Tentang dia

Wahai Dirimu—

Yang sekarang sedang menyebut namanya dalam doa-doa. Menyebut sebuah nama yang kedatangannya tidak pernah kau sangka-sangka sebelumnya. Yang hadirnya membuatmu bertanya-tanya : “Apa alasan dibalik Allah memperkenalkan aku dan dirinya?”
.
Aku tahu, hatimu seperti menjerit tak menyangka—apakah ia pria yang selama ini kau tunggu-tunggu kedatangannya? Apakah ia pria yang selama ini Allah jaga namanya? Apakah ia pria yang akan menggenggam jemarimu erat selamanya?
.
Dalam derasnya air mata, dalam doa-doa yang tiada pernah ada habisnya aku tahu kau meminta kepada-Nya, maka aku juga ingin mendoakanmu:
.
“Ya Allah, jika memang pria itu adalah jodoh yang Engkau siapkan untuknya, maka segerakanlah kedatangannya, yakinkanlah hati pria itu untuk meminangnya. Jika bukan, berikanlah lelaki yang lebih baik untuknya dan hilangkan perasaan cinta ini dari dirinya. Bagi Engkau amat mudah menghilangkan perasaannya semudah Engkau membalikkan telapak tangan, semudah Engkau mengatur milyaran planet di muka bumi ini. Semoga kau disegerakan menikah dengan seseorang yg dicintai oleh-Nya. Ia mencintaimu, begitu juga denganmu, mencintainya. Keluarganya menyayangimu, begitu juga dengan keluargamu menyayanginya.”
.
Untukmu, wahai wanita yang sedang menyebut namanya dalam doa—semoga memang ia, pria yang Allah takdirkan untukmu. Semoga kau, adalah akhir bahagia yang ia tunggu-tunggu. Dan semoga kau, adalah wanita yang dapat melengkapi kehidupannya dengan penuh cinta 🙂

Oleh: Nadhira Arini

Advertisements

Jodohmu, Cerminan Dirimu

Sudah kah kita (saya) bercermin?

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Banyak diantara kita yang sebelum menikah, mengangankan pasangan yang kriterianya seperti ini dan seperti itu. Bagi yang telah menikahpun, pasti masih menyimpan sebuah harapan pada pasangannya. Harapan agar pasangannya seperti yang ia idamkan.

Salahkah jika kita menetapkan kriteria atau berharap pasangan saat ini sesuai dengan apa yang kita inginkan?

Tentu tidak, selama kriteria-kriteria tersebut masih dalam koridor syari’at dan apa yang ia harapkan mampu dipenuhi oleh pasangannya. Namun, bagaimana jika harapan itu terlalu tinggi hingga sulit untuk dipenuhi?

View original post 389 more words

Antara Kecewa dan Iman Kita

seorang muslim itu selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya. Saat kecewa hadir dalam perjalanan hidupnya, ia akan kuatkan imannya

Dewi Nur Aisyah

“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”

Catatan ini merupakan hasil kontemplasi saya sore ini (hayeuh gaya yak pake berkontemplasi segala 😀 ). Berawal dari sharing kisah pergi umroh yang seolah “Allah tak izinkan”, hingga beberapa hari kemudian Allah mudahkan si adik berangkat ke tanah haram. Sama persis dengan kisah ibu saya, saat Allah mudahkan keberangkatan ayah, mama dan papa mertua saya, namun visa ibu saya tidak keluar hari Sabtu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Lemas ia mendapat kabar bahwa belum bisa berangkat, padahal saat itu sudah siap sedia di bandara. Tentu pedih yang memenuhi hatinya saat harus melangkah pulang ke rumah, sedangkan suami dan besan-nya dapat berangkat bersama. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya, mulai dari beliau yang tidak bisa berangkat tahun ini, kalau pun berangkat sendirian tentu akan bingung karena tidak ada teman, apakah nanti akan nyasar, dan…

View original post 666 more words