Cherished Words #5

​Don’t be afraid to fail. Failure as well as success are experiences you will end up having experienced. If you don’t dare to try and just take the easy path all the time, one day you will realize how much you have missed. So don’t be afraid of failure. Instead, view failure as a chance to learn and a chance to experience life in a way, so that it can form you into a stronger, fuller person in the future.

Yoon siyoon’s lecture in 2 days 1 night show

Advertisements

Papa #1

Dulu, waktu kecil saya ngaji d MDA jauh dari tempat tinggal saya. Ya, saya tinggal di kampung, SD juga di SD negeri deket rumah. Tinggal jalan kaki langsung nyampe. Lalu saya mulai ngaji di MDA yang waktu itu paling keren, paling terkenal dan paling hits di antara anak2 SD. Padahal di depan rumah saya ada TPA. TPA Nurul Bilad. TPA yang didirikan nenek dan mama saya. Tapi sejak mama dan nenek saya meninggal, TPA itu udah ga se aktif di masa mereka hidup. TPA ini udah mati suri. Hanya bangunannya yang gagah berdiri. Tapi tidak ada guru dan murid2nya. Sedih ya 😦

Kemudian makdang saya menyuruh untuk ngaji di MDA. Abis pulang sekolah jam 1, langsung makan, sholat dan ganti baju seragam MDA. Saya merasakan keasikan tersendiri belajar di MDA. Saya memiliki banyak banget teman. sekelas bisa sampe 40-50 siswa. Sedangkan di SD, saya hanya memiliki 8 teman. Kebayang lah ya gimana di perbedaannya. Dan wajar untuk di kampung, minat sekolah masyarakatnya emang rendah banget. Walaupun sekolah udah gratis, kalo ga ada kemauan, ya mereka ga bakal sekolah. Kalo pun sekolah juga sering bolosnya.

Sebenarnya bukan mau cerita yang di atas..hehe.. di MDA saya kalo udah lulus, kita ada perayaan wisuda gitu. Pake jubah hitam, toga dan di make up. Bagi anak2 SD hal ini tentunya menjadi hal yang ditunggu. Sampe belajar untuk jalan saat penerimaan ijazah aja kita latihan seminggu. Takut banget banyak salahnya. Saya juga belajar rebana dan tari pasambahan untuk mengisi acara wisuda sebelum sebelumnya. i was excited. Makanya saat-saat kelulusan adalah saat yang saya nanti-nanti.

AKhirnya datanglah hari kelulusan tersebut. Lebih di tunggu-tungguu di banding kelulusan di SD. Saya pake kebaya, saya di make up, mengikuti ceremony, menerima ijazah, bersalaman dengan pak abas, kepala sekolah MDA dan di foto, selesai. Setelah acara selesai kita pawai. Waktu itu pake sepatu heels. anak SD sok sokan pake heels. Padahal udah tinggi dari jaman SD. Makin tinggi deh keliatannya.

Acara pun selesai. Kami berfoto. Saya dan adik sepupu saya wisudanya bareng. DIa menjadi sahabat saya selama di MDA ini. Berfoto adalah hal yang tidak saya dapatkan ketika lulus SD. saya tidak memiliki kenangan dalam bentuk foto dengan teman-teman SD saya. Tapi saya memiliki foto untuk MDA. 

Tentang Papa

Papa saat itu datang melihat saya wisuda. Saya senang sekali papa datang. Karena kami tidak serumah dan intensitas pertemuan hanya ketika saya ada butuhnya ke papa. Kemudian setelah selesai wisuda saya mencari-cari papa. Tapi sayang, saya tidak menemukannya. Saya sedih dan marah sama papa saat itu. Saya masih ingin ketemu papa, menunjukkan kepadanya bahwa saya membanggakan beliau. Tapi papa tidak mau menunggu barang sebentar untuk memeluk saya atau berfoto sebentar. Karena bagi saya yang masih anak-anak saat itu, apa yang dilakukan papa sangat membuat hati saya sedih. Sampai saya hampir membenci beliau. Astaghfirullah.

6 tahun kemudian, saya lulus SMA. Ya, kami ada perayaan juga, namun saya tidak se-excited waktu SD. Saya pun melalui seremoni tersebut dengan biasa. 5 tahun kemudian saya wisuda kampus. Qadarullah, papa sakit jantung menjelang hari saya wisuda. Ini sakit terparah dan terjadi di hari menjelang saya wisuda. Pada akhirnya papa tidak bisa datang dan di ganti kakak kedua saya yang datang. menjadi wisuda yang sepi lagi tanpa kehadiran papa. Kemudian saya menyadari, bahwa proses wisuda ini bukanlah hal yang penting. Tidaklah penting papa saya tidak datang, saya tidak memiliki momen dengan papa, saya tidak memiliki foto dengan beliau, saya hanya wisuda di dampingi kakak saya saja. 

Tapi, saat saya masuk sekolah, saya selalu di dampingi papa. Sejak SD, MTs, SMA, sampai kuliah. Saya selalu di dampingi beliau. Bahkan ketika saya bersikeras ingin SMA di cendikia, papa rela mengantar saya kesana dengan motor walau sangat jauh. Saya yang egois pengen daftar kesana di sanggupi papa. Ah papa….betapa egois dan kenak-kanakannya saya ini. Walau pada akhirnya saya tidak melanjutkan tesnya karena terlalu jauh. Kemudian saya daftar ke SMA favorit di kota papa masih menemani. Sampai saya kuliah di bandung pun, papa mau bersusah-susah dan itu pun mengeluarkan banyak sekali uang dan tenaga. Rela ikutan mengantri dengan saya saat daftar ulang, mencari kos-kosan dan memastikan saya baik-baik saja saat dia akan pulang.
Allah..

Ah, ga sebanding apa yang saya lakukan untuk menebus kebaikan papa. Saya mungkin orang paling egois di dunia ini. Sibuk kepada diri sendiri tanpa melihat orang sekitar. Saya hanya berpusat pada diri sendiri sampai keluarga sendiri tidak saya pedulikan. Saya masih tidak bersyukur dengan banyaknya keinginan saya yang tidak bisa dipenuhi. Kemudian saya marah, ngambek ala anak abg. Memalukan banget sih kamu im

Papa, sehat selalu ya. Liat iim sukses dan membanggakan papa dengan prestasi versi kita. Semoga Alah menyayangi papa seperti iim menyayangi papa.
With love, you 6th daughter.

Hafidzah-soon-to-be Story #1

Teringat nasihat guru tahfidz ketika di bandung dulu. Waktu mau pamit hijrah dari bandung ke padang karna udah beres studi di bandung
“Ikrim, jangan lupa untuk terus memurojaah hafalannya dan semoga bisa menjadi hafidzah seperti yang ikrim inginkan. Terus berdakwah dimana pun ikrim berada ya. Semoga Allah memberikan keistiqomahan untuk ikrim”
Waktu itu saya pengen nangis dan pengen peluk guru tahfidz ini. Kata kata yang paling menyentuh dan tulus dari guru yang saya teladani. Terimakasih bunda. Semoga saya bisa segera menjadi pebghafal quran dan menjaganya dan mengamalkannya :“

A lesson about Marriage #2

Mendidik anak itu susah banget banget. Sampe nangis nangis karna udah ga bisa nahan sabar  udah ga bisa pasang muka senyum. Mendidik murid2 saya yang satu kelas ribut dan bawel minta ampun. Pas di rumah ngurusin ponakan yang susah minta ampun buat disuruh sholat. Hiks.. dan pada akhirnya setiap anak memang bawa banyak banget kebahagiaan. Suka banget kalo liat mereka ketawa lepas. Nanya ke saya berbagai hal yang pengen mereka tahu dengan muka polosnya yg minta di cubit.
Hikmahnya pun saya harus banyak bersabar dan ikhlas. Duh belajar ikhlas dan sabar lagi. Ya Allah beri saya kesabaran yang luaaaasss bangey dan keikhlasan yang tiada taraa

Cherished Words #3

Ada 2 hal yg terjadi bila kamu terikat secara emosional dengan seseorang:

  1. Tidak ada jaminan  bahwa hubungan itu akan berjalan mulus. 

  2. Kamu akan tidak peduli apa kata orang. Bila  itu terjadi, itu akan melukai  perasaan keluargamu. 

Bila hubungan itu tidak berhasil, hatimu  akan terluka  dan bisa menyebabkan hubungan dengan suami/istrimu  di depan tidak sehat karena di benakmu ada orang lain yang kamu ingat.
 SSS NAK bersama mba nurul

A Lesson about Marriage #1

“Im, tau gak sih, dulu ungku sempet ngasih nasihat ke mbak. Waktu awal2 nikah, banyaakk banget cobaannya. Kami sama2 mulai dari nol. Dari bawah banget. Waktu itu mbak sering ngeluh kok gini amat nikah ya. Trus di nasihatin sama ungku. ‘Ga boleh gitu. Kita harus terus bersyukur. Walau kekurangan dari segi materi, Alhamdulillah segala kebutuhan yang dibutuhin saat itu dapat terpenuhi kan. Liat yang lain, walaupun mereka dilimpahi banyak materi, tapi ada aja ujiannya. Ujian dari segi anaknya lah, suaminyalah dan lain lain.

“Makanya mbak sejak saat itu ga pernah ngeluh2 lagi. Liatin aja kesemua orang kalo kita baik2 aja. Ga perlu ceritain keluh kesah dan aib keluarga. Alhamdulillah anak2 semuanya sehat dan punya suami yang pengertian. Nah, disinilah letaknya sakinah mawaddah wa rahmah itu. Ketika kita ikhlas menjalani pernikahan tersebut” :“
maret 2017

-mbak kepada ikrim :”

3 Jenis Musibah

1. Ujian

Musibah yg diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman untuk menguji seberapa besar keimanan dan ketaqwaan mereka. Hasil akhir dari ujian adalah untuk meningkatkan derajat keimanan dan ketaqwaan di mata Allah SWT.

Contoh : ujian yang di berikan kepada Nabi Ayyub a.s.

(Q.S. Al Anbiya ayat 35, Al Baqarah ayat 155, dll.)
2. Teguran / Peringatan

Musibah yang diperuntukkan bagi orang-orang beriman namun lalai dan lupa pada perintah Allah SWT sehingga Allah memberikan mereka musibah agar menjadi peringatan utk kembali ke jalan Allah SWT.

Hasil akhir dari teguran adalah untuk mengembalikan hamba yg berdosa ke jalan yang benar/lurus dan sekaligus sebagai penghapus dosa.

Contoh : 

Musibah paceklik (musim kering) yang menimpa masyarakat Mesir di zaman Nabi Yusuf a.s.

(Q.S. Asy Syura ayat 30)
3. Azab

Musibah yang diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, terjadi baik di dunia maupun di akhirat.

Hasil akhir dari azab adalah untuk menghukum orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah SWT atau yang bermaksiat kepada Allah SWT.

Contoh : Azab untuk kaum Nabi Luth yang kafir, azab untuk kaum nabi Nuh yang kafir.

(Q.S. Hud ayat 16, As Sajadah ayat 21, dll).

Cherished words #1

​From the perfection of Allah’s ihsan is that He allows His slave to taste the bitterness of the break before the sweetness of the mend. So He does not break his believing slave, except to mend him. And He does not withhold from him, except to give him. And He does not test him (with hardship), except to cure him.

Ibnu Qayyim Aljauziyah