Ayah ada, Ayah tiada

Ayah ada, Ayah tiada

Materi Perdana FATHERHOOD FORUM

By : Igo Chaniago
Ada beberapa paradigma berpikir para orang tua yang keliru dalam mendidik anak karena ketidakpedulian orang tua akan ilmunya ilmu parenting, atau ilmu dalam mendidik anak. Orang tua kebanyakan berpikir, anak sudah kita nafkahi, kita besarkan, dan urusan pendidikan diserahkan ke sekolah. Sehingga bisa kita lihat zaman ini, dimana anak-anak peradaban saat ini sangat jauh dengan peradaban islam dulu yang jaya. Anak-anak sekarang semakin hancur moralnya. Mulai dari kenakalan remaja, zina melalui seks bebas yang angkanya makin tinggi, tingkat aborsi kehamilan karena anak yang tidak dikehendaki makin marak, banyaknya pengangguran akibat sistem pendidikan yang amburadul, ganti menteri ganti kurikulum, adanya wacana fullday school dari menteri pendidkan yang menjauhkan bonding orang tua dan anak, bahkan survey membuktikan bahwa 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan karena kesalahan orang tua sehingga anak tidak menemukan bakatnya sejak dini.
Salah satu hal yang penting dalam pendidikan anak yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah pendidikan anak ketika di rumah atau disebut dengan home education. Hal ini sangat penting, baik bagi ayah bunda yang putra putrinya dititipkan di sekolah formal, ataupun para ayah bunda yang tidak percaya kepada sistem pendidikan negara ini sehingga memilih  sekolah non formal atau lebih dikenal dengan home schooling?
Karena home education ini pada galibnya adalah kewajiban setiap semua orang tua yang mempunyai anak. Non sence apabila ada orang tua yang mengatakan bahwa tidak bisa mendidik anak mereka sendiri sehingga dititipkan ke bapak ibu guru, dititipkan ke ustadz ustadzah di pesantren. Karena ketika Allah memberi kita amanah seorang anak, maka Allah install pula kepada orang tua kemampuan untuk mendidik anaknya. Tapi banyak orang tua yang tidak mau mengasah kemampuan mereka karena kesibukan kerja dan mencari dunia yang tak kan pernah ada kepuasannya. Bukankah di zaman Rasulullah dulu para sahabat tidak mengenal sekolah? Tapi disana terlahir para pemuda pemudi yang cemerlang karyanya?
Ada Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu dan juga penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.
Ada Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masanya
Ada Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 20 tahun.
Tapiii… sekarang kita lihat anak-anak dan pemuda zaman sekarang. Ketika umur 13 tahun, adakah yang menyamai prestasi Zaid bin Tsabit? Yang ada sekarang malah anak usia 13 tahun gandrung dengan gadget dan mengejar prestasi di sekolah untuk kebanggaan orang tuanya tanpa mengerti bakat anak sesungguhnya. Anak selalu rangking bukan jaminan ia akan sukses di masa depannya.
Kita lihat pemuda zaman sekarang yang berusia 18 tahun. Adakah yang menyamai prestasi Usamah Bin Zaid yang menjadi pemimpin pasukan perang dan membawahi Abu Bakar dan Umar bin Khatab? Yang ada malah para remaja sekarang disibukan dengan sosmed, dimabukan dengan cinta palsu dan maksiat, atau bahkan yang lebih miris lagi, dilenakan dengan rokok, miras, narkoba hingga zina yang sudah menjadi kelaziman asalkan suka sama suka?
Dan kita lihat anak-anak kita yang sekarang berusia 20 tahunan, adakah yang bisa menyamai prestasi Atab bin Usaid yang diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah? Yang sering kita lihat mereka yang berusia 20 tahunan saat ini kebanyakan seolah olah sibuk kuliah tapi sesungguhnya tidak produktif, menghabiskan waktu dengan nongkrong di café atau warung kopi pinggir jalan, berlomba-lomba bukan untuk prestasi tapi demi gengsi, trek-trekan, bikin geng motor, modifikasi motor yang buang-buang uang dan bikin pusing orang tua.
Mengapa kita harus mendidik anak-anak kita sesuai fitrah? Karena banyak orang tua yang berpikir bahwa cara mendidik anak-anaknya disamakan dengan orang tua kita mendidik kita di zaman dulu. Padahal Ali bin Abi Tholib mengatakan : Didiklah anakmu sesuai dengan ZAMANNYA. Underline kata terakhir, sesuai dengan _zamannya, bukan zamanmu._  Karena itu wajar saja orang tua zaman sekarang banyak yang pusing dalam mendidik anaknya kemudian mengeluh :
Anak zaman sekarang susah diatur, ga seperti zaman dulu!!!
Mendidik anak memang butuh ilmu. Untuk sukses menjadi dokter ada sekolahnya, untuk sukses menjadi insinyur ada sekolahnya, tapi untuk menjadi orang tua yang sukses mendidik anaknya, ga ada sekolahnya. Karena itu orang tua harus pro aktif belajar tentang ilmu parenting melalui seminar atau workshop dan juga buku2 parenting, bergabung dengan komunitas parenting untuk saling berbagi pola asuh anak dan saling menguatkan ketika malas dan lemah.
Masa yang paling fatal dalam mendidik anak adalah di usia 0-7 tahun. Banyak kasus yang terjadi dimana orang tua sangat bangga jika melihat anaknya sudah bisa macem macem di bawah 7 tahun. Bisa menulis, bisa membaca, bisa berhitung (CALISTUNG) dan juga bangga jika anaknya sudah bisa membaca quran dan hafal quran ketika di bawah 7 tahun. Padahal, sebenarnya masa 0-7 tahun adalah masanya anak-anak bermain dan lebih ditekankan pada fitrah keimanan dan pembentukan adab. Bukan diajarkan hal-hal kognitif sehingga mencederai fitrah perkembangan anak.
Kaidah LEBIH CEPAT LEBIH BAIK tidak bisa digunakan dalam konsep pendidikan anak. Karena semua ada proses dan tahapannya. Ibarat bayi kupu-kupu yang sedang berjuang keras untuk keluar dari kepompong, jika kita berniat baik dengan membantu memotong kulit kepompongnya agar si bayi lebih mudah keluar dari sarangnya. Itu artinya kita telah merusak masa depan si kupu-kupu tersebut, karena kupu-kupu yang kita tolong itu niscaya tidak akan bisa terbang. Penelitian membuktikan, bayi kupu-kupu yang berusaha keras untuk keluar dari kepompong dan membutuhkan waktu lama itu  sejatinya adalah sebuah proses untuk menguatkan otot-otot sayapnya, menguatkan adaptasi tubuhnya yang awalnya berbentuk ulat kemudian berubah menjadi kupu-kupu lewat proses metamorphosis yang penuh perjuangan. Demikian juga anak-anak kita, jika kita karbit mereka untuk menjadi unggul pada saat yang belum waktunya, justru kitalah yang menghancurkan masa depan mereka. 
Dan salah satu faktor kegagalan orang tua dalam pendidikan anak adalah karena kurangnya peran ayah untuk terlihat dalam pengasuhan anak. Dalam seminar-seminar parenting, selalu yang hadir didominasi para kaum ibu. Mungkin karena paradigma berpikir kaum bapak yang mindsetnya sebagai kepala keluarga lebih banyak untuk mencari nafkah. Sedang tanggung jawab pengasuhan anak diserahkan pada istri. Padahal banyaknya masalah kenakalan anak, aqil baligh yang tidak tumbuh secara bersamaan, remaja yang kehilangan jati diri dan orang dewasa yang tidak kunjung tahu apa bakat sebenarnya, ini semua karena ketiadaan peran ayah dan pola pendidikan ayah yang keliru dalam pengasuhan ananda.
Sejak ribuan tahun peran ayah sesungguhnya lebih dominan kepada mendidik anak, karena secara fitrah peran keayahan, para ayah melanjutkan misi hidupnya dengan mendidik sebaik baiknya keturunannya. Di zaman modern, peran keayahan digugat kembali , karena ternyata banyak kasus pada generasi yang diakibatkan hilangnya peran keayahan di rumah maupun di komunitas karena berbagai hal
Jika ayah mengabaikan pendidikan anak, maka resikonya adalah :

  1. Para Bunda dalam mendidik anak tak mendapatkan pendampingan dan saran-saran, sehingga bunda sangat mungkin keliru dalam mendidik anak dan putus asa

  2. Anak menjadi lemah pada sisi-sisi maskulinitas, seperti keberanian, ketegasan, nyali dalam pengambilan resiko, kesanggupan untuk menolak dsb. Dan anak perempuanpun butuh dimensi maskulinitas dalam hidupnya.

  3. Kurang tangguh dalam daya juang untuk menghadapi tekanan-tekanan hidup, menghadapi fluktuasi hidup dsb.
    Fathering atau fatherhood dalam banyak kajian dan riset maupun praktek adalah peran utama dan penting dalam mendidik anak. Bahkan “bermain terbaik” anak adalah bersama ayahnya bukan ibunya. Di AlQuran bertaburan kisah para ayah yang luarbiasa santun dan lembut pada anak anaknya dalam mendidik maupun dalam berdialog 

“Wahai ananda….”, “Yaa.. bunayya”…
Sepintas itu adalah panggilan lembut seorang bunda sambil membelai kepala anaknya, menatapnya penuh cinta, menenangkan jiwa, melembutkan ego dstnya. Namun, Yaa Bunayya… itu panggilan para ayah kepada anak anaknya yang diabadikan alQuran. Bukan ibu…
#fatherhoodforum

#fitrahbasededucation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s