Papa #1

Dulu, waktu kecil saya ngaji d MDA jauh dari tempat tinggal saya. Ya, saya tinggal di kampung, SD juga di SD negeri deket rumah. Tinggal jalan kaki langsung nyampe. Lalu saya mulai ngaji di MDA yang waktu itu paling keren, paling terkenal dan paling hits di antara anak2 SD. Padahal di depan rumah saya ada TPA. TPA Nurul Bilad. TPA yang didirikan nenek dan mama saya. Tapi sejak mama dan nenek saya meninggal, TPA itu udah ga se aktif di masa mereka hidup. TPA ini udah mati suri. Hanya bangunannya yang gagah berdiri. Tapi tidak ada guru dan murid2nya. Sedih ya 😦

Kemudian makdang saya menyuruh untuk ngaji di MDA. Abis pulang sekolah jam 1, langsung makan, sholat dan ganti baju seragam MDA. Saya merasakan keasikan tersendiri belajar di MDA. Saya memiliki banyak banget teman. sekelas bisa sampe 40-50 siswa. Sedangkan di SD, saya hanya memiliki 8 teman. Kebayang lah ya gimana di perbedaannya. Dan wajar untuk di kampung, minat sekolah masyarakatnya emang rendah banget. Walaupun sekolah udah gratis, kalo ga ada kemauan, ya mereka ga bakal sekolah. Kalo pun sekolah juga sering bolosnya.

Sebenarnya bukan mau cerita yang di atas..hehe.. di MDA saya kalo udah lulus, kita ada perayaan wisuda gitu. Pake jubah hitam, toga dan di make up. Bagi anak2 SD hal ini tentunya menjadi hal yang ditunggu. Sampe belajar untuk jalan saat penerimaan ijazah aja kita latihan seminggu. Takut banget banyak salahnya. Saya juga belajar rebana dan tari pasambahan untuk mengisi acara wisuda sebelum sebelumnya. i was excited. Makanya saat-saat kelulusan adalah saat yang saya nanti-nanti.

AKhirnya datanglah hari kelulusan tersebut. Lebih di tunggu-tungguu di banding kelulusan di SD. Saya pake kebaya, saya di make up, mengikuti ceremony, menerima ijazah, bersalaman dengan pak abas, kepala sekolah MDA dan di foto, selesai. Setelah acara selesai kita pawai. Waktu itu pake sepatu heels. anak SD sok sokan pake heels. Padahal udah tinggi dari jaman SD. Makin tinggi deh keliatannya.

Acara pun selesai. Kami berfoto. Saya dan adik sepupu saya wisudanya bareng. DIa menjadi sahabat saya selama di MDA ini. Berfoto adalah hal yang tidak saya dapatkan ketika lulus SD. saya tidak memiliki kenangan dalam bentuk foto dengan teman-teman SD saya. Tapi saya memiliki foto untuk MDA. 

Tentang Papa

Papa saat itu datang melihat saya wisuda. Saya senang sekali papa datang. Karena kami tidak serumah dan intensitas pertemuan hanya ketika saya ada butuhnya ke papa. Kemudian setelah selesai wisuda saya mencari-cari papa. Tapi sayang, saya tidak menemukannya. Saya sedih dan marah sama papa saat itu. Saya masih ingin ketemu papa, menunjukkan kepadanya bahwa saya membanggakan beliau. Tapi papa tidak mau menunggu barang sebentar untuk memeluk saya atau berfoto sebentar. Karena bagi saya yang masih anak-anak saat itu, apa yang dilakukan papa sangat membuat hati saya sedih. Sampai saya hampir membenci beliau. Astaghfirullah.

6 tahun kemudian, saya lulus SMA. Ya, kami ada perayaan juga, namun saya tidak se-excited waktu SD. Saya pun melalui seremoni tersebut dengan biasa. 5 tahun kemudian saya wisuda kampus. Qadarullah, papa sakit jantung menjelang hari saya wisuda. Ini sakit terparah dan terjadi di hari menjelang saya wisuda. Pada akhirnya papa tidak bisa datang dan di ganti kakak kedua saya yang datang. menjadi wisuda yang sepi lagi tanpa kehadiran papa. Kemudian saya menyadari, bahwa proses wisuda ini bukanlah hal yang penting. Tidaklah penting papa saya tidak datang, saya tidak memiliki momen dengan papa, saya tidak memiliki foto dengan beliau, saya hanya wisuda di dampingi kakak saya saja. 

Tapi, saat saya masuk sekolah, saya selalu di dampingi papa. Sejak SD, MTs, SMA, sampai kuliah. Saya selalu di dampingi beliau. Bahkan ketika saya bersikeras ingin SMA di cendikia, papa rela mengantar saya kesana dengan motor walau sangat jauh. Saya yang egois pengen daftar kesana di sanggupi papa. Ah papa….betapa egois dan kenak-kanakannya saya ini. Walau pada akhirnya saya tidak melanjutkan tesnya karena terlalu jauh. Kemudian saya daftar ke SMA favorit di kota papa masih menemani. Sampai saya kuliah di bandung pun, papa mau bersusah-susah dan itu pun mengeluarkan banyak sekali uang dan tenaga. Rela ikutan mengantri dengan saya saat daftar ulang, mencari kos-kosan dan memastikan saya baik-baik saja saat dia akan pulang.
Allah..

Ah, ga sebanding apa yang saya lakukan untuk menebus kebaikan papa. Saya mungkin orang paling egois di dunia ini. Sibuk kepada diri sendiri tanpa melihat orang sekitar. Saya hanya berpusat pada diri sendiri sampai keluarga sendiri tidak saya pedulikan. Saya masih tidak bersyukur dengan banyaknya keinginan saya yang tidak bisa dipenuhi. Kemudian saya marah, ngambek ala anak abg. Memalukan banget sih kamu im

Papa, sehat selalu ya. Liat iim sukses dan membanggakan papa dengan prestasi versi kita. Semoga Alah menyayangi papa seperti iim menyayangi papa.
With love, you 6th daughter.

Advertisements

April is about My Lovely Papa

What’s on April?

Ada banyak cerita di bulan April ini sampai-sampai saya bingung akan memulai cerita darimana dulu. Banyak cerita yang menguap karena saya lupa untuk menulisnya, lupa untuk mngingatnya bahkan. ya, saya memang tipikal orang yang mudah melupakan sesuatu. termasuk pelajaran. #eh 😀

Sesua dengan judulnya saya mau ngereview apa yang terjadi dengan papa dan bulan April

Der Papa

Der Papa oder Der Vater, bahasa Jermannya a.k.a Father. Dan panggilan sayang saya adalah Papa. Pada bulan April ini papa ulang tahun ke 57 tahun. Barakallah Papa..Papa ulang tahun tepat pada tanggal 1 April. Bukan berarti April mop lu guys. Betapa saya merindukan Papa dan orang-orang rumah. Papa,Ibu,Mama, adik-adik, abang, kakak, mbak, taci, ayang dan semuanya. Rasa kangen itu menjadikan cinta saya yang besar kepada mereka. 

 

saya teringat lirik lagu Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah) Adaband feat Gita Gutawa

Teringat masa kecilku

Kau peluk dan kau manja

Indahnya saat itu

Buatku melambung

Disisimu terngiang

Hangat nafas segar harum tubuhmu

Kau tuturkan segala mimpi-mimpi

Serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi

Yang terbaik bagimu

Patuhi perintahmu

Jauhkan godaan

Yang mungkin kulakukan

Dalam waktuku beranjak dewasa

Jangan sampai membuatku

Terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan

Sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji

Tak kan khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya

Ku mencintaim

uKan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu

Kan bergulir kembali

Kurindukan suasana

Basuh jiwaku

Membahagiakan aku

Yang haus akan kasih dan sayangmu

Tuk wujudkan segala sesuatu

Yang pernah terlewati

 

Image

Papa adalah sosok yang mengajarkan saya untuk optimis dalam hidup, mandiri di rantau, jangan mudah menyerah dan putus asa, papa yang suka bercanda menjadikan saya dekat dengan papa. Papa yang tidak pernah memandang rendah atau meremehkan saya ketika saya down, bahkan terkadang saya suka curhat colongan ke Papa. Papa yang tiap pagi membangunkan anak gadisnya, hanya sekedar menanyakan “sudah bangunkah?, sudah sholat subuhkah? sudah makankah?” dan “Jaga kesehatan, ya Nak” Tutup Papa. Sudah menjadi kebiasaan Papa untuk tidak pernah absen menanyakan hal tersebut. Dan saya merasakan nikmat Allah yang tak bisa tergantikan dengan perhatian Papa yang besar pada saya. Saya bilang saya beruntung mendapat perhatian ini. Sangat beruntung malahan. Saya selalu tersenyum bahagia setiap habis di telepon Papa. Karena saya merasa tidak sendiri di rantau orang. Saya masih bisa lancar berhubungan dengan orang-orang yang saya cintai.

Dan di umurmu yang 57 tahun ini pa, tidak lupa iim titipkan doa kepada Allah, agar Papa sehat selalu, diberi rejeki yang lancar, makin harmonis sama Ibu, semakin caring sama anak-anaknya, makin mencintai dan dicintaii sama anak-anak dan cucu-cucu papa. Bagaimanapun, bertambahnya usia, berarti makin berkurangnya waktu papa di dunia ini. Dan selama itu, iim berharap bisa menjadi anak yang membanggakan bagi papa, menjadi anak yang sholehah yang bisa menjadi penolong papa di akhirat kelak, bukan menjadi beban papa di Yaumul Akhir. karena salah satu hal yang dibawa ketika badan ini telah terpisah dengan Roh adalah Doa anak yang Sholeh. Dan DI antara anak-anak Papa, iim ingin menjadi salah satu anak yang Sholehah itu. Aamiin Ya Allah

Dan malam tanggal 1 April, anakmu yang kangen padamu, baru sempat meneleponmu karena sok sibuk dengan kegiatan kuliahnya. Saat itu iim bilang “Selamat ulang Tahun Papa” Saat itu pukul 10 malam. Dan iim mengganggu Papa yang lagi tidur. Tapi tidak ada nada kesal atau jengkel Papa, malah menanyakan kabar saya ” Baa Kaba? Lai sanang disitu, nak?” 

“Alhamdulillah iim lai sanang pa, eh selamat ulang tahun yo Pa, Lah bara umua papa kini tu?” (Bahkan saya sendiri tidak mengihitung umur papa, malah nanyain balik)

“Iyo, makasih yo nak. Alah gaek papa kini, alah 57  tahun. hehe” Papa menjawab dengan tawa renyahnya

“ih iyo,papa alah gaek, iim tambah gaek pulo. hehe.”

Itu sepenggal pembicaraan kami yang singkat karena saya tidak enak menganggu Papa yang masih ngantuk sepertinya. Hal yang membuat saya senang adalah betapa papa masih ngantuknya, atau capeknya, tapi setiap saya telpon suaranya selalu bersemangat, yang menunjukkan kepada saya: “Tenanglah di negeri orang, jangan bersedih, rajin-rajin lah belajar dan buat Papamu ini bangga nak”

I have no more words that can describe how i feel. I just thank to Allah that has given me a Superman. And he is My Papa 🙂

Salam

Maizana

 

“Sujud syukur, nak”

Pagi itu, pagi sabtu.  Pagi yang menjadi rutinitasku untuk berangkat pukul 6 pagi menuju rumah guru tahfidz ku. Hari ini adalah hari syukuran karena kelompok kami sudah menyelesaikan hafalan surat At Thalaq. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk merayakan syukur ini dengan makan bersama.

Sebelum berangkat saya ke atm dulu, yang berada tepat di depan masjid Daarut Tauhid. Biasa, akhir minggu uang jajan saya suka abis sendiri. Makanya saya biasa ambik duit di akhir minggu. Setelah mengambil duit yang saya butuhkan, saya iseng ke atm sebelah karena masih sepi dan tidak mengantri. Atm yang berbeda karena saya punya rekening  khusus untuk bayar SPP kuliah.
Dan ketika saya cek saldo, alhamdulillah, sudah tertera angka lebih dari jumlah uang SPP saya. Sontak saya telpon papa saya, karena beliau pernah bilang kalo akan mengirim uang SPP dalam waktu dekat.
Ketika saya menanyakan, ternyata beliau bingung karena beliau baru akan mengirim uang pada hari seninnya.
Lalu saya menyeletuk: ” kayaknya uang beasiswa iim  deh pa. Tapi kok tumbem cepet ya masuknya? ”
Papa pun senang dengan berita yang saya sampaikan. “Alhamdulillah, bagus itu nak. Jadi papa tidak perlu mengirim uang SPP lagi kan? ” tanya papa
“Iya pa” jawab saya. Hati saya pun ikut senang karena dari suara papa seperti senang dan ada beban yang terlepas.
“Alah sujud syukur,  im nak?  Jan lupo sujud syukur ka Allah yo.” Balas papa.
Saya pun tersadar. Alhamdulillah ya Allah telah mengingatkan saya melalui papa untuk selalu bersyukur padamu. Papa memang seringkali mengingatkan saya untuk sujud syukur di setiap nikmat yang diberikan Allah.

Alhamdulillah,. Terkadang kita lupa untuk bersyukur karena terjebak dalam rasa senang dan euforianya.

Semoga kita selalu menjadi hamba yang ingat kepada Allah, tidak hanya dalam sholat dan doa. Tapi dalam setiap kegiatan dan kebaikan yang dilakukan.

Aamiin

Ikrimmah