Pernah galau

“Iim pernah galau juga?! Masa sih? Kok bisa?”

Rentetan pertanyaan sahabat saya barusan di telepon. Sedikit kaget juga dengan pertanyaan dia. Seakan saya seorang manusia yang kaku yang terlalu tegas sehingga No galau dalam hidup. Tapi alhamdulillah juga, berarti saya sukses tidak menampakkan galau saya di khalayak ramai. Bahkan sahabat sendiri mengira saya emang udah cool dari sononya. Padahal cuman nguat-nguatin diri biar ga jadi cewe memble, menye nan lemah. haha.

Galau itu adalah pikiran kacau tidak karuan. Ini pengertian galau yang saya dapat dari kamus. Kalau di pikir-pikir saya galau itu saat diminta menjadi pemateri untuk kelas besar, saat presentasi skripsi, saat pertama kali mengajar di kelas beneran, saat interview kerja, saat memilih netap di bandung atau leave for good dan mungkin suatu saat bakal galau ketika someone yang dipilihkan Allah akan datang. Hmmm.. Kapan yaa? Nah lo, ini termasuk galau ga?

Sedikit blur sih pengertian galau. Ketika saya yang biasa jadi tempat mendengar curahan hati sahabat-sahabat saya, kemudian posisi berbalik menjadi saya yang ingin cerita panjang lebar sedikit kekhawatiran saya soal masa depan, lalu saya di cap galau. Duh, kok jawabannya ga ngasih jawaban banget. huhu.. Disitu saya pengen curhat ke Allah aja. Yang jelas-jelas ga bakal ngeledek saya galau. Tapi bakal ngasih jawaban-jawaban lewat berbagai jalan. paling ampuh sih lewat Quran.

Ketika kita di uji, hayo buka Q.S AL-Ankabuut:2

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘kami telah beriman, sedangmereka tidak di uji lagi”

Ketika kita diuji dengan hal-hal yang menurut kita baik, padahal belum tentu lho. Ayo buka surat Al-Baqarah ayat 216:

“…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Lalu bagaimana cara kita menghadapi ujian hidup ini? Lihat Q.S. Ali Imran: 200

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.

Pada akhirnya, cara terbaik untuk mengatasi pikiran kacau tidak karuan karena efek khawatir ini adalah bersabar. Jangan terlalu banyak mengkhawatirkan hal di masa depan yang belum tentu terjadi. Selalu berprasangka baik terhadap takdir yang telah Allah berikan kepada kita. Apalagi wanita, yang sering khawatir soal jodoh. Duh, nikmat Allah itu luaaaasss banget. Kemudian kita jadi kufur nikmat cuman gara-gara jodoh. Sibuk galau eh taunya umur udah kadaluarsa. Udah di panggil malaikat maut. Ga enak kan, pas ditanya malaikat munkar nankir, “ngapain aja lo selama hidup di dunia?” masa jawabannya, ‘sibuk mikirin jodoh’. Hiks..sedih banget kan, kadar iman dan taqwa kita cuman seuprit dong.

Saya sering banget nasihatin temen-temen saya yang galau. “Fokus ke diri sendiri dulu aja deh. lakukan amalan baik untuk diri sendiri sebagai amal di akhirat nanti. Saat kita sibuk dengan amalan-amalan kita, nanti akan ada keajaiban-keajaiban indah dari Allah. Percaya deh. Karena Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. ya gak?

Ikrim Maizana

Pekanbaru 7.7.2017

Cherished words #1

​From the perfection of Allah’s ihsan is that He allows His slave to taste the bitterness of the break before the sweetness of the mend. So He does not break his believing slave, except to mend him. And He does not withhold from him, except to give him. And He does not test him (with hardship), except to cure him.

Ibnu Qayyim Aljauziyah

Tentang dia

Wahai Dirimu—

Yang sekarang sedang menyebut namanya dalam doa-doa. Menyebut sebuah nama yang kedatangannya tidak pernah kau sangka-sangka sebelumnya. Yang hadirnya membuatmu bertanya-tanya : “Apa alasan dibalik Allah memperkenalkan aku dan dirinya?”
.
Aku tahu, hatimu seperti menjerit tak menyangka—apakah ia pria yang selama ini kau tunggu-tunggu kedatangannya? Apakah ia pria yang selama ini Allah jaga namanya? Apakah ia pria yang akan menggenggam jemarimu erat selamanya?
.
Dalam derasnya air mata, dalam doa-doa yang tiada pernah ada habisnya aku tahu kau meminta kepada-Nya, maka aku juga ingin mendoakanmu:
.
“Ya Allah, jika memang pria itu adalah jodoh yang Engkau siapkan untuknya, maka segerakanlah kedatangannya, yakinkanlah hati pria itu untuk meminangnya. Jika bukan, berikanlah lelaki yang lebih baik untuknya dan hilangkan perasaan cinta ini dari dirinya. Bagi Engkau amat mudah menghilangkan perasaannya semudah Engkau membalikkan telapak tangan, semudah Engkau mengatur milyaran planet di muka bumi ini. Semoga kau disegerakan menikah dengan seseorang yg dicintai oleh-Nya. Ia mencintaimu, begitu juga denganmu, mencintainya. Keluarganya menyayangimu, begitu juga dengan keluargamu menyayanginya.”
.
Untukmu, wahai wanita yang sedang menyebut namanya dalam doa—semoga memang ia, pria yang Allah takdirkan untukmu. Semoga kau, adalah akhir bahagia yang ia tunggu-tunggu. Dan semoga kau, adalah wanita yang dapat melengkapi kehidupannya dengan penuh cinta 🙂

Oleh: Nadhira Arini

Jodohmu, Cerminan Dirimu

Sudah kah kita (saya) bercermin?

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

Banyak diantara kita yang sebelum menikah, mengangankan pasangan yang kriterianya seperti ini dan seperti itu. Bagi yang telah menikahpun, pasti masih menyimpan sebuah harapan pada pasangannya. Harapan agar pasangannya seperti yang ia idamkan.

Salahkah jika kita menetapkan kriteria atau berharap pasangan saat ini sesuai dengan apa yang kita inginkan?

Tentu tidak, selama kriteria-kriteria tersebut masih dalam koridor syari’at dan apa yang ia harapkan mampu dipenuhi oleh pasangannya. Namun, bagaimana jika harapan itu terlalu tinggi hingga sulit untuk dipenuhi?

View original post 389 more words

Antara Kecewa dan Iman Kita

seorang muslim itu selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya. Saat kecewa hadir dalam perjalanan hidupnya, ia akan kuatkan imannya

Dewi Nur Aisyah

“The moment we understand that Allah’s decision is always in our best interest, everything will start to make sense”

Catatan ini merupakan hasil kontemplasi saya sore ini (hayeuh gaya yak pake berkontemplasi segala 😀 ). Berawal dari sharing kisah pergi umroh yang seolah “Allah tak izinkan”, hingga beberapa hari kemudian Allah mudahkan si adik berangkat ke tanah haram. Sama persis dengan kisah ibu saya, saat Allah mudahkan keberangkatan ayah, mama dan papa mertua saya, namun visa ibu saya tidak keluar hari Sabtu sesuai dengan jadwal keberangkatan. Lemas ia mendapat kabar bahwa belum bisa berangkat, padahal saat itu sudah siap sedia di bandara. Tentu pedih yang memenuhi hatinya saat harus melangkah pulang ke rumah, sedangkan suami dan besan-nya dapat berangkat bersama. Banyak hal berkecamuk dalam pikirannya, mulai dari beliau yang tidak bisa berangkat tahun ini, kalau pun berangkat sendirian tentu akan bingung karena tidak ada teman, apakah nanti akan nyasar, dan…

View original post 666 more words

Pendaftaran Seminar Zakir Naik

Alhamdulillah kampus saya pas sarjana dikunjungi Dr. ZAKIR  NAIK. Sayangnya saya tidak dapat hadir karena sudah tidak di kampus UPI bandung lagi. Bagi teman2 yang berkenan hadir bisa daftar dibawah ini. Saya dapat dari anak2 BEM kampus dan LDK dahulu.
[REGISTRASI PESERTA KULIAH UMUM Dr. ZAKIR NAIK]
Yang ditunggu-tunggu telah tiba! Registrasi peserta kuliah umum Dr. Zakir Naik telah dibuka! 
Silahkan buka halaman bandung.zakirnaikvisit.id/register
Sebelumnya, yuk pahami ketentuannya:
1. Ceramah ini dibuka untuk umum lintas agama. 

  1. Gratis tanpa biaya pendaftaran.

  2. Pastikan isi data diri dengan benar dan lengkap.

  3. Pendaftar minimum 17 tahun, wajib memiliki KTP atau Kartu Mahasiswa.

  4. Pendaftar berlaku untuk satu nama.

  5. Lengkapi data isian wajib (Nama, No. KTP, No. HP).

  6. Jangan hapus email e-ticket berkode khusus sebagai syarat masuk.

  7. Pastikan masuk sesuai dengan zona e-ticket.
    Yuk daftar! Jangan sampai ketinggalan!
    Dapatkan berita terbaru dari http://www.zakirnaikvisit.id


[035/KOMINFO/III/2017
Contact Us:
ID Line: @ijy9727y

Instagram: @bemremaupi

Facebook: BEM Rema UPI

Website: bem.rema.upi.edu

Twitter: @bemrema_upi
#MelesatCepat

#BerkaryaHebat

#ZakirNaik

#ZakirNaikVisitIndonesia 

#DakwahOrDestruction

#Bandung
BEM Republik Mahasiswa UPi

Kabinet Laju Reaksi

​Lelaki Tua dan Selimut

Seorang lelaki tua dengan baju lusuhnya masuk ke sebuah toko megah. Dari bajunya, kelihatan kalau lelaki tua tersebut dari golongan fakir. Para pengunjung di toko tersebut (yg rata-rata borjuis) melihat aneh kepada lelaki tua itu. Tetapi tidak dengan pemilik toko.
Pemilik toko: ”Mau cari apa pak?”, tanyanya ramah.
Lelaki Tua: ”Anu.. Saya mau beli selimut 6 helai untuk saya dan anak istri saya. Tapi.. ”, jawabnya ragu.
Pemilik toko: ”Tapi kenapa pak?”
Lelaki tua: ”Saya hanya punya uang 100 riyal. Apa cukup untuk membeli 6 helai selimut? Tak perlu bagus, yang penting bisa untuk melindungi tubuh dari hawa dingin”, ucapnya polos.
Pemilik toko: ”Oh cukup pak! Saya punya selimut bagus dari Turki. Harganya cuma 20 riyal saja. Kalau bapak membeli 5, saya kasih bonus 1 helai”, jawabnya sigap.
Lega, wajah lelaki tua itu bersinar cerah. Ia menyodorkan uang 100 riyal, lalu membawa selimut yang dibelinya pulang. 
Seorang teman pemilik toko yang sedari tadi melihat dan mendengar percakapan tersebut kemudian bertanya pada pemilik toko: 
”Tidak salah? Kau bilang selimut itu yang paling bagus dan mahal yang ada di tokomu ini. Kemarin kau jual kepadaku 450 riyal. Sekarang kau jual kepada lelaki tua itu 20 riyal?”, protesnya heran.
Pemilik toko: ”Benar. Memang harga selimut itu 450 riyal, dan aku menjualnya padamu tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi kemarin aku berdagang dengan manusia. Sekarang aku berdagang dengan Allah”.
“Demi Allah! Sesungguhnya aku tidak menginginkan uangnya sedikitpun. Tapi aku ingin menjaga harga diri lelaki tua tersebut agar dia seolah tidak sedang menerima sedekah dariku hingga bisa membuatnya malu”.
“Demi Allah! Aku hanya ingin lelaki tua itu dan keluarganya terhindar dari cuaca musim dingin yang sebentar lagi datang. Dan aku pun berharap Allah menghindarkanku dan keluargaku dari panasnya api neraka..”, 

#Sungguh, diperlukan seni dan trik dalam kita ber amal dan bersedekah tanpa membuat orang lain merasa rendah.
#Share

Dari grup NakIndonesia

Ayah ada, Ayah tiada

Ayah ada, Ayah tiada

Materi Perdana FATHERHOOD FORUM

By : Igo Chaniago
Ada beberapa paradigma berpikir para orang tua yang keliru dalam mendidik anak karena ketidakpedulian orang tua akan ilmunya ilmu parenting, atau ilmu dalam mendidik anak. Orang tua kebanyakan berpikir, anak sudah kita nafkahi, kita besarkan, dan urusan pendidikan diserahkan ke sekolah. Sehingga bisa kita lihat zaman ini, dimana anak-anak peradaban saat ini sangat jauh dengan peradaban islam dulu yang jaya. Anak-anak sekarang semakin hancur moralnya. Mulai dari kenakalan remaja, zina melalui seks bebas yang angkanya makin tinggi, tingkat aborsi kehamilan karena anak yang tidak dikehendaki makin marak, banyaknya pengangguran akibat sistem pendidikan yang amburadul, ganti menteri ganti kurikulum, adanya wacana fullday school dari menteri pendidkan yang menjauhkan bonding orang tua dan anak, bahkan survey membuktikan bahwa 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan karena kesalahan orang tua sehingga anak tidak menemukan bakatnya sejak dini.
Salah satu hal yang penting dalam pendidikan anak yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah pendidikan anak ketika di rumah atau disebut dengan home education. Hal ini sangat penting, baik bagi ayah bunda yang putra putrinya dititipkan di sekolah formal, ataupun para ayah bunda yang tidak percaya kepada sistem pendidikan negara ini sehingga memilih  sekolah non formal atau lebih dikenal dengan home schooling?
Karena home education ini pada galibnya adalah kewajiban setiap semua orang tua yang mempunyai anak. Non sence apabila ada orang tua yang mengatakan bahwa tidak bisa mendidik anak mereka sendiri sehingga dititipkan ke bapak ibu guru, dititipkan ke ustadz ustadzah di pesantren. Karena ketika Allah memberi kita amanah seorang anak, maka Allah install pula kepada orang tua kemampuan untuk mendidik anaknya. Tapi banyak orang tua yang tidak mau mengasah kemampuan mereka karena kesibukan kerja dan mencari dunia yang tak kan pernah ada kepuasannya. Bukankah di zaman Rasulullah dulu para sahabat tidak mengenal sekolah? Tapi disana terlahir para pemuda pemudi yang cemerlang karyanya?
Ada Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu dan juga penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.
Ada Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masanya
Ada Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 20 tahun.
Tapiii… sekarang kita lihat anak-anak dan pemuda zaman sekarang. Ketika umur 13 tahun, adakah yang menyamai prestasi Zaid bin Tsabit? Yang ada sekarang malah anak usia 13 tahun gandrung dengan gadget dan mengejar prestasi di sekolah untuk kebanggaan orang tuanya tanpa mengerti bakat anak sesungguhnya. Anak selalu rangking bukan jaminan ia akan sukses di masa depannya.
Kita lihat pemuda zaman sekarang yang berusia 18 tahun. Adakah yang menyamai prestasi Usamah Bin Zaid yang menjadi pemimpin pasukan perang dan membawahi Abu Bakar dan Umar bin Khatab? Yang ada malah para remaja sekarang disibukan dengan sosmed, dimabukan dengan cinta palsu dan maksiat, atau bahkan yang lebih miris lagi, dilenakan dengan rokok, miras, narkoba hingga zina yang sudah menjadi kelaziman asalkan suka sama suka?
Dan kita lihat anak-anak kita yang sekarang berusia 20 tahunan, adakah yang bisa menyamai prestasi Atab bin Usaid yang diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah? Yang sering kita lihat mereka yang berusia 20 tahunan saat ini kebanyakan seolah olah sibuk kuliah tapi sesungguhnya tidak produktif, menghabiskan waktu dengan nongkrong di café atau warung kopi pinggir jalan, berlomba-lomba bukan untuk prestasi tapi demi gengsi, trek-trekan, bikin geng motor, modifikasi motor yang buang-buang uang dan bikin pusing orang tua.
Mengapa kita harus mendidik anak-anak kita sesuai fitrah? Karena banyak orang tua yang berpikir bahwa cara mendidik anak-anaknya disamakan dengan orang tua kita mendidik kita di zaman dulu. Padahal Ali bin Abi Tholib mengatakan : Didiklah anakmu sesuai dengan ZAMANNYA. Underline kata terakhir, sesuai dengan _zamannya, bukan zamanmu._  Karena itu wajar saja orang tua zaman sekarang banyak yang pusing dalam mendidik anaknya kemudian mengeluh :
Anak zaman sekarang susah diatur, ga seperti zaman dulu!!!
Mendidik anak memang butuh ilmu. Untuk sukses menjadi dokter ada sekolahnya, untuk sukses menjadi insinyur ada sekolahnya, tapi untuk menjadi orang tua yang sukses mendidik anaknya, ga ada sekolahnya. Karena itu orang tua harus pro aktif belajar tentang ilmu parenting melalui seminar atau workshop dan juga buku2 parenting, bergabung dengan komunitas parenting untuk saling berbagi pola asuh anak dan saling menguatkan ketika malas dan lemah.
Masa yang paling fatal dalam mendidik anak adalah di usia 0-7 tahun. Banyak kasus yang terjadi dimana orang tua sangat bangga jika melihat anaknya sudah bisa macem macem di bawah 7 tahun. Bisa menulis, bisa membaca, bisa berhitung (CALISTUNG) dan juga bangga jika anaknya sudah bisa membaca quran dan hafal quran ketika di bawah 7 tahun. Padahal, sebenarnya masa 0-7 tahun adalah masanya anak-anak bermain dan lebih ditekankan pada fitrah keimanan dan pembentukan adab. Bukan diajarkan hal-hal kognitif sehingga mencederai fitrah perkembangan anak.
Kaidah LEBIH CEPAT LEBIH BAIK tidak bisa digunakan dalam konsep pendidikan anak. Karena semua ada proses dan tahapannya. Ibarat bayi kupu-kupu yang sedang berjuang keras untuk keluar dari kepompong, jika kita berniat baik dengan membantu memotong kulit kepompongnya agar si bayi lebih mudah keluar dari sarangnya. Itu artinya kita telah merusak masa depan si kupu-kupu tersebut, karena kupu-kupu yang kita tolong itu niscaya tidak akan bisa terbang. Penelitian membuktikan, bayi kupu-kupu yang berusaha keras untuk keluar dari kepompong dan membutuhkan waktu lama itu  sejatinya adalah sebuah proses untuk menguatkan otot-otot sayapnya, menguatkan adaptasi tubuhnya yang awalnya berbentuk ulat kemudian berubah menjadi kupu-kupu lewat proses metamorphosis yang penuh perjuangan. Demikian juga anak-anak kita, jika kita karbit mereka untuk menjadi unggul pada saat yang belum waktunya, justru kitalah yang menghancurkan masa depan mereka. 
Dan salah satu faktor kegagalan orang tua dalam pendidikan anak adalah karena kurangnya peran ayah untuk terlihat dalam pengasuhan anak. Dalam seminar-seminar parenting, selalu yang hadir didominasi para kaum ibu. Mungkin karena paradigma berpikir kaum bapak yang mindsetnya sebagai kepala keluarga lebih banyak untuk mencari nafkah. Sedang tanggung jawab pengasuhan anak diserahkan pada istri. Padahal banyaknya masalah kenakalan anak, aqil baligh yang tidak tumbuh secara bersamaan, remaja yang kehilangan jati diri dan orang dewasa yang tidak kunjung tahu apa bakat sebenarnya, ini semua karena ketiadaan peran ayah dan pola pendidikan ayah yang keliru dalam pengasuhan ananda.
Sejak ribuan tahun peran ayah sesungguhnya lebih dominan kepada mendidik anak, karena secara fitrah peran keayahan, para ayah melanjutkan misi hidupnya dengan mendidik sebaik baiknya keturunannya. Di zaman modern, peran keayahan digugat kembali , karena ternyata banyak kasus pada generasi yang diakibatkan hilangnya peran keayahan di rumah maupun di komunitas karena berbagai hal
Jika ayah mengabaikan pendidikan anak, maka resikonya adalah :

  1. Para Bunda dalam mendidik anak tak mendapatkan pendampingan dan saran-saran, sehingga bunda sangat mungkin keliru dalam mendidik anak dan putus asa

  2. Anak menjadi lemah pada sisi-sisi maskulinitas, seperti keberanian, ketegasan, nyali dalam pengambilan resiko, kesanggupan untuk menolak dsb. Dan anak perempuanpun butuh dimensi maskulinitas dalam hidupnya.

  3. Kurang tangguh dalam daya juang untuk menghadapi tekanan-tekanan hidup, menghadapi fluktuasi hidup dsb.
    Fathering atau fatherhood dalam banyak kajian dan riset maupun praktek adalah peran utama dan penting dalam mendidik anak. Bahkan “bermain terbaik” anak adalah bersama ayahnya bukan ibunya. Di AlQuran bertaburan kisah para ayah yang luarbiasa santun dan lembut pada anak anaknya dalam mendidik maupun dalam berdialog 

“Wahai ananda….”, “Yaa.. bunayya”…
Sepintas itu adalah panggilan lembut seorang bunda sambil membelai kepala anaknya, menatapnya penuh cinta, menenangkan jiwa, melembutkan ego dstnya. Namun, Yaa Bunayya… itu panggilan para ayah kepada anak anaknya yang diabadikan alQuran. Bukan ibu…
#fatherhoodforum

#fitrahbasededucation

​*PETUNJUK AL-QURAN DARI SEBELUM MANUSIA LAHIR SAMPAI SETELAH KEMATIAN:*

Grup NakIndonesia
1. Ketika seorang anak masih dalam kandungan: 

Q.S: Al-A’raf (7): 189
2. Tentang ASI, kesanggupan orang tua dalam merawat anak, serta musyawarah antara ayah dan ibu:

Q.S: Al-Baqarah (2): 233
3. Cara menasehati anak dalam pendidikan dini (> 2 thn) sampai baligh, bersikap pada orang tua, serta cara anak bergaul dalam kehidupan sosial:

Q.S: Luqman (31): 13-19
4. Anak mulai belajar, agar anak dapat menyerap, mengingat, dan memahami pelajaran dengan baik:

Q.S: At-Taubah (9): 122
5. Agar anak dapat berprestasi di kelas/sekolah: 

Q.S: Al-Mujadilah (58): 11
6. Agar anak terbebas dari pergaulan bebas: 

Q.S: Al-Hujurat (49): 13
7. Maka, pilihlah orang yg terbaik dan tempat yang terbaik dalam mendidik anak:

Q.S: Ali-Imran (3): 37
8. Tumbuh besar, suka dengan lawan jenis, bila serius untuk menikahinya:

Q.S: An-Nisa (4): 4
9. Terjadi pernikahan: 

Q.S: Ar-Rum (30): 21
10. Setelah pernikahan, bagaimana istri dan suami agar kompak/rukun dalam menjalani Rumah Tangga:

Q.S: An-Nisa (4): 34
11. Tugas seorang suami mencari nafkah, kalau dengan cara yg standar:

Q.S: Al-Baqarah (2): 168
12. Sudah bergerak dan rezekinya ingin cepat datang:

Q.S: Al-Baqarah (2): 172
13. Kalau belum bergerak, tapi ingin rezeki datang duluan:

Q.S: Al-A’raf (7): 96
14. Tugas istri dalam merawat anak agar tidak membantah orang tua:

Q.S: Al-Isra (17): 23
15. Apabila kita sakit:

Q.S: Asy-Syuaraa (26): 80
16. Bila sakit tersebut menjadi semakin parah/berat: 

Q.S: Al-Anbiya (21): 83-84
17. Ditimpa kesulitan/kesukaran dalam setiap perkara: 

Q.S: Al-Isra (17): 79-81
18. Ketika kesulitan itu semakin berat, seakan-akan semua menjadi gelap:

Q.S: Al-Anbiya (21): 87-88
19. Cara belajar menghadapi persoalan:

Q.S: Al-Baqarah (2): 214
20. Solusinya seperti apa dlm menghadapi masalah, agar kita dpt mempelajarinya:

Q.S: Ali Imran (3): 142
21. Belum diberi keturunan, meski usia sudah terlampau jauh: 

Q.S: Maryam (19): 4-11
22. Bagaimana doanya agar memiliki keturunan?:

Q.S: Ali Imran (3): 38-39
23. Bila kita (sebagai anak) panjang umur sampai umur 40 tahun dan org tua masih ada, cara kita terhadap orang tua:

Q.S: Al-Ahqaf (46): 15
24. Bila kita mendapatkan nikmat dari Allah SWT, syukuri: 

Q.S: Ibrahim (14): 7
25. Bila mendapatkan ujian dari Allah, bagaimana harus bersikap:

Q.S: Al-Baqarah (2): 155-157
26. Apakah kita akam hidup selamanya?:

Q.S: Ali Imran (3): 185
27. Ada yg meninggal dengan tenang:

Q.S: Al-Balad (90): 27-30
28. Ada pula yang meninggal dengan cara yang mengerikan:

Q.S: Al-Anfal (8): 50
29. Bagaimana malam pertama dalam alam kubur bagi org beriman:

Q.S: Ali Imran (3): 169-171
30. Malam pertama bagi mereka yg tidak beriman:

Q.S: Al-Mu’min (40): 46-48
31. Ada yg masuk surga tanpa hisab:

Q.S: Albaqarah (2): 25
32. Ada yg masuk neraka tanpa hisab:

Q.S: AlKahfi (18): 100-101
33. Kalau ingin surga yang dekat dengan Rasulullah SAW (Surga ke-1): 

Q.S: Ali Imran (3): 31
34. Bagi yang ingin surga yg di bawahnya lagi (Surga ke-2): 

Q.S: Az-Zariyat (51): 15-23
35. Bagi yang ingin surganya seluas langit dan bumi (Surga ke-3):

Q.S: Ali Imran (3): 133-134
36. Masuk masjid pun dijelaskan dalam Quran:

Q.S: At-Taubah (9): 18
37. Bagi yang punya mushala:

Q.S: Al-Baqarah (2): 125
38. Bila hanya memiliki mihrab saja:

Q.S: Ali Imran (3): 37-39
Insya Allah, semua fase dalam kehidupan ini telah diatur dalam Al-Quran, masih banyak yang belum tersampaikan. Wallahu A’lam Bishawab.
Diambil dari ceramah Ust. Adi Hidayat, Lc., M.A di Petunjuk Al-Qur’an dari Lahir sampai Meninggal: https://youtu.be/qJtk7oU9_L4