/4 abad, mendesak sekali kita mulai melengkapi hidup ini dengan pemahaman2 terbaik, pelajaran2 penting. Jangan malas membaca buku2 yang baik, jangan malas belajar dan memperhatikan. Dan lebih penting lagi, jangan malas belajar agama.
7. Berhenti menghabiskan waktu mubazir

Masih suka berantem di media maya? Masih suka bertengkar di kolom komentar website berita? Postingan orang lain? Ayolah, berhenti menghabiskan waktu sia-sia. Kita sudah 1/4 abad lebih, ngapain harus ribut hanya karena hal2 tidak penting. Aduh, rugi amat kalau masih suka mengotot, hanya orang2 kurang kerjaan yang menghabiskan waktunya sia-sia. Lebih baik fokus produktif, terus belajar dan berkarya.
Kurang lebih begitu. Semoga bermanfaat.
*Tere Liye

Talbis Iblis

​TALBIS IBLIS

Oleh: Dr. Adian Husaini

Dr. Syamsuddin Arief, alumni ISTAC yang sedang mengambil doktor keduanya di Frankfurt Jerman, beberapa waktu lalu menulis satu artikel yang menghebohkan di hidayatullah.com.

 Judulnya: DIABOLISME INTELEKTUAL.

Artikel ini segera menyulut tanggapan keras dari seorang aktivis Islam Liberal, yang segera menuduh bahwa orang seperti Dr. Syamsuddin Arief cenderung punya kelainan jiwa (mental disorder), karena merasa dirinya paling benar dan paling bersih.

Melalui artikelnya, Syamsuddin menjelaskan, bahwa “diabolisme” berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya.

Dalam kitab suci al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis tidaklah atheis atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan.

Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia disebut ‘kafir’, karena mengingkari dan menolak kebenaran. 

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31, 20:116); ia sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73, 38:75). Iblis juga melawan perintah Tuhan.

Allah berfirman: Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim (QS 18:50).

Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya. Iblis adalah ‘prototype’ intelektual ‘keblinger’.

Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

“Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!” Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).

Maka Iblis pun bertekad: “Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!” (QS 7:16-17).

Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, cetakan Beirut, al-Maktabah al-Asriyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

Selanjutnya, Syamsuddin Arief menelaborasi ciri-ciri cendekiawan bermental Iblis.

Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya.Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. 

Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu.

Kedua, cendekiawan bemental Iblis itu bermuka dua, menggunakan standar ganda (QS 2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’).

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an : “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya” (QS 7:146).

Ketiga, ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta.

Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.

Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. 

Al-Qur’an pun telah mensinyalir: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (QS 22:3-4). 

Demikianlah peringatan dan paparan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri cendekiawan yang bermental Iblis. Peringatan ini sepatutnya menjadi renungan serius bagi para cendekiawan yang benar-benar memiliki niat ikhlas untuk mencari kebenaran, dan bukan saja mencari popularitas dan keuntungan duniawi.

Apa yang dilakukan Syamsuddin Arief bukanlah hal baru. Banyak ulama sebelumnya yang telah memberikan peringatan serupa, tentang bahaya taktik dan tipudaya Iblis dalam menyesatkan umat manusia.

Masalah ini begitu penting, sebab, memang Iblis adalah musuh manusia yang nyata, bukan musuh yang tersembunyi. Iblis dan kroni-kroninya seharusnya diketahui dengan jelas ciri-cirinya.

Imam al-Ghazali menulis satu Kitab Khusus tentang masalah Iblis dan tipudayanya, yang diberi judul Talbis Iblis. Kitab dengan judul yang sama juga ditulis oleh al-Hafizh Ibnul Jauzy al-Baghdady. Dalam Kitabnya, Ibnul Jauzy mengingatkan, bahwa talbis artinya menampakkan kebatilan dalam rupa kebenaran.

Ibnul Jauzy menjelaskan talbis Iblis terhadap berbagai jenis agama dan aliran masyarakat, yang tumbuh dan berkembang ketika itu.

Talbis Iblis, atau tipudaya setan, yang hobinya mengaburkan yang haq dan bathil sangatlah perlu diwaspadai oleh manusia. Apalagi, jika yang melakukan talbis itu orang-orang yang dikategorikan ke dalam golongan intelektual atau cendekiawan.

Mereka dengan segala kemampuan ilmunya tidak ragu-ragu mengikuti jejak Iblis, memutarbalikkanyang haq menjadi bathil dan yang bathil menjadi haq.

Di era kebebasan informasi saat ini, kaum Muslim menghadapi masalah yang sangat pelik, yang belum pernah dihadapi di masa-masa lalu. Nyaris setiap hari, media massa melakukan penjungkirbalikan nilai-nilai kebenaran, dengan menggunakan slogan-slogan atau istilah-istilah yang indah, seperti pluralisme, kebebasan, hak asasi, pencerahan, dan sebagainya.

Paham penyamaan semua agama yang jelas-jelas keliru dibungkus dengan istilah indah: pluralisme. Paham penyebarluasan kebebasan amoral dalam bidang perzinahan dan homoseksual dikemas dengan bungkus rapi bernama hak asasi manusia.

Dengan tipudaya Iblis, khamar diiklankan dan dijadikan kebanggaan oleh sebagian manusia modern, perzinahan dilegalkan dan tidak dipersoalkan kebejatannya, sementara poligami diopinikan sebagai bentuk kejahatan.

Rasulullah saw pernah mengingatkan: Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan. Pada waktu itu di pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan dusta. (HR Ibnu Majah).

Di zaman globalisasi saat ini, diakui, bahwa informasi adalah kekuatan yang paling dahsyat. Penguasa informasi adalah yang menguasai otak manusia saat ini. Mereka dengan leluasa berpotensi memutarbalikkan fakta dan kebenaran.

Di sinilah talbis Iblis dapat terjadi. Yang haq dipromosikan sebagai kebatilan, dan yang bathil dikampanyekan sebagai al-haq. Banyak motif para pelaku talbis Iblis. Bisa karena memang ada kesombongan, ada penyakit hati, atau karena motif mencari keuntungan duniawi.

Dalam situasi seperti ini, peringatan Dr. Syamsuddin Arief tentang ciri-ciri pelaku talbis Iblis di kalangan intelektual, sangat relevan untuk direnungkan. Sangatlah tidak tepat jika dia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Tugas para Nabi dan pewarisnya (para ulama) adalah menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil, menyeru umat manusia, agar tidak mengikuti jalan-jalan Iblis, jalan yang sesat, yang mengantarkan manusia kepada api neraka.

Jika ada cendekiawan yang tugasnya senantiasa mengaburkan nilai-nilai kebenaran dan kebatilan, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri. Allah SWT sudah menjelaskan: Tidak ada paksaan (untuk masuk) agama Islam. Sungguh telah jelas yang benar dari yang salah. (QS 2:256).

Sikap merasa benar sendiri terhadap kebenaran agama Islam dan yakin dengan kebenaran al-Islam adalah sikap yang sudah seharusnya. Dalam hal ini tidak boleh ada keraguan. Yang haq harus dikatakan haq dan bathil harus dikatakan bathil. Itulah tugas setiap cendekiawan Muslim.

Allah juga mengingatkan: Al-haq itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. Sikap meragu-ragukan terhadap kebenaran adalah sikap dan perilaku Iblis, yang tidak perlu dicontoh oleh kaum Muslim.