A story of Sh Hamza Yusuf Mother

Salam,

Barusan saya sedang mencari-cari info bagaimana cara membeli buku internasional yang berbahasa inggris di depositorybook.com. Liat2 apa buku yang saya incar tersedia disana atau tidak. kemudian saya surfing lagi untuk mencari buku-buku yang pernah di rekomendasikan oleh aida azlin di channel youtube nya, yaitu: 

  1. Purification the heart by Hamza Yusuf
  2. A guide to Islam by Prince Muhammad Ghazi
  3. 40 rules of love
  4. When you hear hoofbeats of zebra

SO, I started to search the number one list in the recommendation book. Saya cari tahu, buku ini bahasannya apa saja sih? 

berdasarkan bookdepository explanation sih dijelasin gini : “This exploration of Islamic spirituality delves into the psychological diseases and cures of the heart. Diseases examined include miserliness, envy, hatred, treachery, rancor, malice, ostentation, arrogance, covetousness, lust, and other afflictions that assail people and often control them. The causes and practical cures of these diseases are discussed, offering a penetrating glimpse into how Islam deals with spiritual and psychological problems and demonstrating how all people can benefit from these teachings.”

Kurang lebih buku ini ngebahas tentang tadzkiyatun nafs, gimana caranya kontrol your nafs, penyakit hati dan cara untuk deal with them. Awalnya mau check out beberapa buku, ternyata kalo di rupiahin kerasa banget yah harga buku2 mahal. Pengen baca digital, tapi bikin mata ga enak dan perih liat layar hape dan laptop. Beli Kindle juga rasa-rasanya ga butuh2 banget. Oke, cukup curhatannya ikrim. hihi.

Long short story, saya pun cari tahu tentang siapa itu Hamza Yusuf. Saya gugel lah beliau yang ternyata adalah American Islamic Scholar dan juga co-founder Zaytuna college. Sebelumnya saya juga sudah pernah dengar nama beliau, namun baru sekarang saya cari tahu lebih lanjut dan bagaimana kiprah dakwah beliau di amerika sana. Untuk cari tau kiprah beliau, bisa di gugel aja yah teman-teman.

Nah, pas cari info beliau di gugel, ketemulah sebuah tulisan beliau tentang ibu nya yang berjudul: “On the Passing of My Mother; Elizabeth Hanson”. and that writing is so pure and beautiful. You can read the article in here: https://sandala.org/on-the-passing-of-my-mother/ 

A writing which wrote by her son, Hamza Yusuf. Tulisan tentang kepergian ibunya yang ternyata banyak banget ngasih pengaruh ke beliau. Ibu beliau adalah seorang ibu yang senang berbagi, suka untuk berbagi melalui kegiatan sukarela di berbagai organisasi dan mengajar bahasa inggris dan banyak lainnya. Sebelum beliau meninggal, beliau malah bilang : “it is in dying that we are born again to eternal life”. (a song Prayer of Peace by St. Francis) melalui kematian lah kita terlahir kembali ke kehidupan yang abadi. Two things that I could highlight are wise and very well open minded person. Kenapa saya bilang begini, hal yang menarik pertama adalah dia sudah di baptis secara katolik oleh a greek chatolic, memiliki ketertarikan terhadap syair-syair rumi, dan menjadi anggota Buddhist Shonghai. For me, it’s a big wow untuk seorang ibu dari Sheikh Hamza Yusuf. In the end, she embraced Islam in Fez, Morocco. What a long story, indeed she had a strong believe in faith, in Islam. Masha Allah. 

Beberapa hal yang saya pelajari dari beliau sebagai seorang hamba dan seorang ibu adalah:

  1. Ga pernah bicara dengan nada tinggi kepada anak2nya
  2. Menghormati segala kepercayaan dan ngajarin anak2nya pun begitu
  3. Sebagai ibu yang saat itu belum embrace islam, beliau nganterin Hamza Yusuf yg berumur 12 tahun ke masjid untuk sholat Jumat. Ini ngingetin saya bagaimana ibunda nya Imam Malik yang rutin nganterin Imam Malik ke Masjid untuk sholat jumat. Ditambah, dia paham ibadah nya orang muslim dan bahkan sudah mengenal siapa itu nabi Muhammad SAW jauh sebelum Hamza Yusuf memeluk islam. 
  4. Ga pernah ngomongin kebaikan2 yang sudah pernah dia lakuin ke orang lain.  she just did it, and lived her truth.
  5. Senang tersenyum constantly, meskipun dia sedang terbaring lemah karena penyakit kankernya
  6. Ga pernah mengeluh
  7. Ga ngomongin orang dan menerima orang sebagaimana mereka dulu tanpa menghakimi. “She never spoke ill of people and accepted people as they were without judgment”. 

Those beautiful words Hamza yusuf wrote in his blog is super comforting and taught me much lessons. Jadi seorang ibu itu ga mudah gaes, tapi once kamu di beri anugrah untuk jadi ibu, jadilah ibu terbaik. Kamu bisa mencontoh dari para sahabiyah yang dicontohkan diberbagai literatur. Saya sangat encourage para perempuan muslimah untuk belajar, terutama belajar adab dulu baru ilmu. Agar tidak menjadikan kita angkuh, sombong, bangga karena punya ilmu. Namun selalu rendah hati dan menolong siapa pun tanpa pandang bulu karena keilmuanmu. 

Barakallahufiikum, Wassalamualaikum.

Pariaman, 12.35 wib

Salam, 

Ikrim